Sulutreview.com – Kurikulum Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar ditindak lanjuti dengan Implementasi kurikulum Merdeka sebagai bentuk fasilitasi Kemendikbudristek melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.
Semisalnya di Kabupaten Minahasa Sulawesi Utara, beberapa sekolah termasuk Sekolah Menengah Pertama mulai menerapkan kurikulum tersebut semenjak awal tahun 2023.
Kepala SMP Negeri 6 Tondano , Yurike Kotambunan mengatakan saat diwawancarai pada Selasa (14/11) dalam implementasinya, penerapan Kurikulum Merdeka dalam dilakukan dengan tiga pilihan yakni Mandiri Belajar, Mandiri Berubah dan Mandiri Berbagi.
“ Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam.
Pembelajaran akan lebih maksimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan memperkuat kompetensinya, ”
Ia melanjutkan bahwa pembelajaran berbasis proyek yang bertujuan mengembangkan soft skill serta karakter sesuai profil pelajar Pancasila.
“ Fokusnya juga pada materi esensial, sehingga ada waktu untuk pembelajaran mendalam untuk kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, ” jelasnya.
Kepsek juga bercerita bahwa, Tantangan kami disekolah adalah mendidik dengan benar anak anak didik lantaran sekitar 60 persen anak didik berstatus brokenhome dan juga ada yang hanya dititipkan kepada walinya.
Proses penerapan kurikulum Merdeka belajar juga diakuinya masih dalam tahap penyesuaian baik dari tenaga pendidik kepada para siswa.
“ Memang saat ini kami mulai mandiri Belajar yang mulai diterapkan, dan akan dilanjutkan ke mandiri berubah ” ucapnya.
Disinggung soal faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi implementasi kurikulum, ia menjawab
“ faktor yang mempengaruhi implementasi kurikulum kreativitas, kecakapan, kesungguhan, dan ketekunan guru, ” pungkasnya mengakhiri. (Cel)






