Manado, Sulutreview.com – Dalam beberapa pekan terakhir sejumlah harga komoditas seperti bawang merah, rica atau cabai dan tomat (barito) di pasar tradisional yang ada di Manado dan sekitarnya mengalami lonjakan fantastis.
Untuk bawang merah menyentuh di harga Rp80-an ribu per kilogram, rica nyaris di harga Rp100 ribu per kilogram dan tomat Rp 11 hingga 15 ribu per kilogram.
Melambungnya harga rica disebabkan oleh kelangkaan pupuk dan curah hujan yang cukup tinggi. Demikian juga dengan bawang merah, ternyata pasokan dari Enrekang dan Bima yang berkurang, turut berdampak di pasar Manado. Alhasil stok yang ada tak mampu memenuhi permintaan, sehingga harga pun bergejolak.
Menariknya, khusus untuk komoditas tomat, yang justru produksinya melimpah ikut-ikutan terkerek. Karena komoditas ini memiliki harga yang menjanjikan di sejumlah luar daerah seperti, Ternate, Halmahera dan Papua.
“Kita sebenarnya adalah produsen tomat. Tetapi harga di sekitar kita yang agak bagus ini, membuat petani-petani kita cenderung menjual ke sana. Yah ini untuk mendapatkan cuan lebih. Sehingga perlu diantisipasi jangan sampai ada penimbunan. Petani tidak menjual sampai menunggu harga bagus. Makanya, kita optimalkan Satgas pangan,” ungkap Deputi Kepala Perwakilan Divisi Perumusan dan Implementasi Kekda Bank Indonesia Sulut, Fernando Butarbutar kepada wartawan Rabu (6/7/2022).
Lanjut kata dia, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus diaktifkan sehingga
“Kesepakatan kita adalah mengaktifkan Satgas pangan untuk memantau berapa sebenarnya produksi yang keluar itu, distribusinya apakah lancar atau tidak. Harga di petani itu berapa harga di pedagang itu berapa. Apakah ada margin yang terlalu tinggi apa nggak,” ujarnya sembari menambahkan bahwa setelah dilakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar tradisional, supply-nya diketahui turun.
“Kita tanyakan berapa pembelian kemarin dan hari ini. Dan ternyata rata-rata turun,” kata Fernando.
Diketahui sebagai komoditas yang masuk dalam kategori volatile food, yakni pangan yang bergejolak, pergerakan harga barito memang terjadi secara natural. Baik karena faktor musiman, meningkatnya permintaan menjelang HBKN, permasalahan yang tidak terduga atau bencana dan permasalahan lain yang terjadi pada masing-masing daerah.
“Demikian pula perkembangan 3 komoditas barito yang pada akhir-akhir ini secara nasional mengalami peningkatan,” ujarnya.
Berdasarkan data dari Pusat informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), sampai dengan minggu pertama Juli 2022, Rica mencapai harga tertinggi sejak 2020-2022 dengan rata-rata nasional Rp86.950, sementara bawang merah secara nasional mencapai harga Rp62.050.
“Sedangkan di Sulawesi Utara, kenaikan harga bawang merah, cabai rawit, dan tomat juga terjadi didorong oleh peningkatan harga di sentra pemasok serta tingginya harga di daerah sekitar Sulut sehingga pasokan cenderung mengalir ke Iuar daerah,” jelasnya.
“Hal tersebut tidak lepas dari kondisi cuaca yang kurang kondusif sehingga berpengaruh terhadap tidak optimainya produksi barito. Di samping itu, petani juga mengeluhkan adanya kenaikan harga pupuk yang dalam jangka panjang, tren proteksionisme dan restriksi ekspor pupuk dari Tiongkok, Rusia, dan Ukraina juga akan berdampak terhadap produksi,” imbuhnya.(srv)













