Penyintas Kanker Berbagi Cerita dan Pengalaman di RSUP Kandou

Para penyintas kanker yang telah melewati masa sulit saling berbagi cerita.(foto : Hilda)

Manado, Sulutreview.com – Menjadi penyintas kanker bukanlah hal yang mudah. Butuh kekuatan ekstra untuk bisa menerima kenyataan.

Beratnya beban yang dirasakan penyintas kanker, bukan hanya sebatas fisik namun juga secara psikis. Terlebih saat menjalani tindakan medis seperti operasi, radiasi dan kemoterapi.

Dampak yang dihadapi seperti mual, lemas serta hilangnya selera makan dan rasa sakit maupun proses mastektomi atau pengangkatan payudara bagi penderita kanker payudara hingga rambut yang rontok, akan membutuhkan daya juang dan semangat yang tinggi untuk melewatinya.

Adalah Ayu Suwandi (45), yang telah tiga tahun sembuh menceritakan pada penderita kanker bahwa pada tahun 2018 dirinya harus melewati pengangkatan payudara, selanjutnya masuk tahapan kemoterapi dan radiasi.

“Waktu saya divonis kanker payudara stadium III b pada usia 42 tahun. Hal ini tak pernah terpikirkan, sampai kemudian saya harus melewati tahapan kemoterapi dan radiasi,” ujarnya saat berbagi cerita dan membangkitkan semangat hidup penyintas kanker di Hari Kanker Sedunia di ruang Onkologi Radioterapi RSUP Prof RD Kandouw pada Jumat (04/02/2022).

Ayu yang kala itu sebagai pelayan Tuhan sempat bertanya kepada Tuhan, mengapa dirinya dapat kanker. “Apa yang kurang dari saya, saya melayani Tuhan tetapi kenapa saya dapat sakit kanker,” kisahnya sembari menambahkan bahwa untuk menghadapi penyakit ini, perlu kesabaran dan keikhlasan.

“Harus belajar bersahabat dengan penyakit ini, dengan begitu akan memudahkan saat menjalani kemoterapi maupun radiasi,” tukasnya.

Ayu mengaku bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mengerti dan peduli akan keadaannya.

“Tuhan megirimkan orang dekat yang mendukung dan mensuport saya sehingga dapat menjalaninya. Terutama saat mual dan rasa mau mati dan kehilangan bagian tubuh, rambut rontok ada kekuatan yang diberikan. Tuhan punya cara untuk membangkitkan semangat sehingga saya bisa melewatinya,” urainya.

“Ketika saya mengalami kanker saya bisa mengalami Tuhan. Hidup saya adalah tujuan Tuhan. Ketika saya susah Tuhan berikan kekuatan. Dan kalau saat ini saya dinyatakan sembuh ini adalah tentang kasih Tuhan yang menjadi perjalanan iman,” imbuhnya.

Senada disampaikan Adriana Pongayow, yang sebelumnya menderita kanker serviks, kini telah 5 tahun sembuh.

Semula dirinya minum herbal selama dua tahun, dan ternyata setelah diperiksa sudah stadium IV.

“Namun modal yang utama adalah tetap semangat, bersahabat dengan sakit. Karena hidup dan mati bukan karena penyakit. Jalani saja pengobatan, tidak usah dengar dengan apa yang disampaikan di luar sana. Tak kalah pentingnya adalah jaga pola pikir,” beber Adriana.

Acara yang dikemas apik dan penuh kekeluargaan di Hari Kanker Sedunia ini, dilaksanakan oleh Instalasi Onkologi Radiasi RSUP Prof RD Kandou.

Selain mendengar berbagai pengalaman para survivor, Dokter Spesialis Obstetri & Ginekologi dr Joel Laihad SpOG-K mengatakan bahwa penyintas kanker adalah pejuang tangguh.

Dia berharap para penyintas tetap memiliki semangat serta pantang menyerah untuk meraih kesembuhan.

“Saat ini di RSUP Kandou telah dilengkapi dengan peralatan perawatan, mulai dari bedah, kemoterapi hingga radiasi sudah dapat dilaksankaan di Manado,” sebutnya.

Sementara itu, disampaikan Spesialis Onkologi Radiasi RSUP Prof RD Kandou, Dr Enrico Napitupulu Sp.Onk.Rad, sebagaimana tagline dari Hari Kanker Sedunia adalah, close the care gap. Yakni, tidak ada kesenjangan pelayanan kanker di Indonesia.

“Di Manado tepatnya di RSUP Prof RD Kandou peralatan lengkap sudah dipersiapkan sejak 16 Oktober 2016 lalu. Sehingga penanganan kanker dapat dilakukan secara optimal,” katanya.

Diungkapkan Dr Enrico, kegiatan Hari Kanker Sedunia diperingati secara rutin setiap tahun. “Bahkan di masa pandemi kami ingin memberikan sumbangsih kepada penyintas kanker. Dengan mempertemukan pasein radiaso dengan para penyintas yang sudah melewati masa sulit. Mereka bisa memberikan semangat dan energi positif kepada para penderita kanker yang menjalani radioterapi,” urainya.

Kepada media, Dr Enrico menjelaskan untuk yang menjalani radiasi, persentase pasien tiga terbanyak di Onkologi Rasiadi adalah leher rahim (serviks), diikuti kanker payudara dan kanker nasofaring.

Di sisi lain, dalam memberikan layanan perawatan, Dr Enrico mengingatkan jajarannya untuk memperlakukan penyintas kanker dengan baik dan ramah. “

“Pasien jangan dibentak. Karena begitu diagnosa kanker yang terbayang adalah kematian. Karena itu berikan layanan yang baik sehingga pasien dapat melewati pergumulan dengan sukacita,” kuncinya.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *