Bitung, Sulutreview.com– Suara dentuman ledakan akibat Blasting oleh pihak Perusahaan Tambang Emas PT Meares Soputan Minning (MSM) dan Tondano Nusa Jaya (TTN) di wilayah Bitung, nampaknya terus menghantui sebagian warga, di Kelurahan Pinasungkulan di Kecamatan Ranowulu.
Betapa tidak dari penelusuran oleh sejumlah awak media di wilayah Linkungan 1 Kelurahan Pinasungkulan beberapa warga disana, mengaku sangat ketakutan jika blasting PT MSM/TTN mulai berbunyi.
Tak hanya nyanyian bunyi dentuman saja, akan tetapi goyangan tanah pun ikut terasa bak di wilayah medan perang dunia kedua.
Tak heran, akibat dentuman bunyi Blasting ini. Membuat warga ketakutan dan was- was karena dampaknya bakal berujung pada bencana alam seperti longsor yang bisa-bisa rumah mereka pun bakal retak dan runtuh.
Diduga getaran dari bahan peledak ini, digunakan untuk eksploitasi lubang (pit_red) Alaskar membuat puluhan rumah mengalami kerusakan retak didinding.
Sejumlah wartawan pun, mendekati salah satu rumah milik Ibu Olvi Kaunang (55) warga Kelurahan Pinasungkulan saat ditemui sejumlah wartawan, Sabtu (11/12/2021) pekan lalu.
Olvi mengaku, akhir-akhir ini merasa resah dan takut, sewaktu-waktu terjadi bencana tanah longsor saat hujan deras mengguyur.
Dia juga berharap, pemerintah untuk melakukan kajian ulang mengenai kondisi permukiman mereka setelah aktivitas blasting yang dilakukan hampir setiap hari oleh PT MSM/TTN.
“Beberapa hari lalu 1 rumah jadi korban longsor. Maka dari itu saya harap pemerintah melakukan kajian ulang terkait struktur tanah yang masyarakat tinggali. Jujur saya takut sewaktu-waktu terjadi longsor atau tanah amblas,” ujarnya.
Menurut Olvi, suara ledakan dan getaran yang dirasakan warga seperti tinggal di medan pertempuran. Bahkan, kata dia, empat petak dinding rumahnya retak akibat getaran.
“Biaya ganti rugi dari perusahan hanya Rp 400 ribu per bulan, tak sebanding dengan kerusakan rumah,” katanya sembari menyatakan hak asasi masyarakat sudah dirampas perusahan.
Apa yang disampaikan Olvi tidak ditampik Kepala Lingkungan I Kelurahan Pinasungkulan, Wilsen Tumbel.
Wilsen mengakui jika Kelurahan Pinasungkulan saat ini sudah tidak nyaman lagi untuk ditinggali karena aktivitas pertambangan.
“Sudah tidak terhitung kami melalukan pertemuan dengan pihak perusahaan, tapi tetap saja dampak blasting tetap dirasakan masyarakat,” kata Wilsen.
Upaya memasang papan pengumuman serta pengeras suara untuk mengingatkan masyarakat soal jadwal blasting, kata dia, tetap tidak membawa pengaruh apa-apa.
“Makanya saat ada isu relokasi, masyarakat setuju asalkan ganti rugi lahan serta lokasi sesuai dengan harapan,” katanya.
Selain suara blasting, aktivitas alat berat di pit Alaskar setiap malam sangat menggangu. Belum lagi lalu-lalang kendaraan besar di pemukiman yang juga sangat mengganggu.
“Semoga Pemkot dan pihak perusahaan segera menemukan titik terang agar kami bisa hidup tenang setiap hari seperti warga lainnya di Kota Bitung tidak terganggu dengan suara ledakan dan alat berat,” jelasnya.
Secara terpisah, salah satu Humas PT MSM/TTN Sinyo Rumondor saat dikonfirmasi wartawan mengatakan bahwa memang untuk wilayah linkugan 1 belum masuk pada agenda Expansi Perusahaan. “Iya kami baru akan merelokasi di wilayah Lingkungan 2 Pinasungkulan. Lingkungan lain belum,” singkatnya melalui ponsel yang mengaku masih sibuk di wilayah Semeru lokasi bencana.(zet)













