Pemkot Bitung Diwarning Jangan Sampai Ditipu Soal Ganti Rugi Lahan Pinasungkulan

IMG-20210818-WA0009

Bitung, Sulutreview.com– Ekspansi PT MSM/TTN di sebagian wilayah Kelurahan Pinasungkulan Kota Bitung Sulawesi Utara (Sulut), terus saja menjadi momok pembicaraan warga di sejumlah pemberitaan di media masa siber digital saat ini.

Tak heran disejumlah group media sosial di Kota Bitung terus saja diberondong hujan pemberitaan hampir setiap hari yang mengkritisi akan persoalan ekspansi tambang emas tersebut agar tidak ada yang dirugikan apalagi warga di wilayah Pinasungkulan.

Bacaan Lainnya

Tak puas mendengar setiap sejumlah pendapat tokoh-tokoh Adat dan pihak Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Membuat sejumlah awak media di Kota Bitung pun langsung bergerak secara serius mendalami hal ini, dengan turun ke titik lokasi yang akan menjadi wilayah ekpansi dari pihak PT MSM untuk mendengar aspirasi warga maupun pemantauan secara langsung.

Salah satu warga Pinasungkulan Julius Emor mengatakan, bahwa pihak Pemerintah Kota Bitung agar dapat berhati-hati dalam hal ganti rugi ini lahan. Sebab menurutnya pada pengalamanya pada tahun 2018 silam, lahan miliknya yang berseberangan dengan lahan milik Opa Piet di lubang tambang araren, sempat digilas alat berat pihak PT MSM sehingga membuat 80 pohon kelapanya hancur berantakan.

Kebenaran akan ceritanya ditunjukan dengan sebuah foto copy sertipikat tanahnya. “Kejadian ini tahun 2018. Saya sudah bolak balik ke management PT MSM namun tidak juga ada jawaban pasti untuk ganti rugi,” katanya.

Makanya Julius me-warning kepada pihak Pemkot Bitung, agar dalam proses ganti rugi harus benar-benar dikawal secara maksimal.

“Sebab saya sudah pernah ditipu. Untuk itu saya sudah tidak percaya lagi kepada pihak PT MSM atas kejadian yang saya alami. Kalaupun ada itikad baik, kembalikan saja pohon kelapa saya yang sudah rusak,” katanya.

Terkait pengukuran lahan yang sudah intens dilakukan pihak Pemkot Bitung. Julius malah mengatakan bahwa pihaknya tidak percaya. “Jangan sampai kejadian saya terjadi lagi yang ujungnya bukannya menguntungkan warga atau pemilik lahan namun dirugikan,” celetuknya.

Salah satu Humas PT MSM/TTN Sinyo Rumondor saat dikonfirmasi wartawan, mengatakan bahwa soal ada warga di Pinasungkulan yang mengatakan lahanya belum diganti rugi. “Itu bukan tanah melainkan hanya pohon kelapanya,” katanya.

Saat ditanya terkait warga Pinasungkulan yang masih pesimis soal ganti rugi lahan. Sebab jangan sampai warga tidak diuntungkan. Menurut Inyo hal itu tidak berlaku bagi pihak PT MSM/TTN. “Apalagi saat ini pihak Tim Pemkot sudah melakukan pengukuran lahan yang akan direlokasi di Pinasungkulan,” katanya.

Wartawan pun terus bertanya lebih dalam, soal pengukuran pihak Pemkot yang tidak digabungkan dengan pihak Perusahaan PT MSM/TTN. Apakah ada pengukuran lagi dari pihak perusahaan MSM.

“Tidak demikian memang kami sudah bekerjasama dengan tim Pemkot Bitung untuk pengukuran lahan,” katanya.

Ditanya berapa besaran luas tanah yang sudah fix akan dilakukan proses pembayaran ganti rugi. Dan apakah benar kabar berhembus harga tanah berkisar 25 juta per meter.

“Soal luas lahan kami belum tahu, sebab sampai saat masih dalam proses pengukuran. Dan terkait harga jual per meter yang saya tahu bervariasi,” katanya.

Sementara itu Assisten 1 Pemkot Bitung saat dikonfirmasi mengatakan jika pemkot tidak mungkin dibodohi oleh pihak PT MSM karena ini adalah instansi resmi dan jangan lupa, bagian Hukum dari Pemkot Bitung saat ini adalah orang Kejaksaan yang diperbantukan ke pemkot sehingga hal ini akan sulit dilakukan oleh siapapun.

“Tapi tentunya sebagai perusahaan yang besar hal itu mustahil dilakukan PT MSM, intinya nanti kami akan pertanyakan persoalan warga itu kepada pihak PT MSM dan jika menyangkut warga Pak Wali sering ingatkan kepada saya untuk segera mencarikan jalan keluar jika ada persoalan dengan warga,” ungkap Ondang.

Ondang sendiri mengaku berang jika ada lahan warga yang diserobot perusahaan dan belum dilakukan pergantian. “Oh ini perusahaan tambang jadi harusnya diganti, kan kasihan jika sudah 3 tahun dan belum ada pergantian. Banyak uangnya jika pohon kepala itu masih produktif,” kata Ondang.

Diapun berjanji akan mempertanyakan hal ini kepada pihak Perusahaan. “Saya akan bicara dengan perusahaan akan persoalan ini,” tutup mantan kadis Pendidikan Bitung.(zet)

banner 300x250