Gigih Bergelut Uap Panas Bumi Lahendong

Area unit 5 dan 6 PGE Lahendong. Foto : Hilda Margaretha

Oleh : Hilda Margaretha

KEPULAN uap putih yang melingkari area Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong, menjadi pemandangan akrab bagi para Pertamina Wira (perwira), yakni sebutan bagi pekerja Pertamina yang siang malam berkutat mejaga dan mengawasi operasional sumur unit 5 dan 6 yang terletak di Kecamatan Tompaso Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Fasilitas penting milik Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lahendong berkapasitas 2×20 MW yang kemudian dimanfaatkan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk didistribusikan ke masyarakat luas tersebut, tak lepas dari peran dan kerja keras para perwira yang menjalankan tugas kesehariannya dengan mengedepankan disiplin yang tinggi serta semangat yang tak pantang menyerah.

Mereka yang bertugas di lokasi di PLTP Lahendong berisiko megalami cedera yang diakibatkan oleh berbagai kecelakaan kerja, bahkan dapat berujung pada kematian, seperti kebocoran pipa yang bertekanan kuat, licinnya lokasi balong yang meluber karena curah hujan yang tinggi hingga potensi paparan gas Hidrogen Sulfida (H2S).

Kendati belum pernah terjadi kecelakaan fatal di lokasi PLTP Lahendong, namun berbagai upaya proteksi dengan mengacu standar operasional prosedur (SOP) mutlak diterapkan dalam menjalankan tugas dan aktivitas para perwira di PLTP Lahendong. Intinya pada saat bekerja, aspek safety atau keamanan kerja yang tinggi adalah nomor satu. Harapannya, agar berbagai insiden kecelakaan dapat diminimalisir.

Supervisor Shift Production PLTP Lahendong Unit 5 dan 6, Wigar Ridwanto mengungkapkan ada enam pekerja dalam satu group yang secara rutin mengawasi running peralatan, baik melalui central control room (CCR) dan pemantauan aktivitas sumur yang dilakukan secara bergantian atau shift.

Mereka adalah Abdullah Syarif, Yogi Nirwansyah, Okte Pangemanan, Leonardo Wajong, Jerry Nelwan bersama perwira lainnya telah menyatu dengan alam pekerjaan yang mengeksplorasi uap menjadi energi.

Kegigihan dalam mengemban tugas telah merasuk dalam jiwa mejadi lifestyle atau gaya hidup yang pantang untuk dikeluhkan. Tujuannya, agar pekerjaan yang dilakoni berdampak bagi perusahaan, terutama dapat menghasilkan uap sebagai energi penerangan yang dapat bermanfaat bagi kelangsungan hidup khalayak.

Physichal briefing, sebutnya, akan dilakukan sebelum bekerja maupun setelah selesai bekerja. Sekiranya terdapat operator yang menghadapi masalah, harus diselesaikan terlebih dahulu. Karena saat bekerja dibutuhkan konsentrasi penuh. Jangan sampai masalah yang dihadapi mengganggu pekerjaan yang membahayakan keselamatan.

“Pembangkitan 5 dan 6 di PLTP Lahendong sampai saat ini aman. Dalam hal pekerjaan sehari-hari, konsentrasi adalah modal utama. Kalau kita tidak fokus bisa fatal akibatnya. Salah running pompa saja tangan bisa kena putaran motor. Demikian juga saat isi solar, kalau sampai luber akibatnya juga berbahaya. Jadi yang pertama adalah konsentrasi dari awal masuk kerja sampai pulang. Kalau punya permasalahan kita diskusikan. Jangan kita bawa dalam bekerja, bisa berbahaya,” tegasnya.

Bahaya lain yang menjadi tanda awas adalah saat mengontrol pipa. Pekerja wajib mengenakan alat perlindungan diri (APD). Mengingat pipa-pipa itu saling terhubung satu dengan lainnya, dan kalau sampai bocor hal itu akan menyebabkan tekanan yang hebat.

“Jika ada pipa sambungan atau pipa plank to plank bocor karena pressure atau tekanan, maka akan memunculkan kekuatan tinggi, sehingga kalau sampai mengenai tubuh bisa fatal. Air saja dengan tekanan yang tinggi bisa mematahkan baja. Nah, ini uap juga bisa,” kata Wigar.

Khusus untuk pengecekan sumur injeksi, pekerja yang bertugas sudah dibekali dengan perlegkapan gas detector yang akan berbunyi ketika lokasinya keberadannya terdapat H2S, maka tindakan yang dilakukan adalah menyelematkan diri dengan mencari tempat yang lebih tinggi dan menghindari atau membelakangi arah angin. “Hal penting yang harus diingat tidak boleh tiarap. Kalau sampai terjadi kebocoran gas carilah tempat yang lebih tinggi,” tukasnya sembari menambahkan bahwa seluruh area PLTP adalah rawan dan rentan. Sehingga sinergitas kerja antar operator, sangat diperlukan. Terutama untuk melaporkan setiap perkembangan. 

“Betapa pentingnya sinergitas bekerja. Seluruh perkembangan yang abnormal harus cepat disampaikan. Antara lain saat memeriksa peralatan seperti travo yang harus rutin dicek, jangan sampai meledak. Khusus untuk bekerja saat cuaca hujan, juga harus dihindari. Jangan melakukan monitoring. Demikian juga di lokasi balong itu sangat licin dan berbahaya, harus mengenakan sepatu karet,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi kebisingan akibat kerja mesin,  yang juga sangat berisiko bagi kesehatan telinga. Maka sebagai antisipasi para perwira dilengkapi dengan APD.

Berikut APD yang digunakan para pekerja yang meliputi pelindung kepala, pernapasan, mata, pendengaran, pakaian pelindung torso, pelindung tangan dan pelindung kaki.

Perlindungan kepala penting untuk melindungi terhadap pukulan atau benturan. Selain itu rambut  kepala tidak boleh mengganggu aktivitas.

Perlindungan mata, akan melindungi mata dari debu, kotoran, sinar yang berbahaya, dan serpihan partikel yang terbang.

“Semua pekerjaan ada risiko dan ada tantangan tersendiri, kalau kita saat ini, bergelut langsung dengan bahaya setiap hari. Kuncinya adalah bekerja secara maksimal dengan menerapkan health, safety, security and environment (HSSE),” urainya.

Baik Wigar dan 23 perwira lainnya yang ada di area PLTP Lahendong mengaku sangat bangga dapat bekerja di tempat tersebut. “Iyah, kami sangat bangga dapat bekerja di PLTP Lahendong . Meski harus bergelut dengan uap dan bahaya, tetapi apa yang dihasilkan adalah untuk memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat,” tukasnya.

Lebih jauh, dia menyampaikan operasional PLTP Lahendong yang telah menyokong kelistrikan Sulawesi Utara sebesar 2×20 MW, tanpa harus meninggalkan limbah. Karena PLTP mampu mengurangi emisi gas buang karbondioksida, dengan demikian dapat menciptakan lingkungan yang bersih dari emisi dan polusi.

“Dari sisi limbah tidak ada, selanjutnya mampu mengurangi emisi, karena kita hanya ambil uap dari perut bumi. Berbeda dengan batu bara. Uap panas bumi jauh lebih mengedepankan green energy,” sebutnya.

Tulang Punggung Ketenagalistrikan

PLTP Lahendong berkontribusi menjadi tulang punggung ketenagalistrikan di Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo. Hal itu merupakan jawaban dari komitmen Indonesia dalam pengembangan energi terbarukan, sebagaimana pernyataan Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia akan menurunkan emisi sebesar 29 persen, sampai tahun 2030 mendatang, dengan geothermal sebagai salah satu kontributor terbesar.

PGE area Lahendong sendiri untuk operasional lapangan mencakup wilayah Kecamatan Tomohon Selatan Kecamatan Sonder, Kecamatan Remboken dan untuk wilayah Tompaso mencakup Kecamatan Tompaso, Tompaso Barat, Langowan Utara dan Kawangkoan.

PLTP Lahendong yang meghasilkan energi baru tebarukan (EBT) ditopang oleh 6 unit yang berkapasitas 120 MW, masing-masing tersebar di unit 1 sebesar 20 MW, unit 2 sebesar 20 MW, unit 3 sebesar 20 MW, unit 4 sebesar 20 MW dan unit 5 & 6 sebesar 2×20 MW.

Kontribusi PGE area Lahendong, untuk kapasitas terpasang unit 1 sampai 6 sebesar 120 MW atau 21,33 persen dari kapasitas terpasang Sulawesi Utara dan Gorontalo sebesar 562,62 MW.

Berdasarkan catatan data, beban puncak listrik di wilayah Sulawesi Utara sebesar 319 MW, di mana pembangkitan rata-rata PGE sebesar 97,5 MW. Dengan demikian kontribusi PLTP PGE area Lahendong sebesar 30,6 persen.

Senior Supervisor Government & Public Relation Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Lahendong, Bagus Dimas Wibisono menjelaskan energi panas bumi sangat ramah lingkungan. Di mana proses operasional tenaga panas bumi bebas dari emisi. ”Energi panas bumi tidak akan menyebabkan tejadinya pencemaran terhadap lingkungan. Sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi tidak memanfaatkan bahan bakar minyak yang memicu tejadinya polusi udara,” kata Wibisono.

Dia mengungkap untuk operasional PLTP Lahendong, menggunakan sistem single flash steam, di mana uap dipisahkan dari fluida di reservoir panas bumi Lahendong, berkarakteristik fasa uap dan air. Reservoir panas bumi berisikan air yang tersimpan selama jutaan tahun, untuk mengambil energi panas bumi tersebut maka dilakukan pengeboran. 

Selanjutnya, fluida panas bumi dari reservoir mengalir dari kepala sumur menuju separator untuk memisahkan uap dan brine, uap akan dialirkan ke scrubber dan brine atau air akan dialirkan ke sumur reinjeksi. Kemudian uap dialirkan ke scrubber yang berfungsi untuk memastikan uap bersih dari kandungan material dan air.

“Setelah dari scrubber uap menuju turbin dan memutar turbin, putaran turbin diteruskan ke generator untuk merubah energi potensial mejadi energi listrik dengan tegangan 11 KV, setelah itu listrik dialirkan ke travo untuk dinaikkan tegangannya ke 150 KV, setelah itu listrik dikirimkan ke jaringan 150 KV milik PLN untuk didistribusikan ke masyarakat,” urainya.

Semangat Perwira di Tengah Pandemi

Kendati menghadapi tantangan berat di masa pandemi Covid-19, namun tidak menyurutkan semangat dan energi untuk saling membangun sinergitas, sehingga seluruh pekerja tetap dapat menjalankan pekerjaan dengan aman dan nyaman.

“Selama pandemi, seluruh perwira wajib mematuhi protokol kesehatan tidak boleh diabaikan, dengan tetap menerapkan aspek HSSE. Semangat harus tetap menyala untuk memberikan energi bagi masyarakat,” ujar Wibisono.

Pengabdian para perwira dalam pengembangan energi panas bumi merupakan komitmen PGE untuk menghasilkan potensi energi yang ramah lingkungan, khususnya energi panas bumi karena sifatnya yang baru terbarukan.

Wibisono menambahkan selama pandemi, PGE menunjukkan kepedulian yang besar kepada masyarakat sekitar yang terdampak secara ekonomi. “Sebagai sesama yang saling memperhatikan dan peduli PGE Lahendong menunjukkan rasa empati yang mendalam dengan menyalurkan berbagai bantuan kepada masyarakat yang terdampak yang berada di sekitar operasional panas bumi maupun kantor yang berada di Tomohon,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *