Harga Rica Anjlok, Manado dan Kotamobagu Deflasi 0,31 Persen

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Arbonas Hutabarat
IMG-20210818-WA0009

Manado, Sulutreview.com – Anjloknya sejumlah komoditi cabai (rica) dan bawang merah telah memberikan kontribusi deflasi sebesar 0,31 persen.

Manado dan Kotamobagu pada September 2021 alami tekanan inflasi, di mana Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali mencatatkan penurunan.

Bacaan Lainnya

IHK Kota Manado tercatat deflasi sebesar -0,31% (mtm), lebih dalam dibandingkan deflasi bulan sebelumnya sebesar -0,27% (mtm).

Fenomena serupa juga terjadi di Kota
Kotamobagu, dimana deflasi tercatat lebih dalam yaitu sebesar -0,79% (mtm) dari -0,09% (mtm) di bulan Agustus.

Dikatakan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut Arbonas Hutabarat, secara tahunan, inflasi Manado tercatat sebesar 2,06% (yoy). Sementara inflasi tahunan Kotamobagu per September 2021 sebesar 2,30% (yoy). Inflasi tahunan tersebut menandakan bahwa tingkat inflasi di kedua kota IHK masih terkendali pada rentang target inflasi nasional 3±1% (yoy).

“Di Kota Manado, kelompok makanan, Minuman, dan Tembakau dan Kelompok Transportasi menjadi penyumbang utama tertahannya tekanan inflasi September 2021, dengan andil masing-masing sebesar -0,29% (mtm) dan -0,03% (mtm),” sebutnya.

Pada Kelompok makanan, minuman, dan tembakau, cabai rawit (rica) merupakan komoditas penyumbang utama deflasi, dengan andil -0,32% (mtm). Disusul dengan komoditas perikanan (ikan cakalang dan ikan oci) dengan total andil -0,26% (mtm), serta bawang merah dengan andil -0,07% (mtm).

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang secara rutin dilakukan oleh Bank Indonesia, cukupnya pasokan komoditas rica dan bawang merah menyebabkan harga kedua komoditas tersebut mengalami penurunan.

Normalisasi pengiriman rica dari daerah pemasok antara lain dari Gorontalo, Kabupaten Jeneponto Sulsel, Kabupaten Sigi Sulteng, dan Kabupaten Parigi Moutong Sulteng menyebabkan ketersediaan pasokan mampu memenuhi permintaan masyarakat yang belum sepenuhnya normal dalam kondisi pandemi dan pembatasan mobilitas.

Sementara itu, deflasi komoditas perikanan diperkirakan juga disebabkan oleh kondisi perairan Sulut yang kondusif sepanjang bulan September 2021 sehingga dapat menjaga pasokan tetap tersedia.

Selanjutnya, penurunan tarif angkutan udara menjadi pendorong deflasi dari Kelompok Transportasi dengan andil sebesar -0,03%. Tarif angkutan udara sempat turun di awal September walau kemudian kembali normal ditengarai karena adanya promo oleh beberapa maskapai.

Namun, Kelompok Pakaian dan Alas Kaki mencatatkan andil inflasi walau tidak signifikan sehingga menahan penurunan tekanan inflasi terlalu dalam.

Sama halnya di Kotamobagu, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau merupakan satu-satunya pendorong deflasi dengan andil sebesar -0,98% (mtm).

Sementara 10 kelompok lainnya mencatatkan
inflasi dengan total andil 0,19% (mtm). Rica, bawang merah, daun bawang, dan komoditas perikanan (tongkol dan malalugis) menjadi penyumbang utama deflasi di kota ini. Harga rica tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dengan andil deflasi sebesar -0,39% (mtm). Sementara bawang merah dan daun bawang masing-masing mencatatkan andil deflasi -0,17% (mtm) dan -0,15% (mtm).

Untuk komoditas ikan tongkol dan ikan malalugis berkontribusi sebesar total -0,22% (mtm) pada deflasi Kota Kotamobagu. Sejalan dengan kondisi pasokan di Kota Manado, kelancaran distribusi dan kondisi perairan yang kondusif merupakan faktor pasokan rica, bawang merah, dan perikanan tetap terjaga.

Adapun kelompok utama yang menahan penurunan tekanan inflasi Kotamobagu adalah
kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran dengan andil inflasi 0,10% (mtm).

“Perayaan hari raya pengucapan terutama di daerah sekitar Kotamobagu (Minahasa) ditengarai mendorong peningkatan permintaan terhadap beberapa komoditas terkait seperti kue kering berminyak yang
memberikan andil inflasi tertinggi dengan andil 0,07% (mtm) dan nasi dengan lauk,” ungkap Arbonas.(eda)

banner 300x250