Sulutreview.com – Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan, kehidupan Afghanistan mengalami perubahan total.
Seorang presenter berita, Mehr Mursal Amiri
menceritakan kisahnya, di mana dia dipaksa untuk pulang dari stasiun televisi.
Ia diancam dengan pistol dan diminta untuk tidak kembali lagi ke pekerjaannya.
Mehr Mursal Amiri dicaci maki karena penampilannya yang tak mengenakan hijab dan memakai makeup.
Mehr Mursal Amiri diminta untuk pulang dan tidak kembali ke stasiun televisi RTA di Kabul oleh Taliban.
Praktis, atas tindakan tersebut, jurnalis yang tengah membawakan acara berita pagi itu, mengkhawatirkan akan masa depan Afghanistan dan para wanita yang ada.
“Semuanya telah berubah dan menjadi lebih buruk. Demokrasi hilang dan masa depan sangat gelap, terutama untuk para wanita di negaraku,” ungkapnya seperti dilansir Dailymail.
Wanita 24 tahun ini, bercerita bagaimana tiba-tiba pasukan Taliban masuk ke dalam stasiun beritanya. Mereka bersenjata lengkap dan marah-marah kepada para atasan.
Para wanita segera diminta untuk meninggalkan gedung. “Sungguh sangat mengerikan untuk kami, saat stasiun televisi sudah diambil alih oleh Taliban. Banyak staff pria yang diusir. Ketika aku melihat TVku sekarang, aku seperti melihat masjid dengan pria-pria berjanggut bicara tentang agama dan hukum Syariah. Tidak ada yang lain, seperti wanita tidak ada di dunia ini,”
“Aku takut akan masa depan juga khawatir bicara mengenai ini. Tapi aku percaya ini adalah sesuatu yang harus aku lakukan. Afghanistan sudah berjalan jauh walaupun banyak masalah dan aku tidak bisa duduk saja tanpa membuat argumen. Aku harus bersembunyi untuk sementara dan pindah ke alamat lain berjaga-jaga jika mereka mencariku karena dianggap membuat masalah,” ujarnya.
Mehr Mursal Amiri menyayangkan hak untuk memilih cara berpakaian kini telah direnggut darinya. Wanita yang sedang kuliah jurusan hukum itu pun sempat dicaci maki tentara Taliban karena pakai makeup dan tidak berhijab. Hal itu dinilai tidak sesuai hukum Islam. Kini ia hanya bisa berdoa untuk keamanan semua orang.
Ketakutan Mehr Mursal Amiri memang bukan tanpa alasan. Selama beberapa waktu terakhir, jurnalis dan sosok-sosok penting yang juga wanita telah menjadi sasaran Taliban. Beberapa waktu lalu muncul laporan bahwa gubernur wanita di sana menghilang dan diduga ditangkap oleh kelompok tersebut.(dtc)













