Kadis Perikanan Angkat Bicara Soal Kasus Pembelian Ikan di Bitung

IMG-20210818-WA0009

Frangky Runtukahu Kadis Perikanan Bitung

Bitung, Sulutreview.com- Persoalan Perikanan di Kota Bitung yang terkuak, soal pembayaran ikan oleh salah satu Perusahaan Ikan di Bitung, yang diduga tidak sesuai kesepakatan, nampaknya terus bergelinding panas.

Pasalnya, pihak Pemerintah langsung bereaksi dengan angkat bicara soal permasalahan adanya transaksi pembayaran ikan yang tidak sesuai kesepakatan.

Sebagaimana disampaikan oleh Plt Kadis Perikanan Bitung Frangky Runtukahu bahwa soal adanya persoalan pembayaran yang tidak sesuai kesepakatan, pihaknya baru mengetahuinya lewat pemberitaan di beberapa media siber online di Kota Bitung ini.

“Ya saya baru tahu lewat pemberitaan di beberapa media memang terkait adanya transaksi jual beli ikan, kami secara teknis tidak ada akses kesitu,” katanya kepada wartawan Rabu (04/08/2021).

Apalagi salah satu Kepala Bidang soal Perikanan ini, masih sementara Isolasi Mandiri (Isoman) jadi belum bisa beraktivitas.

Kadis yang hobby Diving ini mengatakan, bahwa memang sangat sulit untuk memprediksikan harga ikan jenis malalugis kalau jumlah begitu banyak, karena sifat ikan ini kwalitasnya cepat turun.

“Saran saya seharusnya baik pembeli dan penjual ada plan A dan plan B untuk pembelian, supaya meminimalisir kejadian seperti saat ini, Tidak seperti ikan Tuna yang checker dulu baru transaksi,” katanya.

Kendati begitu, pihaknya akan mengusahakan untuk melakukan koordinasi antara penjual dan pembeli soal masalah ini.

“Ya secepatnya hal ini akan kami koordinasikan dengan kedua belah pihak untuk mediasi,” jelasnya.

Diketahui pada Rabu (04/08/2021) Sektor perikanan di Kota Bitung kembali lagi terjadi permasalahan. Kali ini, menyangkut transaksi pembayaran ikan yang diduga dibayar oleh salah satu perusahaan ikan tidak sesuai dengan kesepakatan dengan pihak penjual ikan.

Sebagaimana disampaikan, oleh salah satu Pengurus Ikan Hermina Kakalang (Ibu Olla) bahwa pihaknya merasa kecewa dengan pihak Perusahaan PT Jasa Hasil Laut yang berlokasi di Kelurahan Tanjung Merah.

Hal ini dikarenakan, kesepakatan pembayaran harga ikan yang sudah disampaikan kepada pimpinan PT Hasil Jasa Laut Bapak Hendra ternyata dalam pembayaranya tidak sesuai nota pembelian, sebab dana yang ditransfer tidak sesuai dengan harga yang tercantum dalam nota pembelian pada pembicaraan awal.

Menurut Hermina Kakalang salah satu pengurus Ikan, selaku penjual bahwa sebelumnya ada transaksi jual beli yang dilakukanya, kepada Bapak Hendra soal ikan Malalugis saat pembongkaran ikan di Aertembaga belum lama ini.

“Jadi kami telah terjadi tawar menawar harga ikan jenis malalugis dan lainya. Dan sudah ada kesepakatan melalui nota pembelian. Akan tetapi saat pihak pembeli membayar tidak sesuai harapan. Sebab jika dihitung, dari kesepakatan sebenarnya pihak PT Hasil Jasa Laut wajib membayar uang sekira Rp. 261 juta sekian akan tetapi, setelah dicek pihak pembeli hanya membayar sebesar 249 juta sekian jadi ada selisih sekira 12.000.000 yang belum dipenuhi oleh pihak PT Jasa Hasil Laut tersebut,” kata Ibu Olla kepada sejumlah wartawan.

Untuk itu, pihaknya datang ke PT Hasil Jasa Laut ini, untuk mempertanyakan, kenapa pihak Perusahaan hanya membayar 249 juta sekian padahal mereka harusnya membayar 261 juta sekian sesuai kesepakatan.

Jadi menurut Ibu Ola, bahwa Ikan ada 17 Ton sesuai nota harus dibayar 261 juta sekian, apalagi harga sudah diputuskan bersama sebelum ikan bawa ke pabrik melalui nota pembelian. Akan tetapi jumlah yang dibayarkan/ditransfer masih ada selisih 11 juta sekian yang belum dibayarkan pihak Perusahaan.

“Kekecewaan kami juga memuncak, saat di telpon Bapak Hendra pimpinan PT Jasa Hasil Laut, tidak mau mengangkat telpon juga. Makanya kami datang kesini, untuk bertemu dengan Bapak Hendra namun katanya sudah berangkat ke Jakarta,” ujar Hermina sembari bukti-bukti nota masih ada dan disimpannya.

Menurut Ibu Olla jangan sampai pihak PT Jasa Hasil Usaha melakukan hal ini kepada kalangan pengusaha ikan lainya. “Jujurlah kepada kami selaku nelayan, jangan seperti ini. Sebab diduga pihak Bapak Hendra selaku pimpinan PT Jasa Hasil Laut ini melakukan pembohongan kepada kami pihak penjual ikan, sebab dalam penjualan ikan sudah sesuai kesepakatan soal harga yang tertera dalam nota pembelian,”‘ ujarnya.

Sementara itu, Hendra selaku pimpinan Perusahaan PT Jasa Hasil Laut ketika dikonfirmasi wartawan via Ponsel, soal adanya pembayaran ikan yang tidak menemui kesepakatan, dirinya membantah soal tudingan bahwa dirinya tidak membayar sesuai kesepakatan.

Menurutnya ada sebagian ikan yang sudah gatal, sehingga pihaknya membayar sekira 249 juta. Itupun katanya sudah sesuai kesepakatan.

“Saya membayar sudah sesuai kesepakatan. Apalagi ada ikan yang kami beli ada yang gatal. Sehingga kami hanya membayar sekira 249 juta. Ini yang terakhir saya membeli kepada penjual tersebut,” katanya via Ponsel kepada wartawan.

Saat ditanya bahwa dirinya lakukan pembohongan, karena tidak membayar hasil ikan sesuai nota pembelian sehingga pihak penjual merugi sekira 11 juta sekian. Dirinya mengatakan bahwa pihaknya membayar sesuai kesepakatan.

Lebih jauh Hendra mengatakan bahwa pihaknya memiliki rekaman dalam pembayaran saat transaksi kesepakatan pembelian ikan lalu. “Kalau keberatan, silahkan lapor ke yang berwajib saya siap,” singkatnya.(zet)

banner 300x250