Berpacu dengan Maut demi Terangi Negeri

Berada di ketinggian tiang listrik ini penuh risiko. Namun tim petugas PLN bekerja bertaruh nyawa agar rumah warga tetap benderang

Manado, Sulutreview.com – Tingginya curah hujan yang disertai angin kencang, tanah longsor dan tumbangnya pepohonan menjadi pemandangan yang sangat mencekam saat terjadinya cuaca ekstrem yang berlangsung selang bulan Januari hingga Februari 2021.

Keadaan semakin menguatirkan saat sejumlah wilayah pemukiman penduduk di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) porak poranda dihantam banjir dan tanah longsor.

Informasi yang dirangkum oleh Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati, menyebutkan terdapat enam orang yang meninggal akibat bencana yang terjadi pada Senin (16/1/2021).

Selanjutnya, bencana yang sama kembali terjadi pada Jumat (22/1/2022). Kondisi ini semakin memperburuk keadaan, di mana, terdapat delapan kecamatan terendam banjir, yakni Kecamatan Malalayang, Wanea, Sario, Paal Dua, Tikala, Wenang, Tuminting dan Singkil.

Sementara Pusdalops BNPB mengungkap sebanyak 500 jiwa mengungsi.

Lokasi yang terendam banjir

Mengantisipasi hal yang tak diinginkan, pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) bertindak sigap dengan memadamkan pasokan listrik di sejumlah wilayah-wilayah yang terdampak banjir.

Langkah preventif atau pencegahan itu ditempuh supaya warga yang terkena banjir tidak tersengat listrik.

Pertimbangan keselamatan pelanggan menjadi sangat penting. Sehingga upaya pemadaman juga dilakukan pada gardu induk, gardu distribusi yang juga berada di daerah yang terdampak banjir.

Keamanan dan keselamatan masyarakat maupun petugas PLN, menjadi prioritas. Demikian juga dengan pengamanan peralatan instalasi listrik.

Tak berhenti sampai di situ, pascabencana tugas berat pun menanti. Sebab, untuk proses normalisasi dibutuhkan kerja keras. Hal ini, menjadi tanggung jawab besar PLN yang segera menurunkan puluhan personel.

Petugas PLN sigap memperbaiki jaringan di atap rumah warga

Lantas siapakah mereka yang bernyali untuk bekerja mengatasi gulita. Mereka hanyalah orang-orang biasa, namun memiliki dorongan energi yang kuat untuk menerangi negeri.

Adalah Wandi Pelengkahu (29), ayah dari satu anak, telah berkomitmen untuk menjalankan tugas dan panggilannya secara paripurna. Artinya, dirinya tak bakalan pulang sebelum semuanya beres.

Wandi menanamkan motivasi, bahwa setiap pekerjaan bukan semata untuk dinilai oleh pimpinan. Tetapi di dalam pekerjaan tersebut ada tanggung jawab. Tak heran jika kemudian Wandi mengandalkan motto ‘pantang pulang sebelum terang’. Dalam artian, seberat apapun pekerjaan yang dilakoninya wajib hukumnya untuk dituntaskan sampai setiap rumah kembali benderang.

Wandi dan 18 personel memulihkan jaringan di wilayah Manado utara

Sikap dan mental Wandi yang penuh dengan kepedulian, terlihat saat berada di lapangan. Hujan, panas, siang maupun malam. Dalam situasi dan keadaan apapun bukan halangan baginya untuk bekerja.

Kesehariannya yang gesit menaiki tangga untuk bergayut di tiang listrik, menjadi pertaruhan hidup dan matinya. Sebab, selengkap apapun alat perlindungan diri, seperti helm sarung tangan jas hujan, sepatu safety dan ban pengaman yang disiapkan serta keterampilan yang dimiliki tidak ada artinya jika Tuhan tidak beserta.

“Setiap hari saya berdoa agar Tuhan memberikan perlindungan. Sebab, apalah yang dapat saya andalkan untuk menjalani pekerjaan ini. Kemampuan saya serba terbatas,” ucap Wandi.

Untuk berada di tiang dengan ketinggian antara 7 sampai 13 meter, Wandi harus berpacu dengan maut. Karena taruhannya adalah nyawa. Sebab, kalau sampai tersengat listrik dengan tegangan tinggi, maka akan pulang tinggal nama.

Bukan hanya itu, jika lengah dan tidak konsentrasi saat menaiki tiang listrik, maka bisa saja terjatuh dan sedikitnya pasti patah tulang.

Kabel putus yang terkena longsor secepatnya diatasi

“Kalau tersengat listrik, sudah tak terhitung lagi. Tetapi puji Tuhan sampai saat ini, saya masih dalam lindunganNya,” ujarnya sembari menambahkan bahwa penyebabnya adalah human error. “Selain berdoa, unsur yang harus diutamakan adalah kelengkapan safety dan hati-hati,” tukasnya.

Wandi mengisahkan saat bencana banjir dan longsor melanda Kota Manado dan sekitarnya, keadaan kota sangat memiriskan. Namun dengan koordinasi dan kesigapan semua pihak, berbagai kendala dapat teratasi.

“Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah terus kami lakukan. Khususnya, untuk mengetahui lokasi-lokasi yang terdampak banjir. Itu penting, agar jangan sampai ada warga yang kesetrum,” tukasnya.

Pekerjaan Wandi yang penuh tantangan, tak menyurutkan langkah untuk terus melakukan pelayanan teknis (yantek), yang telah digeluti selama 11 tahun.

Bersama 18 orang personel yang bertugas di wilayah Manado Utara, daerah yang terdampak banjir disisirnya untuk dilakukan pemulihan jaringan.

Hal yang sama juga diungkapkan Tutan yang juga melakukan recovery wilayah Manado Utara. Dirinya tak gentar untuk melakukan pekerjaan yang penuh tantangan.

Dalam benaknya adalah bagaimana berupaya agar emua orang dapat beraktivitas dengan penerangan, tanpa ada hambatan.

“Meski sempat terkendala cuaca ekstrem tetapi dengan kerja tim yang baik, semua jaringan dapat kembali normal,” ujarnya.

Kuncinya untuk menjalani pekerjaan adalah keikhlasan. “Pekerjaan akan menjadi berat jika tidak ikhlas,” katanya.

Cuaca Ekstrem, PLN Berhasil Nyalakan 449 Gardu

Meski di tengah cuaca ekstrem, petugas tetap sigap menjalankan tugasnya untuk menjaga listrik tetap menyala

PLN melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Manado bertindak cepat dalam memulihkan pasokan aliran listrik di beberapa titik lokasi di Kota Manado dan sekitarnya.

Hujan lebat yang melanda Kota Manado yang mengakibatkan terjadinya banjir, tanah longsor dan pohon roboh telah berdampak pada pasokan listrik kepada masyarakat, pada Sabtu (16/01/2021).

Perbaikan gardu menjadi prioritas petugas PLN agar rumah warga kembali benderang

Pada waktu yang sama, tepatnya pukul 21.00 WITA, PLN berhasil menyalakan 208 gardu distrisbusi dan 23.088 pelanggan.
Selanjutnya, Minggu (17/01/2021) pukul 12.00 WITA, PLN telah berhasil menyalakan 449 gardu dari jumlah 599 gardu yang terdampak. Sedangkan untuk jumlah pelanggan yang terdampak yaitu sekitar 66.489 pelanggan, PLN telah berhasil menyalakan sekitar 49.839 pelanggan.

Imbauan PLN untuk Masyarakat

Menyikapi cuaca ekstrem yang masih berlangsung, PLN memberikan imbauan kepada masyarakat :

1. Masyarakat mau merelakan pohon dirabas yang mendekati jaringan PLN yang berpotensi gangguan listrik saat hujan.

2. Mematikan listrik dari Miniature Circuit Breaker (MCB), apabila ada genangan air.

3. Cabut seluruh peralatan listrik yang masih tersambung dengan stop kontak.

4. Naikkan alat elektronik ke tempat yang lebih aman.

5. Masyarakat diminta segera melaporkan ke PLN untuk penghentian Pasokan Tenaga Listrik apabila sudah terdapat Potensi Terkait Banjir yang datang untuk keselamatan masyarakat.

“PLN akan mengupayakan penormalan terlaksana dengan cepat dan berusaha mengantisipasi agar hal ini tidak terjadi kembali. PLN juga akan terus menjaga pasokan listrik tetap andal dan beroperasi secara optimal,” ungkap General Manager PLN UIW Suluttenggo, Leo Basuki.

Masyarakat dapat melaporkan potensi bahaya dan gangguan kelistrikan melalui Contact center PLN 123 yang dapat diakses lewat telepon (kode area) 123, media sosial PLN 123, dan aplikasi smartphone PLN Mobile demi kemudahan layanan kapan saja di mana saja.

Hal yang sama juga dilakukan saat hujan lebat kembali mengguyur Kota Manado, yang menyebabkan banjir di sejumlah titik, pada Jumat (22/01/2021).

Mengutamakan keselamatan masyarakat,
PLN pun bergerak cepat, mengamankan gardu dan jaringan yang terendam air sehingga dilakukan pemutusan sementara aliran listrik.

Petugas PLN dengan cepat menginventarisasi infrastruktur yang terdampak dan melakukan penormalan kembali secara bertahap.

Tim gabungan berjumlah 50 personil yang terdiri dari PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Manado Utara, (ULP) Manado Selatan, (ULP) Paniki dan (ULP) Amurang diturunkan untuk segera mempercepat pengoperasian kembali sistem kelistrikan.

PLN kerahkan kekuatan untuk memulihkan pasokan listrik

Hingga Sabtu (23/01/2021) pukul 18.00 WITA, PLN telah menyalakan kembali 801 gardu distribusi dari 805 gardu yang terdampak, sehingga hampir 89.000 masyarakat Kota Manado sudah dapat kembali menikmati listrik dan melanjutkan aktivitasnya. Daerah yang masih dalam recovery meliputi Jambore, Kampus, Kelak, Ringroad, Bethesda, Malalayang, Sario, Samrat, Bahu, Batu kota, Teling, Pumorow, RSUP Kandouw, Buha, Wori, Singkil, Malendeng, Perkamil, Banjir, Paal 4, Tuminting, Batusaiki.

Sebelum menyalakan aliran listrik, PLN telah memastikan bahwa gardu, jaringan, dan instalasi pelanggan aman. PLN melakukan inspeksi, pembersihan, pengeringan, dan pengecekan gardu distribusi yang terkena dampak banjir.

“Prioritas kami adalah keselamatan masyarakat, listrik kami nyalakan secara bertahap untuk benar-benar memastikan keamanan. Warga juga harus berhati-hati dalam menyalakan peralatan listrik yang ada di rumah, pastikan sudah benar-benar bersih dan kering,” beber General Manager PLN UIW Suluttenggo, Leo Basuki.

Salah satu tantangan PLN dalam memulihkan kelistrikan akibat banjir adalah akses menuju lokasi yang sulit untuk dilalui, sehingga diperlukan waktu lebih untuk mencapai titik gangguan dan melakukan pemeriksaan jaringan.

Untuk informasi layanan kelistrikan saat banjir warga dapat menghubungi Contact Center PLN 123 dengan cara menekan kode area dilanjutkan dengan 123, atau melalui aplikasi PLN Mobile yang dapat diakses dengan mudah melalui smartphone Android maupun iOS.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *