Manado, Sulutreview.com – Meski dibayangi pandemi Covid-19, namun perekonomian di Sulawesi Utara (Sulut) akan cepat pulih.
Alasannya, karena Gubernur Sulut terpilih Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven OE Kandouw memiliki visi yang jelas.
“Pak Olly dan Pak Steven akan membawa ekonomi Sulawesi Utara lebih baik. Karena mereka memiliki visi yang jelas untuk 5 tahun ke depan,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Arbonas Hutabarat, pada Media Briefing Kondisi Makroekonomi Sulut Tahun 2020 yang digelar di Four Points, Senin (08/02/2021).
Landasan percepatan ekonomi Sulut, yang sempat mengalami turbulensi akibat Covid-19, lanjut Arbonas akan ditopang oleh pulihnya berbagai sektor.
“Indikasinya, adanya capaian ekonomi Sulut, yang selama 5 tahun sebelumnya sangat bagus, di kisaran 5-7 persen. Nah kalau pada tahun 2020 sempat tertekan itu kan pengecualian. Karena seluruh Indonesia bahkan dunia mengalami pandemi Covid-19, sehingga menyebabkan krisis ekonomi,” tandasnya.
Arbonas mengaku optimistis, bahwa pemerintahan yang baru ini akan cepat melakukan langkah pemulihan ekonomi.
“Kita akan melihat hasilnya, ekonomi Provinsi Sulawesi Utara akan tumbuh di kisaran 4-5 persen di tahun 2021. Kita lihat necessary condition yang ditopang oleh keberhasilan vaksinasi, dengan tetap memberlakukan protokol Covid-19,” tegas Arbonas.
Terpenting, sambung Arbonas ada lima kunci arah kebijakan yang dipastikan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Sulut, yakni pembukaan sektor produktif dan aman, percepatan realisasi stimulus fiskal, peningkatan kredit/pembiayaan kepada dunia usaha, keberlanjutan stimulus moneter dan makroprudensial, digitalisasi ekonomi dan keuangan, khususnya UMKM.
“Pertanian, perkebunan dan industri pengolahan masih bertumbuh positif. Di mana sektor ini, tidak ada istilah distancing. Karena yang berdampak bagi pertanian dan perkebunan adalah bencana alam seperti Lanina yang terjadi di bulan Desember hingga Januari. Namun kami optimistis di bulan-bulan ke depan akan normal kembali,” jelasnya.
Diketahui, dalam presentasinya, Arbonas menyebut bahwa recovery perekonomian Sulut sudah mulai terjadi. Diharapkan dengan berbagai strategi yang dilakukan berikut bantuan sosial yang intens dilakukan, terutama kepada pelaku UMKM menjadi sarana yang tepat dan cepat untuk langkah pemulihan ekonomi.
Sebelumnya, perekonomian Sulut pada Triwulan IV 2020 sempat terkontraksi sebesar 2,23% (yoy) lebih dalam dibandingkan kontraksi pada triwulan sebelumnya yang sebesar 1,80% (yoy).
Konsumsi rumah tangga yang beluim optimal serta penurunan pagu belanja operasional pemerintah menyebabkan perlambatan perekonomian Sulut triwulan IV.
Selanjutnya, pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2020 (yoy) mengalami kontraksi sebesar -2,19% membaik dibandingkan kontraksi pada triwulan III 2020 yang sebesar 3,49% (yoy).
Perbaikan kinerja industri, perdagangan, pertanian dan pertambangan mendorong pemulihan ekonomi nasional.
Dari sisi pengeluaran, perbaikan konsumsi rumah tangga dan ekspor menjadi faktor pendorong berlanjutnya pemulihan ekonomi
nasional.
Sejalan dengan pemulihan konsumsi rumah
tangga, tekanan inflasi cenderung meningkat pada triwulan IV 2020. Peningkatan aktivitas sosial ekonomi masyarakat mendorong adanya peningkatan realisasi permintaan sehingga mendorong tekanan inflasi kelompok makanan minuman dan tembakau. Peningkatan mobilisasi masyarakat juga mendorong tarif angkutan udara yang cenderung meningkat terutama pada bulan November-Desember 2020
“Akibat terdampak pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi Sulut tahun 2020 tercatat sebesar 0,99% (yoy) lebih dalam dari perkiraan. Pandemi Covid-19 yang berdampak pada penurunan aktivitas sosial ekonomi masyarakat dan ketidakpastian ekonomi menyebabkan terkontraksinya konsumsi rumah tangga dan investasi pada tahun 2020.(hilda)













