Suasana pusat kota Bitung jika hujan turun. foto beritamanado
Bitung, Sulutreview.com-Ini merupakan warning, bagi Pemerintah Kota Bitung Sulawesi Utara (Sulut), agar dapat secepat mungkin memutar otak, dalam mengelola dan menata kembali akan aliran air atau drainase yang ada di Pusat Kota.
Pasalnya, sampai saat ini. Sudah berpuluh-puluhan tahun kondisi tidak lazim selalu terjadi di Pusat Kota Bitung, yang secara kasat mata ketika hujan tiba atau turun, Pusat Kota Bitung selalu saja menjadi langganan banjir atau rendaman air, terlihat diseluruh jantung Pusat Kota Cakalang ini.
Kendati demikian beberapa tahun sebelumnya pihak Provinsi Sulut telah mengadakan proyek pembangunan Drainase skala besar yaitu drainase Primer di Pusat Kota Bitung. Akan tetapi bukanya memecahkan masalah banjir dan rendaman air, malah pemandangan tersebut terus saja terjadi.
Apalagi yang memiriskan lagi, di beberapa bulan sampai Desember ini entah ini akibat dari Proyek Nasional Jalan Tol atau bukan, yang pasti dari kacamata warga jika hujan turun air berwarna kecoklatan mengalir dan merendam jantung Kota Bitung ketika hujan melanda sehingga bisa jadi merusak citra penataan dan kebersihan Kota Bitung tercinta.
Lantas? apa masalah dan juga solusi terkait banjir dan rendaman air yang terjadi di Pusat Kota Bitung bisa teratasi?.
Berikut petikan wawancara secara exclusive, dengan Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Bitung Bapak Ir Henry Sakul belum lama ini.
Sakul saat dikonfirmasi wartawan, tak menampik bahwa sampai saat ini, pusat Kota Bitung sering terjadi banjir, jika hujan tiba. Menurutnya ada beberapa faktor yang harus dilakukan, untuk mengatasi hal tersebut.
“Ya memang masalahnya aliran air di pusat Kota ini tidak ada muaranya. Sebab kalau di dekat Pasar Cita ada drainase besar itu hulunya akan melewati PT Pelindo. Akan tetapi pihak PT Pelindo enggan untuk membuka aliran air untuk menuju ke laut, karena akan terjadi pendangkalan dermaga yang imbasnya debit air di pusat Kota tidak berkurang,” terangnya.
Dengan adanya fenomena tersebut, lanjut Sakul. Bahwa jika hujan tiba ya sudah pasti aliran air, hanya berkutat diseputaran pusat kota, yang mengakibatkan sering terjadi genangan air dan banjir namun jika hujan mereda, pasti genangan air akan surut.
“Kami sudah berupaya untuk bernegosiasi dengan PT Pelindo akan hal ini, namun itu tadi, masalahnya mereka khawatir akan terjadi pendangkalan dermaga. Akan tetapi ada konsep yang akan kami ajukan yaitu pembangunan ‘Bak Retensi’ yaitu sebagai wadah resapan air di dalam PT Pelindo, namun hal ini akan segera dibicarakan kembali bersama pihak Pimpinan Kota Bitung,” jelasnya.
Jika demikian kalau ini dibiarkan dan belum ada solusinya, apakah masalah ini akan terus terjadi? yaitu pusat kota Bitung bakal terancam tenggelam, jika tidak segera masalah ini diatasi?
Apalagi, Kota Bitung sudah menyandang predikat Kota terbanyak meraih Piala Adipura yaitu sudah 14 kali meraih Piala sebagai pengakuan pusat Kota sedang terbersih di Indonesia, yang setidaknya masalah drainase di Pusat Kota wajib dan harus segera di tata secara komprehensif guna menjadikan Bitung bebas banjir dan genangan air.
Sebab jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, bisa jadi fenomena tersebut akan menjadi Pekerjaan Rumah (PR), At The First Time atau yang paling pertama bagi kepemimpinan mendatang, yang tinggal beberapa bulan lagi akan segera dilantik memimpin Kota Bitung yang tercinta ini. Hmmm kita tunggu saja. Semoga.(zet)













