Manado, Sulutreview.com – Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara (Sulut) di tengah guncangan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengalami tekanan, di mana sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS) triwulan Il 2020, saat ini, terkontraksi sebesar -3,89% (yoy).
Hal itu terjadi sebagai dampak kebijakan dari pembatasan aktivitas masyarakat, sebagai upaya mengendalikan penyebaran pandemi Covid-19.
Pertumbuhan ekonomi tercatat lebih rendah dibandingkan triwulan I tahun 2020 yang tumbuh sebesar 4,27% (yoy). Bahkan jika dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2019, tumbuh tinggi sebesar 5,8% (yoy).
Menariknya, untuk lapangan usaha pertanian dan industri pengolahan masih tumbuh positif pada triwulan II 2020 dan menahan pelambatan ekonomi Sulut lebih dalam.
Lapangan usaha pertanian tercatat masih tumbuh positif 1,47% (yoy), terutama didukung oleh kinerja sub lapangan usaha tanaman bahan pangan dan perkebunan tahunan.
Kepala Balai Pertanian Manado, Donny M Saragih mengatakan pertanian di Sulut, telah menopang ketahanan ekonomi. Bahkan ekonomi secara nasional.
“Pertumbuhan ekonomi Sulut menunjukkan tren positif dibandingkan nasional. Hal itu ditopang oleh pertanian diikuti perikanan dan perdagangan. Bahkan Sulut adalah salah satu penyumbang industri perkebunan secara nasional,” ungkapnya dalam Cofee Morning yang bertajuk ‘Bersama Media Membangun Pertanian Sulut’ di Nettizen Road Blessing Talawaan Mapanget Jumat (7/8/2020).
Akan hal ini, Saragih memberikan apresiasi atas peran pemerintah daerah. “Pemda, dalam hal ini gubernur dan wakil gubernur sangat konsen dalam membangun perdagangan dari sektor pertanian. Menyusul dibukanya perdagangan Asia Pasifik,” tukasnya sambil menambahkan jika akibat upaya ini, UMKM di tingkat petani menjadi kuat mengatasi krisis.
“Upaya dari hulu hingga hilir sudah kita lakukan, sebagai langkah untuk membangun Sulut,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulut, Novly G Wowiling mengatakan tren positif dari pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh pertanian, telah menjadikan Sulut melimpah dengan hasil pangan.
“Untuk ketersediaan pangan maupun harga di Sulawesi Utara, khususnya di tengah wabah Covid-19 relatif aman. Beras dan jagung melimpah, sehingga orang tidak lagi khawatir memikirkan soal makan minum,” ujarnya.
“Pesannya ekonomi membaik di masa pandemi, ketahanan pangan mantap dan pertumbuhan produksi pun positif,” ujarnya sambil menyebutkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) saat ini menunjukkan peningkatan.
Masih menurut Wowiling, gagasan program Marijo Bakobong, ternyata menjadi motivasi yang kuat bagi masyarakat untuk menggarap lahan. Hak itu terasa sampai di pelosok desa. “Ini menjadi bukti kesadaran masyarakat tumbuh sehingga ketahanan pangan dapat terwujud,” katanya.
Senada disampaikan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulut, Refly Ngantung meski berada pada kondisi krisis, karena dampak dari Covid-19, dan kini berada di new normal dengan mengikuti protokol kesehatan, sektor riil yang susah ditumbangkan, karena menjadi sokoguru terkuat adalah pertanian.
“Komoditas unggulan Sulut adalah kopra, meski sempat turun harga akibat pasar dunia, yakni Rotterdam sebagai pengendalinya. Namun saat ini mulai membaik. Makanya, kita alihkan perdagangan kita ke negara-negara yang berdekatan dengan Sulut, sehingga tidak jadi permainan,” katanya.
Petani, sambungnya, harus berupaya untuk melakukan diversifikasi. Dalam artian, jangan hanya puas dengan hasil kopra. “Tetapi kelapa harus dapat diolah dalam bentuk tepung dan minyak sehingga ada nilai tambah,” tandasnya.
Ngantung juga menyebutkan petani saat ini bebannya mulai dikurangi di mana pajak pertambahan nilai yang sebelumnya 10%, kini menjadi 1%.
“Hal merupakan upaya Pak Gubernur supaya nilai hasil pertanian dapat dikembalikan kepada yang memproduksi, yakni petani,” sebutnya.
Dari 406 ribu hektar lahan perkebunan, seluas kelapa 280 ha merupakan perkebunan kelapa.
“Petani harus sejahtera, tetapi jangan hanya fokus mengolah kelapa menjadi kopra. Itu hanya memanjakan petani dan pedgang. Perlu upaya diversifikasi komoditas, sehingga punya daya saing dengan keunggulan komparatif,” urainya.
“Dengan demikian produk perkebunan Sulut bisa menjadi primadona,” tambahnya.
Kepala Balai Penelitian Tanaman Palma di Manado (Balitpalma), Ismail Maskromo menjelaskan, sebagai UPT Kementerian Pertanian, pihaknya intens melakukan penelitian dan pengembangan palma, yang sampai saat ini ada 9 jenis.
“Kami berusaha menghasilkan inovasi yang menarik tentang kelapa. Perlu diketahui, kopra itu sudah dilakukan sejak dari zaman kolonial. Sehingga untuk pengembangannya, produk harus diversifikasi.
“Sasarannya adalah ke industri, jangan hanya kopra saja, makanya petani tidak punya nilai tambah,” ungkapnya.
“Kalau kelapa dijual butiran, kita perlu alternatif sebagai peluang meningkatkan hasil petani. Contohnya dengan mengambil niranya, karena dapat diolah menjadi produk gula dan lainnya sehingga nilainya bertambah.
Dia juga mentakan petani harus move on ke produk yang menjanjikan petani.
Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Utara (BPTP Sulut) Steivie Karouw mengatakan, pihaknya juga berusaha membantu petani dengan berbagai penyuluhan sehingga pertanian Sulut semakin kuat.
“Bahkan saat ini, BPTP Sulut juga melakukan pengembangan kelici unggul. Harapannya menjadi peluang baru yang juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Edwin Kindangen mengungkapkan saat ini, harga kopra di tingkat petani telah membaik di kisaran Rp6,1 sampai 8 ribu per kilogram.
Selanjutnya, untuk stok pangan ketahanannya sampai 6 bulan ke depan. Untuk kebutuhan beras, juga dilakukan operasi pasar dan pasar murah.
“Selama masa pandemi, di Sulut penggunaan beras premium meningkat,” kuncinya.(hil)













