BI dan TPID Sulut Anggap Deflasi Juli Wajar

0
81
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Arbonas Hutabarat

Manado, Sulutreview.com – Terjadinya deflasi bulan Juli 2020 di dua kota pencatatan lHK di Sulawesi Utara (Sulut), yakni Kota Manado dan Kotamobagu, dinilai Bank Indonesia dan TPID Sulut masih dalam batas yang wajar.

Kota Manado mencatat deflasi sebesar 0,30% (mtm) demikian juga Kota Kotamobagu yang mengalami deflasi sebesar -0,09 (mtm).

Dengan demikian, inflasi tahunan Manado dan Kotamobagu masing masing tercatat sebesar 0.35% (yoy) dan 1,68% (yoy), atau berada dibawah rentang sasaran target inflasi nasional 3 plus minus 1% (yoy).

Sementara itu, secara nasional inflasi bulanan tahun kalender, dan tahunan masing-masing tercatat sebesar -O,10% (mtm), 0,98% (ytd), dan 1,54% (yoy).

Dengan demikian, deflasi bulan Juli 2020 di Kota Manado Iebih dalam dibanding nasional, sedangkan deflasi kota Kotamobagu tercatat relatif sama dibandingkan nasional.

“Meskipun demikian, deflasi yang cukup moderat di Kota Manado relatif rendah di Kota Kotamobagu yang disebabkan oleh komoditas yang hampir sama tetap perlu diwaspadai sebagai antisipasi kenaikan harga bawang merah ke depan,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, Arbonas Hutabarat, pada Selasa (4/8/2020).

Deflasi yang relatif rendah di bulan Juli dan inflasi IHK di Kota Kotamobagu yang sudah mencapai 2,78% (ytd) harus menjadi perhatian bersama.

Memasuki bulan Agustus 2020, tekanan Inflasi diperkirakan akan kembali moderat ditopang permintaan yang diperkirakan akan mulai menunjukkan peningkatan seiring dengan masuknya perekonomian dalam periode transisi pandemi COVID-19 ke tatanan normal.

Sementara, deflasi sejumlah komoditas pangan yang cukup dalam pada bulan ApriI-Mei lalu berpotensi mengurangi insentif produsen untuk meningkatkan produksi, sehingga berisiko mempengaruhi pasokan dalam satu hingga tiga bulan kedepan.

“Meski demikan, masih terdapat optimisme bahwa tekanan inflasi pada bulan Agustus akan terkendali pada level yang aman dan kondusif untuk mendukung proses recovery perekonomian Sulut,” tukasnya.

Diketahui, pergerakan harga di Kota Manado sebagian besar digerakkan oleh kelompok makanan, minuman, tembakau dan kelompok perawatan pribadi serta jasa lainnya.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau pada Juli 2020 mengalami deflasi -1,07% (mtm) dengan sumbangan sebesar -0.31 %(smtm).

Bila dilihat dari komoditasnya, tekanan deflasi pada kelompok ini berasal dari penurunan harga bawang merah, bawang putih dan cabai rawit seiring dengan membaiknya pasokan.

Namun demikian kenaikan harga tomat dalam skala yang moderat cukup menahan Iaju deflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau Iebih dalam.

Di sisi Iain, di bulan Juli 2020 emas perhiasan menjadi komoditas penyumbang inflasi terbesar dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Deflasi Kotamobagu pada Juli 2020 tercatat Iebih rendah dibandingkan Manado dan relatif sama dengan nasional. lnflasi bulanan Kotamobagu tercatat sebesar -0.09% (mtm).

Penurunan IHK di Kota Kotamobagu disebabkan oleh pergerakan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau, yang tercatat memberikan kontribusi deflasi sebesar -0,2% (smtm) dari total deflasi bulanan kota tersebut.

Deflasi didorong oleh penurunan harga bawang merah, gula pasir, daun bawang dan cabai rawit.

Sejalan dengan pola penurunan harga bawang merah di Kota Manado, penurunan harga bawang merah di Kota Kotamobagu diperkirakan merupakan dampak membaiknya pasokan dari daerah produsen.

Sementara itu, kenaikan harga ikan cakalang, tomat dan kangkung menyumbang tekanan inflasi yang menahan deflasi Iebih dalam. Di tengah tekanan deflasi yang rendah, kelompok transportasi menyumbang tekanan inflasi sebesar 0,07% (smtm) melalui komoditas angkutan antar kota.(hil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here