Manado, Sulutreview.com – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membagi ilmu dan membuka wawasan jurnalis ekonomi di Sulawesi Utara (Sulut) pada Jumat (17/7/2020).
Materi apik yang disajikan Ganjar dengan judul ‘Sosial Media untuk Komunikasi Kebijakan’ menjadi kunci keberhasilan pemerintahan yang peduli kepada permasalahan warganya.
Ganjar sebagai gubernur yang pastinya memiliki jadwal padat, tidak abai bahkan tidak jaim (jaga image-red). Sebaliknya, melalui akun media sosial (medsos), dirinya siap menjawab satu per satu pertanyaan yang dilayangkan warga. Apakah itu dalam bentuk ‘nyinyiran’, kemarahan bahkan hingga makian ditanggapinya dengan bijak sampai kemudian dari permasalahan tersebut ada jalan keluarnya.
Semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang merupakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggulannya diwajibkan memiliki akun. Bahkan mutlak dengan tujuan dapat mengetahui dan merespon dengan cepat apa yang menjadi kendala pelayanan.
“Facebook adalah media yang paling gampang diikuti masyarakat. Saya menggunakan semua media sosial, termasuk instagram dan twitter hingga whatsapp. Sebab, terlalu kaku jika masyarakat akan komplain hanya mengandalkan birokrasi. Masyarakat ingin proses yang mudah dan cepat. Maka kita manfaatkan media sosial ini untuk kegiatan birokrasi,” ungkap Ganjar dalam
Webinar Digital Journalism Workshop yang mengusung topik Pemanfaatan Media Digital untuk Komunikasi Kebijakan yang Lebih Efektif yang digagas Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut.
Melalui medsos, sebut Ganjar, semua laporan masyarakat ditindaklanjuti dengan cepat. Hal ini yang perlu dilakukan bahwa birokrasi harus move on pada publikasi medsos.
“Kita harus pro aktif jangan terlalu lama menunggu. Saya minta setiap SKPD harus punya humas yang mempermudah pelaporan. Dan melalui kanal pengaduan masyarakat, harus kita manfaatkan sebagai sarana komunikasi yang efektif,” tandasnya.
Sebelumnya, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Arbonas Hutabarat menyampaikan para pewarta berita dari beragam kanal media massa perlu juga bertransformasi.
“Tentunya dengan cara-cara baru dan inovatif, agar pesan yang hendak disampaikan dapat dicerna dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat,” ungkapnya.
Diungkapkan Arbonas, menurut riset platform manajemen media sosial HootSuite dan agensi marketing sosial We Are Social bertajuk “Global Digital Reports 2020”, sekitar 175 juta atau hampir 64 persen penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan jaringan internet.
“Jumlah pengguna internet tahun 2020 ini mengalami peningkatan sebanyak 17 persen dibanding tahun 2019. Jumlah ini diproyeksikan akan terus mengalami peningkatan di tahun-tahun berikutnya,” tukasnya.
Masih dari riset yang sama, sambung Arbonas, selama tahun 2019 tercatat pengguna internet di Indonesia yang berusia 16 hingga 64 tahun memiliki waktu rata-rata selama 7 jam 59 menit per hari untuk berselancar di dunia maya.
“Hasil riset ini menunjukkan adanya perubahan gaya hidup dan komunikasi masyarakat yang telah beralih dari metode yg bersifat physical ke arah yang lebih digital. Belum lagi, penerapan new normal akibat pandemi COVID-19 akan mendorong kebutuhan transformasi ke arah digital menjadi semakin cepat dan mendesak,” urainya.
Selain Ganjar Pranowo, sesi workshop juga menghadirkan Co-Founder &CEO Katadata, Metta Dharmasaputra dan Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dengan materi Mengendalikan Ekspektasi Masyarakat melalui Media Komunikasi.(hil)













