Berbeda Rekom Menteri PUPR, Pemangku Adat Tolak Pembangunan Jembatan Tol Ranowulu

0
345

Suasana kunjungan Menteri PUPR di lokasi Aer Ujang 1 Maret 2020

Sulutreview.com
Ketua Pemangku Adat Negeri Danowudu Neltje Tengker kembali lagi dengan tegas menggaungkan pernyataan kontroversialnya dengan menyatakan menolak akan pembangunan jembatan Tol Ranowulu.

Penolakan Tengker ini bukan tanpa alasan, sebab dirinya sangat kesal dimana pada pembahasan soal pembangunan jembatan tol Manado-Bitung di mata Aerujang yang diselengarakan oleh Pemerintah Provinsi Kamis (11/06/2020) dengan mengundang berbagai pihak terkait seperti Balai Jalan, Balai Sungai sepertinya berbeda dengan rekomendasi Menteri PUPR saat mendatangi lokasi Aer Ujang lalu.

Neltje Tengker dalam rapat tersebut menyatakan, pertemuan digelar untuk konsultasi dengan masyarakat tapi kenapa masyarakat yang diundang tidak diberikan kesempatan untuk memberikan pertanyaan?

Mendengar pernyataan itu, pertemuan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan Neltje langsung menyatakan tetap menolak jembatan Ranowulu jika tidak di geser dari lokasi mata air Aerujang.

“Pernyataan Manteri PUPR Basuki Hadimuljono untuk menggeser proyek jalan tol Manado-Bitung di mata air Aerujang di Kelurahan Girian Permai Kecamatan Girian pada kunjungan sebelumnya di mata air Aerujang, menyatakan proyek tol harus di geser ke Selatan, tapi kenapa perubahan yang dilakukan hanya memperpanjang jarak pilar jembatan dan ini adalah masalah,” kata Neltje.

Dirinya juga mempersoalkan penelitian struktur tanah di tempat tersebut karena kuat dugaan para peneliti tidak langsung turun ke lapangan.

“Saya mencurigai hasil ini sudah didesign atau digunakan di tempat lain dan di salin jembatan ini,” katanya.

Menanggapi pernyataan Neltje itu, Prof Fabian Manopo, akademisi Unsrat yang membuat kajian teknis pembangunan tol di mata air Aerujang mengatakan jika dirinya yang menyusun kajian teknis namun untuk turun lapangan dilakukan oleh tim.

“Ada tim yang bekerja dilapangan mengumpulkan data nanti saya yang kelolah,” kata Fabian.

Fabian juga mengaku hanya mengerjakan apa yang diminta Balai Jalan.

“Namun sebenarnya pada prinsipnya jika saya secara pribadi menolak pembangunannya karena ada dampak dari pembangunannya,” katanya.

Apalagi tanda-tanda yang diduga kurang baik pada rapat ini bahwa pertemuan yang awalnya diseting tanpa ada sesi tanya jawab karena bersifat sosialiasi berkembang menjadi dialog tanpa ujung.

Apalagi terkesan moderator yakni Assisten II Pemprov Sulut langsung ingin menyudahi pertemuan itu.

Hadir dalam rapat tersebut Kapolres Bitung AKBP Winardi Prabowo SIK, Kapolsek Ranowulu Wayan Budhiarta dan Camat Ranowulu.(zet)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here