Dana Bansos Corona Diduga Dipotong Di Maesa Bitung, Akhirnya Bermuara Di Kepolisian

0
1550

Foto Ilustrasi

Bitung, Sulutreview.com
Dana Bantuan Sosial (Bansos) yang dikhususkan kepada warga kurang mampu yang terdampak Corona Covid-19 yang disebut saat ini Bantuan Sosial Tunai (BST) setidaknya harus dikawal oleh Pemerintah agar sampai ditangan penerima.

Akan tetapi ada juga oknum perangkat Pemerintah bermain api yang diduga memotong dana BST ini dengan dalih untuk diberikan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada atasanya yaitu Lurah yang padahal dana BST ini tidak bisa dipotong sepeserpun.

Sebagaimana yang terjadi di Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Dimana informasi diperoleh di wilayah Kecamatan Maesa ada 2 warga yang mengaku dana BST mereka diduga dipotong oleh oknum Rukun Tetangga (RT) dengan masing-masing potongan 100 ribu rupiah.

Hebatnya pemotongan dana BST ini diduga dengan dalih untuk diberikan THR kepada oknum Lurah di wilayah Kecamatan Maesa.

Kasus ini pun terbongkar luas dan kian viral ketika kedua korban penerima BST ini MN alias Marlyn dan NT alias Neltje melapor kejadian ini ke kantor kepolisian Polres Bitung yang didampingi salah satu perwakilan Aliansi Penanggulangan Covid-19 (APC-19) Kota Bitung, Rocky Oroh dan langsung diterima Kanit II Tipider Polres Bitung Selasa (26/05/2020) untuk melaporkan soal pemotongan BST sebesar Rp100 ribu dengan alasan partisipasi THR untuk Lurah melalui RT inisial EK.

“Iya memang saya saat ini telah mendampingi 2 warga penerima BST yang mana dana mereka yang harus diterima berjumlah Rp 600.000 namun diduga dipotong oleh oknum RT sebesar Rp 100.000. Dan saat ini kami sudah di Polres Bitung dan langsung ditangani Kanit II Tipider dan keduaya saat ini sementara dimintai keterangan terkait pemotongan BST sebesar Rp100 ribu,” kata Rocky.

Rocky menduga, kasus pemotongan BST dengan dalih partisipasi bukan hanya dialami oleh dua warga Kekenturan Dua tapi menyeluruh. Namun sayangnya para penerima takut untuk melapor.

“Saya mengapresiasi kepada Ibu Marilyn dan Neltje yang berani melapor serta meminta didampingi untuk membuat laporan resmi ke Polres Bitung. Harusnya ini ditiru warga penerima lainnya dan bukan malah mendiamkan praktek-praktek pungli terjadi,” katanya.

Dirinya berharap, aduan kedua warga Kelurahan Kakenturan Dua RT 13 lingkungan III itu ditindaklanjuti jajaran Polres dengan harapan praktek serupa juga terungkap dan tidak hanya sekedar rahasia umum di tengah masyarakat.

“Harus diusut dan diungkap, agar tidak ada lagi praktek-praktek partisipasi dengan paksaan dalam penyaluran bantuan sosial,” katanya.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Bitung, AKP Taufiq Arifin SHut SIK saat dikonformasi soal aduan dugaan pemotongan BST mempersilakan menghubungi Kanit II Tipiter Polres Bitung.

“Silakan konfirmasi langsung ke Kanit II,” katanya.

Sementara itu Camat Maesa Herny Posumah SSTP ketika dikonformasi wartawan Sulutreview membenarkan akan adanya dugaan kasus pemotongan dana BST. “Iya tadi sore di Kantor Lurah Kakenturan 2 sudah dilakukan rapat penyelidikan dan pembinaan yang dihadiri oleh tim Covid-19 Bitung yang dipimpin oleh Pak Franky Ladi SSTP, Yoke Senduk dan Kepala Inspektorat Ray Suak serta Lurah Kakenturan 2 saya juga terlambat hadir silahkan tanya ke yang bersangkutan untuk hasil dari rapat mediasi tentang kasus dugaan pemotongan dana BST ini,” ujar Posumah.

Secara terpisah Kepala Dinas Sosial Drs Give Mose AP MS.i ketika dikonfirmasi belum mengetahui akan kasus ini, beliau mengakui tidak ada satu pun pejabat Pemkot yang menghubunginya untuk memberikan informasi soal BST ini. “Saya belum tau soal di Maesa itu. Tapi kalau ada yang coba-coba memotong dana BST ini harus di proses hukum sebab sesuai anjuran dan aturan hukumnya dan BST ini tidak bisa dipotong sepeserpun,” ujar Mose.

Mose pun kaget ada oknum RT yang diduga main api dengan BST ini. “Jika ada oknum yang melakukan pemotongan terkait dana BST ini harus diproses hukum sebab kami saja sudah bekerja siang malam terkait data penerima BST ini tidak ada menerima dan memotong akan dana BST ini,” ujarnya.

Ditanya apakah dirinya dihubungi tim Covid-19 terkait rapat penyelidikan dan pembinaan yang dilakukan dengan pihak Lurah dan RT serta penerima yang dilakukan di Kantor Lurah Kakenturan 2 Kecamatan Maesa. Menurut Mose bahwa dirinya untuk BST ini memang dikhususkan kepada warga yang terdampak Corona. Dirinya mengaku pada rapat tersebut tidak ada yang menghubunginya.

“Saya tidak tahu, apalagi juga tidak ada satupun pejabat yang memberikan informasi terkait kasus dugaan pemotongan BST ini saya baru tahu dari anda,” tandasnya.

Sementara itu Tim Gugus Tugas Covid-19 Franky Ladi SSTP ketika dikonfirmasi akan adanya dugaan pemotongan BST ini, dirinya mengatakan bahwa telah dilakukan rapat pembinaan dan penyelidikan yang telah berakhir dengan kekeluargaan. “Sudah diselesaikan dengan kekeluargaan,” singkat Ladi via WhatsAPP-nya Selasa (26/05/2020).

Ditanya apakah uang 100 ribu yang diduga dipotong telah dikembalikan? Menurut Lady dalam rapat penyelidikan dan pembinaan ini, dana 100 ribu sudah dikembalikan karena memang tidak boleh ada perangkat yg meminta atau memotong dengan alasan apapun. “Iya masing-masing penerima BST yang katanya dananya diduga dipotong pihak RT sudah mengembalikannya,” singkatnya.(zet)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here