Manado, SULUTREVIEW
Keberadaan rumah singgah Covid-19 banyak mendapatkan penolakan warga, namun Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tak kurang akal untuk memanfaatkan sejumlah fasilitas gedung.
Salah satunya, gedung pameran Smesco Kitawaya yang terletak di Kairagi. Tepatnya depan kantor DPRD Provinsi Sulut.
Gubernur Sulut, Olly Dondokambey menjelaskan fasilitas rumah singgah itu bagian terpenting yang harus disiapkan di tengah penanganan pandemi Covid-19. Dengan demikian akan lebih mudah dalam memutus mata rantai Covid-19.
“Kita sudah siapkan semuanya, termasuk rumah singgah. Ibarat sedia payung sebelum hujan. Jangan sampai kita kebanjiran baru melakukan tindakan,” ungkap Olly Kamis (30/04/2020).
Pentingnya fasilitas rumah singgah, kata Olly sudah disampaikan ke kabupaten/kota. Namun hal ini tidak kunjung direspon.
“Saya juga sampaikan hal ini ke kabupaten/kota tetapi tidak direspon,” ujarnya.
Diketahui, sarana rumah singgah ini dimanfaatkan sebagai ruang isolasi bagi Orang Dalam Pemantauan (ODP).
Sebelumnya, Pemprov Sulut telah menyiapkan fasilitas yang tersebar di beberapa lokasi, seperti Bapelkes Malalayang (270 kamar), Kantor Diklat Maumbi (100 kamar), LPMP Pineleng (40 kamar) dan Asrama Haji Tuminting (300 kamar). Selanjutnya, RSUD Bitung (20 kamar) serta RSUD Noongan (6 kamar).
Total kamar yang disiapkan berjumlah 760. Tujuh Rumah Singgah tersebar di Kota Manado, Kabupaten Minahasa Utara, Kota Bitung, dan Kabupaten Minahasa.
Ironinya, sarana tersebut banyak ditolak warga. Karenanya, berbagai upaya pun dilakukan. Dan sebagai persiapan, sejumlah fasilitas kabarnya, tengah dibenahi.
“Rumah singgah ini diperuntukkan bagi warga Sulut yang pulang kampung. Baik lewat akses udara, laut maupun darat. Sebelum mereka pulang ke rumah, apabila dinilai perlu untuk isolasi selama 14 hari, ada tempatnya,” ungkapnya.(hil)













