Manado, SULUTREVIEW
Hari Sumpah Pemuda yang diperingati civitas Fakuktas Hukum (FH) Universitas Sam Ratulangi pada Senin (29/10/2018), dirangkaikan dengan seminar nasional yang mengusung tema ‘Memperkuat Posisi Hukum Masyarakat dalam Membela Negara Menghadapi Ancaman Militer non Militer yang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)’.
Staf Ahli Badan Intelijen Negara (BIN) RI, Dr Wawan Purwanto SH MH dalam materinya banyak menjelaskan tentang berbagai ancaman nasional yang dapat memecah NKRI
“Benturan ideologi kanan dan kiri sangat rawan dimanfaatkan sebagai proxy war. Masalah kemiskinan, ekonomi hingga lingkungan menjadi isu strategis yang dapat mengikis NKRI. Bahkan dinamika politik tahun 2019 masih akan diwarnai kampanye isu negatif komunisme, isu SARA termasuk politik identitas,” katanya.

Ancaman nasional masih dipengaruhi internal dan eksternal, perang dagang antara Amerika dan Cina yang menyebabkan dollar naik.
“Negara kita dalam situasi seperti ini masih balance. Hal itu ditandai dengan ekspor kita yang naik,” tandasnya.
Tak itu saja, maraknya penyebaran hoaks di media sosial yang juga merupakan proxy war belakangan ini turut diulas. Pasalnya hal tersebut dapat mempengaruhi stabilitas.
“Informasi bohong atau hoaks menjadi senjata ampuh yang mudah menyulut stabilitas masyarakat. Sebab suatu kebohongan jika secara terus menerus disampaikan maka akan dianggap sebagai kebenaran,” sebutnya.
Karenanya, upaya untuk menyikapi proxy war adalah dengan menegakkan hukum. Selain itu edukasi pemanfaatan internet sehat bagi masyarakat.
Lebih jauh, Danrem 131 Santiago, Brigjen TNI Josepus Robert Giri SIP MSi sempat mengkritisi sejumlah tayangan acara debat di sejumlah televisi yang menjurus pada adu domba.

Sebelumnya, Dekan FH Unsrat Dr Flora Pricilla Kalalo mengatakan sebagai warga negara pemuda dituntut untuk memahami serta dapat mengimplementasikan Pancasila.
“Landasan moral semakin terkikis, untuk itu peran pemuda dalam menghadapi era milenial yang penuh tantangan dan ancaman degradasi moral yang menggampangkan segala cara dan individualistis, adalah akibat atau pengaruh globalisasi agar dapat memahami Pancasila,” tegasnya.
“Menjadi tugas dari perguruan tinggi untuk memberikan pendidikan dan pembelajaran yang berkarakter dan berwawasan luas sehingga menghasilkan generasi penerus bangsa yang unggul dan berkualitas,” tandasnya.
Diketahui, tujuan dari seminar nasional dan FGD serta konser doa diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang ancaman militer dan non militer yang dapat merongrong NKRI yang tidak sesuai dengan Pancasila.
Turut hadir sebagai pemateri Kementerian Pertahanan RI, Kabag Bankum Rokum Sekjen Kemhan, Kolonel Sus Bambang Widarto SH MH dan Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Brigjen (Pol) Drs Mamboyng, Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Kesatuan Bangsa Kemenkopolhukam, Kolonel CHK Dr I Made Kartika SH MH.(axel)













