Manado, SULUTREVIEW
Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2018 mendatang, Fakultas Hukum (FH) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) menginisiasi kegiatan yang bertemakan tentang Wawasan Kebangsaan.
Dijelaskan Dekan FH Unsrat, Dr Flora Pricilla Kalalo SH MH, masalah kebangsaan belakangan ini telah mengalami degradasi. Bahkan ada banyak hal yang telah mengikis nilai-nilai dari ikrar Sumpah Pemuda.
“Pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang akan dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2018 nanti, kita menggagas kegiatan yang bertemakan wawasan kebangsaan. Karena seperti kita ketahui bersama ada banyak hal yang mulai terkikis dari arti Sumpah Pemuda yang sesungguhnya,” kata Kalalo dalam konferensi pers yang digelar di FH Unsrat, Selasa (16/10/2018).
Lanjut katanya, untuk maksud tersebut, bakal digelar sejumlah agenda penting melalui seminar dan Forum Group Discussion (FGD).
“Seminar dan FGD yang betemakan wawasan kebangsaan, adalah untuk mendapatkan rekomendasi yang baik. Sekaligus kecintaan terhadap bangsa Indonesia. Bahkan lebih dari itu untuk membangun dan mengedukasi karakter mahasiswa agar mereka lebih memahami dan mendalami tentang nilai-nilai luhur Pancasila,” tukasnya sambil menambahkan kegiatan itu akan dikemas apik dengan melibatkan mahasiswa, berbagai elemen masyarakat serta para penggiat.
“Selain menggerakkan kepedulian mahasiswa, kita juga akan doa bersama, dan menggelar konser pentas seni. Pada event ini akan ditampilkan karya menarik organisasi mahasiswa (ormawa) sebagai apresiasi yang bernilai intelektual,” ujarnya.
Namun sambung Kalalo, yang paling penting dari semua kegiatan adalah bagaimana mengembalikan semangat patriotisme mahasiswa, di tengah era globalisasi dan digitalisasi. Di mana mahasiswa dapat menerima dan mengirim informasi secara cepat melalui smartphone.
“Kemajuan di era globalisasi jangan sampai menjadi pemicu terjadinya konflik. Tetapi bagaimana kita membangun wawasan kebangsaan, adalah bagian yang sangat penting,” tandasnya.
Sementara itu disebutkan oleh Ikatan Alumni FH Unsrat, Risat Sanger seminar dan FGD Sumpah Pemuda akan dihadiri 11 provinsi dari wilayah Indonesia Timur, minus Sulawesi Tengah dan NTB yang terkena bencana.
“Dalam FGD akan merumuskan tema penting, yakni memperkuat posisi hukum masyarakat dalam membela NKRI dengan berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila dan tema seminar nasional yakni, memperkuat posisi hukum masyarakat dalam membela negara, maupun saat menghadapi ancaman militer dan non militer yang merongrong NKRI.
“Pada peringatan Sumpah Pemuda ini, kami akan menghadirkan enam instansi, antara lain Badan Intelijen Negara, Kementerian Polhukam, Kementerian Pertahanan, Mabes Polri, Mabes TNI Angkatan Darat untuk menjadi narasumber,” ujar Sanger.
Selain itu, kegiatan akan dirangkaikan dengan doa bersama yang melibatkan lintas agama dari enam agama, Katolik, Hindu, Budha Konghucu, Islam dan Kristen Protestan. “Kami akan melibatkan GSJA Kairos untuk doa bersama. Dengan harapan apa yang kita lakukan adalah untuk membawa kesejukan di tengah tingginya tensi politik dan intoleransi,” sebutnya.
Ditambahkan Chyntia Tumundo dari GSJA Kairos, bahwa melalui doa maka keamanan akan terjadi atas bangsa Indonesia. “Apa fungsi kita sebagai umat yang ada untuk bangsa kita, adalah berdoa bagi keselamatan bangsa dan negara. Kami datang untuk bekerja sama dan berdoa, bukan hanya untuk Kristen tetapi juga FKUB,” katanya.(eda)













