Jakarta, SULUTREVIEW
Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) 1990 – 1992, Drs Ferry Mursyidan Baldan mengatakan pemilu sebagai ajang kontestasi bakal menghadirkan ruang kompetisi bagi para peserta pemilu. Dan tak kalah menariknya adalah kontestasi para pendukung peserta pemilu, termasuk juga alumni yang tentu memiliki pilihan yang berbeda.
“‘Try out’ untuk itu sudah kita jalani saat Pilkada serentak yang lalu, kita bisa berbeda pilihan meski kadang kita tak punya hak pilih dalam Pilkada. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil untuk menjadi nilai dalam kita menjaga Silaturahmi kita,” kata Ferry dalam acara silaturahmi alumni HMI Bandung dan Jawa Barat di aula Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Minggu (22/7/218).
Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional itu mengungkapkan 3 (tiga) hal yang dapat dilakukan alumni dalam bersilaturahmi dalam konteks politik diantaranya, konteks pemilu legislatif relatif tingkat perbedaan pilihannya tidaklah terlalu tajam, maka segenap jaringan dan potensi alumni non institusional (KAHMI) bisa bergerak secara kolaboratif untuk mendukung para caleg dari alumni atau caleg di wilayahnya yang dinilai memiliki kualifikasi mampu mengoptimalkan nilai representatif sekaligus yang dapat menggerakkan fungsi-fungsi dewan.
Berikutnya membangun demokrasi yang kuat dan menghadirkan pejabat publik yang amanah, maka potensi dan jaringan silaturahmi alumni bisa menjadi energi untuk menghadirkan kepala desa (karena melalui mekamisme pemilihan) untuk menjadi navigator memajukan masyarakat sekaligus mempercepat pendidikan politik masyarakat di desa.
Selanjutnya meningkatnya kesadaran politik masyarakat di desa tentang arti hak suara mereka dalam pemilihan pejabat publik, dapat mencegah meluasnya pragmatisme pemilu. Dikatakannya dalam melakukan peran dan kiprah pada kontestasi figur (Seperti Pilkada dan Pilpres) harus ditumbuhkan kesadaran untuk hadirnya moralitas politik dalam melakukan pilihan bagi dirinya dan etika dalam memandang pilihan orang lain (khususnya sesama alumni).
“Moralitas politik dalam melakukan pilihan adalah nilai dan basis argumen dalam melakukan pilihan sebagai bagian dari Mission HMI,” tukasnya.
Namun etika politik dalam melihat pilihan Alumni lain yang berbeda adalah dengan menghormati pilihan yang berbeda tersebut.
“Kita Harus bisa menerima tanpa memberi penilaian terhadap pilihan yang berbeda dan kita juga tidak menjelekkan (black campaign) terhadap figur yang tidak menjadi pilihan kita,” tandas mantan ketua Komisi II DPR RI itu. Justru ruang interaksi dengan Pilihan figur yang berbeda harus diisi dengan berlomba menampilkan sisi baik figur pilihan masing-masing tanpa memberi penilaian,” tambahnya.
Pada sisi ini sebagai alumni HMI, akan menjadi ruang politik yang sehat dan mencerdaskan, bukan justru menjadi ruang politik yang sekedar mengekspresikan “Like and Dislike” semata.
Dan hal ini justru menyurutkan support alumni bagi kandidat pilihannya. Karena memang sudah berbeda pilihan. Pilihan tidak mungkin berubah, tapi potensi permusuhan yang mengganggu Silaturahmi pasti terjadi.
“Dukungan tidak didapatkan, orang tetap pada pilihannya dan Silaturahmi menjadi berjarak, jika tidak mau dikatakan tercederai,” kuncinya.(rizal)













