Manado, SULUTREVIEW
Peran pekerja spa, hiburan malam dan rekreasi yang ada di Kota Manado, sangat erat kaitannya dengan industri pariwisata. Karenanya, penting bagi mereka untuk dibekali kompetensi.
Tujuannya agar dalam menjalani pekerjaan yang dikedepankan adalah profesionalitas.
Menurut Kepala Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Daniel Mewengkang SE MSi, pertumbuhan pariwisata dewasa ini menunjukkan peningkatan signifikan. Hal itu tak lepas juga dari kontribusi dari para pekerja spa, hiburan malam dan rekreasi.
“Sulut ini tanahNya Tuhan. Karena itu dalam menjalankan kegiatan jangan mengeksploitasi yang lainnya. Sebab hanya akan merugikan Sulut. Tetapi bekerjalah dengan profesionalitas,” katanya pada bimbingan teknis profesionalisme bidang pariwisata yang digekar di hotel Ibis, Selasa (17/7/2018).

Sebagai ujung tombak pariwisata, pekerja spa, hiburan malam dan rekreasi kata Mewengkang wajib memiliki kompetensi dan sertifikasi profesi.
“Sebagai terapis kerjanya harus jelas. Jangan ikut daerah lain. Saat berhadapan dengan wisatawan tunjukkan cara kerja yang mengutamakan kompetensi,” tandasnya sambil menambahkan kontribusi pariwisata sangat berpengaruh terhadap perekonomian di Sulut. Ini membuktikan terobosan yang dilakukan pemerintah provinsi sejak 2016 meningkat signifikan. Bahkan pada 2017 tercatat 79 ribu wisatawan. Dan pada 2018 sudah mencapai 69 ribu dari target 150 ribu.
Lebih jauh, dikatakan Kepala Bidang Pengembangan, Kelembagaan Kepariwisataan Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Sulut, Dra Ivonne Kawatu melalui kegiatan ini, akan menghasilkan tenaga kerja yang andal dan kompeten dengan bidang kerjanya.
“Harapannya para pekerja yang telah mengikuti bimbingan teknis dapat bekerja lebih profesional. Bahkan merupakan kewajiban untuk memiliki sertifikasi kompetensi,” sebut Kawatu.

Tampil sebagai pembicara, Telly Kondoj MSi yang tidak lain adalah akademisi dari Politeknik Negeri Manado, mengedukasi peserta agar dalam bekerja dapat menunjukkan kualitas pribadi secara holistik.
“Spa adalah jasa industri pariwisata yang harus ditekuni secara profesional. Hal itu harus didukung oleh standar kompetensi, berikut lingkungan yang bersih, komukasi efektif dengan pelanggan,” ujarnya.
Senada disampaikan Andarini Sulu SPd yang juga asesor spa Bunaken mengatakan pekerja spa kerap diremehkan. Sehingga tak heran banyak yang merasa malu mengakui pekerjaannya.
“Jangan memandang rendah karena bekerja sebagai tenaga kerja spa. Sebab saat ini orang-orang sudah open mind. Makanya etitude kita harus siap. Jangan bertindak tidak sopan. Demikian juga dengan cara berpakaian dan make up,” tandasnya.(hil)













