Unesco Catat Ambon Jadi Kota Musik ke-18

Ambon, SULUTREVIEW – Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy saat jamuan makan malam dengan rombongan press gathering Koordinatoriat Wartawan Parlemen dan Sekretariat Jenderal (Setjen), anggota DPR di Rumah Dinas Walikota, Jumat malam(16/3/2018) mengatakan Sejak 2011 Ambon sudah dicanangkan sebagai Kota Musik.

Meskipun disadari betul Kota ini masih terbatas. Namun secara politis di deklarasinya. “Ternyata setelah Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif-red) dan Unesco menetapkan. Sekarang ini yang resmi ajukan kota musik itu adalah Medan, Manado, Toraja, tapi ternyata Unesco bilang Ambon dulu dijadikan sebagai kota musik dunia baru yang lain kita berikan perhatian,” tukasnya.

Dirinya berupaya agar musik sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif untuk menunjang ekonomi di kota Ambon. “Kami berupaya menjustifikasi Kota Ambon ini menjadi Kota Musik Dunia ke 18,” tukasnya.

Yang pasti, bakat musik dan nyanyi yang dimiliki masyarakat Ambon sudah tidak diragukan lagi. Selain bakat dari lahir, sentuhan lewat latihan dan pembinaan terus dilakukan.

Richard menegaskan bahwa DNA orang Ambon adalah musik. Karena itu, bakat musik yang dimiliki terus dioptimalkan sehingga bisa menunjang sektor ekonomi kreatif. Bahkan musik masuk kurikulum pelajaran sekolah. Selain itu kehadiran tamu sejak dari bandara dan tempat potensial. bahkan rumah makan sekalipun nantinya tersedia live musik, tambahnya.

 

Richard mengatakan, sejalan dengan kebutuhan globalisasi dan obsesi Bekraf menjadikan musik sebagai ekonomi kreatif, maka Ambon pun didorong untuk sukses menjadi kota kreatif ketiga setelah Bandung yang dasarnya desain, Pekalongan dengan batiknya.

“Ambon mulai didorong menjadi kota kreatif yang ketiga setelah Bandung dengan basis industri desainnya, Pekalongan dengan batiknya, maka Ambon kota kreatif dengan musik sebagai ikonnya,” paparnya seraya menambahkan Ambon disiapkan Bekraf sebagai kota musik sebagai ikonnya. Yang pasti, dia berharap, 2018 ini Unesco bisa mengakui Ambon sebagai Kota Musik Dunia.

Sebagai salah satu persyaratan yang ditetapkan Unesco, sejumlah infrastruktur seperti gedung pertunjukan musik etnik di IAIN Ambon dan studio rekaman musik bertaraf Internasional di Universitas Pattimura yang dibangun oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Dia menambahkan, baru-baru ini Ambon sukses melaksanakan konferensi musik pertama. Sebanyak kurang lebih 300 musisi hadir dan acara itu diklaim sukses besar.

“Betul-betul musisi menjustifikasi Ambon Kota Musik,” ujar politikus Partai Golkar ini. Sedangkan anggota DPR RI dari Fraksi

Demokrat, Michael Wattimena mendorong Unesco menjadikan Agenda Ambon sebagai Kota Musik dunia. “Itu terjadi maka banyak orang berkunjung ke ambon. Kalau sudah masuk kalender Unesco maka akan melipat gandakan pengunjung masuk ke Ambon. menjadi jendela dunia,” kuncinya.(rizal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.