Komite II DPD RI Dorong Perbaikan Infrastruktur Bandara Juwata-Tarakan

Tarakan, SULUTREVIEW – Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI melakukan kunjungan kerja ke provinsi termuda, Kalimantan Utara (Kaltara), Senin (27/11/2017). Salah satu agendanya adalah memantau kondisi Bandara Juwata Tarakan, yang merupakan pintu masuk utama di provinsi perbatasan itu.

Dalam kunjungan Wakil Ketua Komite II, Aji Muhammad Mirza Wardana didampingi Ibrahim Agustinus Medah anggota DPD dari Nusa Tenggara Timur, Denty Eka Widi Pratiwi (Jawa Tengah), Aceng Fikri (Jawa Barat), Habib Abdurrahman Bahasyim (Kalimantan Selatan).

Rombongan diterima oleh Kepala Dinas Perhubungan Tarakan, Taupan dan Kepala Kantor Unit I Bandara Udara Juwata Tarakan Hemi Pamuraharjo.

Wakil Ketua Komite II DPD RI Aji Muhammad Mirza Wardana menjelaskan kunjungan ini merupakan pelaksanaan tugas pengawasan Komite II DPD RI atas Undang-Undang (UU) No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan. Adapun, Komite II DPD RI ingin mengetahui sejauh mana implementasi sistem dan tata kelola penerbangan yang telah diterapkan merujuk kepada UU Penerbangan. Selain itu, mengidentifikasi tantangan dan permasalahan yang dihadapi.

“DPD RI ingin mengetahui sejauh mana implementasi sistem dan tata kelola penerbangan yang baik dan berkualitas yang mampu memberikan perlindungan bagi pengguna jasa penerbangan,” katanya.

Diharapkan melalui kunjungan kerja ini DPD RI dapat memberikan masukan untuk mendorong perumusan dan pelaksanaan kebijakan penerbangan yang ideal dan berbasis kepada kebutuhan masa depan, tambahnya. Bahkan, diharapkan akan ada upaya yang cukup untuk mendorong pembangunan infrastruktur dalam rangka pencapaian pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah khususnya 3T (tertinggal , terluar, terisolir).

“Moda transportasi udara merupakan salah satu faktor kunci konektivitas. Bandara sebagai simpul jaringan penerbangan merupakan akses keluar masuknya ke suatu daerah. Dengan demikian konektivitas antar bandara dapat menunjukkan konektivitas suatu daerah,” tukasnya. Hanya saja, pada sisi yang lain harus terus didorong kemajuannya untuk mendukung pembangunan Provinsi Kalimantan Utara, katanya.

“Peran Bandara Juwata harus didorong untuk mendukung konektivitas di wilayah-wilayah terpencil dan mengoptimalkan Bandara Juwata sebagai bandara internasional untuk menghubungkan rute penerbangan ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Brunai Darussalam dan Cina,” ungkapnya seraya menambahkan
dari satu sisi prospek penerbangan UU No. 1 Tahun 2009 ini masih menyimpan sejumlah kelemahan diantaranya meningkatnya jumlah penumpang, maraknya penerbangan berbasis tarif murah atau low cost carrier (LCC) yang seringkali tidak memperhatikan aspek keamanan dan keselamatan.

Selain itu, penerbangan, kesemrawutan pengelolaan bandara, terbatasnya infrastruktur, seringnya keterlambatan pesawat yang merupakan permasalahan dalam dunia penerbangan Indonesia, dan permasalahan keterbatasan fasilitas bandara yang mengakibatkan antrian check in yang panjang.(rizal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.