Operasional Direct Call Bitung–China Bawa Produk Unggulan Sulut Tembus Pasar Ekspor

Bitung, Sulutreview.com — Peluncuran layanan pelayaran langsung (Direct Call) Bitung–China yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 18 Juni 2026 diyakini menjadi momentum baru bagi penguatan ekonomi Sulawesi Utara.

Program ini diproyeksikan memangkas biaya logistik, mempercepat pengiriman, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi berbagai produk unggulan daerah.

Optimisme tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Bank Indonesia bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sulawesi Bagian Utara serta KPPBC TMP C Bitung, Sabtu (6/6/2026).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara (KPw BI Sulut), Joko Supratikto, mengatakan kondisi ekonomi Sulut saat ini berada pada jalur yang positif. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,54 persen (year on year) pada triwulan I 2026 menjadi modal kuat untuk mendorong ekspor dan investasi.

Menurutnya, Direct Call Bitung–China akan menjadi pengungkit baru bagi perekonomian daerah melalui efisiensi rantai logistik dan peningkatan daya saing produk lokal di pasar global.

“Program Direct Call Bitung–China diharapkan menjadi katalis penting bagi ekonomi daerah. Program ini akan meningkatkan efisiensi biaya transportasi, mempercepat waktu logistik, sekaligus memperluas akses pasar bagi produk-produk unggulan Sulawesi Utara,” ujar Joko.

Senada dengan itu, Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai DJBC Sulbagtara, Adeltus Lolok, menegaskan manfaat layanan ini tidak hanya dirasakan eksportir Sulut, tetapi juga pelaku usaha dari wilayah sekitar yang memanfaatkan Pelabuhan Bitung sebagai pintu ekspor.

Ia menjelaskan, waktu pengiriman yang lebih singkat akan menjaga kualitas produk, meningkatkan nilai jual, serta mempercepat penerimaan pembayaran bagi eksportir.

Sementara itu, Kepala KPPBC TMP C Bitung, Didit Prayudi Sidharta, memastikan kebijakan kepabeanan tetap mendukung aktivitas ekspor. Ia menegaskan komoditas kelapa tidak termasuk kategori sumber daya alam strategis tertentu sehingga tidak terdampak perubahan kebijakan ekspor.

Dari sisi infrastruktur, Terminal Head PT Pelindo Terminal Petikemas, Jusri, menyatakan kesiapan penuh dalam mendukung operasional pelayaran langsung tersebut.

Selain menyiapkan sistem layanan yang terintegrasi, Pelindo juga memberikan insentif berupa diskon biaya penyimpanan (storage) hingga 100 persen serta memperkuat kolaborasi dengan operator pelayaran demi memperlancar arus peti kemas.

Komitmen memperkuat iklim investasi juga ditegaskan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Kepala DPMPTSP Sulut, Hermina Syaloom D. Korompis, mengatakan pemerintah terus menyederhanakan proses perizinan dan menyiapkan berbagai insentif fiskal maupun nonfiskal, khususnya bagi sektor perikanan, pertanian, pariwisata, dan energi terbarukan.

Dukungan juga datang dari sektor perbankan. BNI Cabang Bitung dan Bank Mandiri Regional Sulut-Gorontalo menyatakan siap menyediakan pembiayaan produktif bagi eksportir serta mendukung implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sesuai regulasi yang berlaku.

Melalui sinergi pemerintah, regulator, pelabuhan, perbankan, dan pelaku usaha, layanan Direct Call Bitung–China diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi Sulut sebagai salah satu gerbang ekspor Indonesia di kawasan timur.

Kehadiran layanan ini tidak hanya meningkatkan daya saing produk unggulan daerah, tetapi juga membuka peluang investasi, memperluas pasar internasional, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *