BI Basuara Merunut Pertumbuhan Ekonomi Sulut Melaju Lampaui Nasional

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut saat mereview pertumbuhan ekonomi Sulut. Foto : istimewa

Manado, Sulutreview.com – Gagasan event Bank Indonesia (BI) Basuara, yang mengungkap serta merunut perjalanan pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara (Sulut), menjadi momentum istimewa bagi berbagai kalangan, akan langkah dan kerja keras yang dilakukan hingga melampaui nasional.

Bertema “Membangun Optimisme, Mendorong Sinergi untuk Sulut Maju” menjadi gambaran bahwa perekonomian Indonesia telah mulai pulih sejak 2021 dan terus menguat hingga tahun 2022.

Kondisi tersebut, berbeda dengan perekonomian global yang meningkat di tahun 2021, namun menurun di tahun 2022.

Diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Andry Prasmuko, pertumbuhan ekononomi yang baik, didukung oleh penanganan Covid-19 yang mumpuni hingga berbagai pemberian insentif fiskal yang turut mendorong konsumsi domestik tetap kuat.

Bahkan lebih dari itu, ikut mendongkrak kinerja ekspor Indonesia dengan aliran modal asing yang tetap terjaga.

Untuk tahun 2022, pertumbuhan tertinggi tercatat di wilayah Sulampua, diikuti Kalimantan, Jawa, Balinusra, dan Sumatera.

“Provinsi Sulut pada tahun 2022 Secara spesifik, Sulut tumbuh 5,42% (yoy), dan menjadi salah satu dari 9 provinsi yang pertumbuhannya lebih tinggi dari capaian nasional yang tumbuh 5,31% (yoy). Untuk tahun 2022, pertumbuhan tertinggi tercatat di wilayah Sulampua, diikuti Kalimantan, Jawa, Balinusra, dan Sumatera,” jelas Prasmuko.

Pada triwulan II 2023, sambung Prasmuko, perekonomian Sulut terus tumbuh dan mencapai 6,28% (yoy) atau menguat dari triwulan I 2023 yang tumbuh 5,26% (yoy).

“Dengan capaian tersebut, kinerja perekonomian Sulut mampu melampaui kinerja perekonomian nasional sebesar 5,17% (yoy). Di tingkat nasional, Provinsi Sulut tercatat sebagai daerah dengan pertumbuhan tertinggi ke-4 pada triwulan II 2023,” tuturnya.

Hal ini didukung oleh peningkatan pada lapangan usaha (LU) Transportasi dan LU Industri Pengolahan. Di sisi lain perlambatan pada LU Konstruksi, LU Pertanian, dan LU Perdagangan menahan kinerja perekonomian Sulut.

Beberapa faktor pendorong kinerja perekonomian Sulut pada triwulan II 2023 yaitu peningkatan kinerja LU transportasi dan LU industri pengolahan.

Pertumbuhan pada LU transportasi mendorong pertumbuhan perekonomian Sulut melalui. Hal ini tercermin dari meningkatnya peningkatan trafik penumpang angkutan udara di Sulut. Trafik penumpang, didorong momentum cuti bersama di tengah peningkatan MICE pemerintah dan swasta.

Selanjutnya, LU industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi pada triwulan laporan, yakni sebesar 1,15% (yoy), seiring dengan peningkatan kinerja Industri Pengolahan minyak nabati, di tengah tren penurunan/meskipun terjadi normalisasi harga CNO.

Di sisi lain terdapat beberapa faktor yang turut menahan laju pertumbuhan ekonomi Sulut yaitu. Kinerja konsumsi RT dan investasi. Kinerja konsumsi RT mengalami perlambatan pada triwulan II 2023 seiring dengan penurunan kinerja penjualan riil, terutama kelompok makanan, minuman dan tembakau.

“Penurunan ditengarai masih sebagai merupakan dampak turunan atau second round effect dari pmenurunnya daya beli masyarakat terhadap komoditas primer pasca penyesuaian harga BBM pada di September 2022,” ungkapnya.

Sejalan dengan konsumsi RT, kinerja Investasi juga mengalami perlambatan pada triwulan II 2023 seiring dengan telah selesainya penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) di Sulut. Hal ini tercermin dari penurunan investasi bangunan dan realisasi pengadaan semen.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *