Cegah Anemia dan Stunting, Ray Basrowi Sarankan Minum Susu

Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi MKK. Foto : istimewa

Manado, Sulutreview.com – Pakar dan praktisi nutrisi, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi MKK dan Dr. dr. Lucyana Sutanto, SpGK mengungkapkan susu merupakan sumber nutrisi yang sangat baik dan sudah terbukti dapat menjadi agen solusi untuk masalah gizi kronik, termasuk kasus anemia dan stunting.

Menurut Dr Ray, konsumsi susu dapat membantu mencegah dan mengatasi permasalahan malnutrisi kronik pada anak Indonesia terutama stunting dan anemia yang angka kejadiannya masih sangat tinggi.

Berbicara dalam forum IG Live perayaan Hari Susu Sedunia 2022 bersama Nutri Health Indonesia dan Perhimpunan Nutrisi Indonesia, Dr Ray yang juga merupakan Medical Science Director PT Danone Indonesia, mengungkapkan bahwa peran susu sebagai sumber protein hewani sangat penting untuk memastikan kecukupan nutrisi penting bagi anak usia pertumbuhan yang rawan mengalami defisiensi atau kekurangan zat gizi penting yang bisa mengakibatkan masalah kesehatan seperti sunting dan anemia.

“Sebagai sumber protein hewani, susu merupakan media yang baik untuk memenuhi zat gizi penting karena bioavailabilitas nya baik, artinya zat gizi yang terkandung di susu dapat diserap dengan optimal. Termasuk tentunya zat besi yang penting untuk mencegah anemia pada anak. Begitupun protein hewani pada susu secara klinis merupakan zat gizi penting untuk membantu pertumbuhan anak sehingga bisa terhindar dari stunting,” ujar Dr Ray yang sering memberi edukasi lewat akun Instagram @ray.w.basrowi

Senada disampaikan Presiden Perhimpunan Nutrisi Indonesia dan pakar gizi klinik Nutri Health Indonesia, Dr. dr. Luciana Sutanto, bahwa susu sebagai sumber protein yang baik untuk memenuhi asupan nutrisi secara keseluruhan.

“Pada umumnya sumber nutrisi pada susu meskipun telah diolah tetap bisa dipertahankan, sehingga zat gizi kunci yang dibutuhkan tubuh tetap bisa disuplai oleh susu”, ujar Dr Luci yang juga aktif sebagai pengajar kedokteran Ukrida.

Baik Dr Ray dan Dr Lucy sepakat bahwa memang saat ini persepsi masyarakat terhadap manfaat susu masih belum optimal. Keduanya menegaskan bahwa Ketika bayi berusia dibawah satu tahun, terutama enam bulan pertama.

“ASI memang menjadi satu-satunya sumber nutrisi bagi bayi dan tidak bisa diganggu gugat. Namun setelah memasuki usia pertumbuhan di atas satu tahun, sumber makanan anak memang harus bervariasi. Di sinilah peran susu terutama susu pertumbuhan menajdi penting untuk memastikan dan mengisi celah kekurangan zat gizi penting yang tidak secara maksimal diperoleh dari makanan padat,” jelas keduanya.

Begitupun dengan usia dewasa dan usia lansia, sambung keduanya, peran susu untuk memastikan kebutuhan dan kecukupan nutrisi juga tetap berperan.

Disambung Dr Lucy, bahwa dengan asupan susu dua gelas sehari diluar makanan rutin, orang dewasa juga sudah cukup memastikan pemenuhan kebutuhan gizinya.

Terkait beberapa isu miring terhadap pengolahan produk susu di pasaran, Dr Ray sebagai praktisi industri nutrisi menegaskan justru dengan perkembangan teknologi pangan yang semakin maju, peran industri sangat penting mengembangkan produk susu yang tidak hanya aman tetapi juga memberi manfaat Kesehatan yang optimal.

“Masyarakat memang tetap perlu kritis terhadap kualitas produk, termasuk susu, tetapi perlu juga mengerti bahwa proses teknologi pangan sudah memastikan bahwa produk susu yang dipasarkan memiliki tingkat keamanan yang baik dan memberi manfaat Kesehatan umum dan spesifik. Semisal, ada susu pertumbuhan yang memberi manfaat Kesehatan pencernaan atau perkembangan otak karena ada fortifikasi zat gizi tertentu. Contohnya untuk mencegah anemia, ada susu pertumbuhan yang tinggi zat besi,” tandasnya.

Begitupun untuk asupan susu pada populasi dewasa dan lansia, Dr Lucy menjelaskan nutrisi kunci pada produk dairy diproses dengan tetap menghasilkan produk yang mudah dan praktis digunakan.

Diketahui, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 menunjukkan jumlah rata-rata konsumsi susu di Indonesia sebesar 16.27 kg/kapita/tahun, masih jauh lebih sedikit di bawah rata-rata konsumsi susu dari negara tetangga seperti Malaysia 26.20 kg/kapita/tahun, Myanmar 26.7 kg/kapita/tahun, dan Thailand 22.2 kg/kapita/tahun. Rendahnya tingkat konsumsi susu per kapita di Indonesia diakibatkan oleh rendahnya populasi sapi perah di Indonesia.(srv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.