Libur Lebaran Dorong Tekanan Inflasi April 2022

Arbonas Hutabarat. Foto : Hilda M

Manado, Sulutreview.com – Tren kenaikan aktivitas dan mobilitas masyarakat di tengah periode libur nasional dan cuti bersama lebaran 2022 menjadi pendorong utama inflasi Sulut pada bulan April 2022.

Hai tersebut tercermin dari peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Manado dan Kotamobagu.

Kota Manado dan Kota Kotamobagu tercatat inflasi masing-masing sebesar 1,55% (mtm) dan 1,43% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang juga tercatat inflasi masing-masing 0,40% (mtm) dan 0,87% (mtm).

Sementara secara tahunan, inflasi Kota Manado tercatat sebesar 2,19% (yoy), dan Kota Kotamobagu sebesar 3,33% (yoy), berada pada rentang sasaran inflasi nasional yang sebesar 3+ 1% (yoy).

Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau serta Kelompok Transportasi masih menjadi pendorong utama tekanan inflasi di Manado dengan total andil sebesar 1,44% (mtm), di mana komoditas Angkutan Udara menjadi komoditas pendorong inflasi tertinggi dengan andil inflasi sebesar 0,68% (mtm) dari inflasi unum yang sebesar 1,55% (mtm).

Peningkatan harga komoditas ini sejalan dengan adanya libur nasional dan cuti bersama lebaran 2022, serta relaksasi kebijakan tes antigen/PCR bagi pelaku perjalanan yang telah melakukan vaksinasi dosis ke-3 (booster) berdasarkan SE No.16 tahun 2022 pada 2 April 2022.

Sementara itu, dari Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, inflasi didorong oleh komoditas minyak goreng, tomat, air kemasan, dan komoditas perikanan seperti ikan cakalang/sisik dan ikan malalugis/sohiri.

Peningkatan harga komoditas minyak goreng terpantau masih berlanjut pasca relaksasi kebijakan HET, sehingga harga minyak goreng kemasan mulai mengikuti mekanisme pasar. Pada bulan April 2022, komoditas minyak goreng memberikan andil sebesar 0,32% (mtm).

“Komoditas tomat dengan andil inflasi 0,12% (mtm) tercatat meningkat akibat berkurangnya pasokan akibat panen yang tidak maksimal di tengah cuaca berangin, di samping adanya peningkatan konsumsi masyarakat,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Arbonas Hutabarat, Senin (9/5/2022).

Harga komoditas air kemasan dan beberapa komoditas perikanan juga tercatat meningkat dengan andil inflasi sebesar masing-masing 0,11% (mtm) dan 0,17% (mtm) (untuk ikan cakalang dan ikan malalugis).

“Peningkatan harga komoditas air kemasan tersebut ditengarai didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat di bulan Ramadhan. Sementara fenomena alam badai Topan Surigae pada pusatnya di perairan timur Filipina bulan April 2022 turut berpengaruh pada kondisi perairan Sulawesi Utara yang menyebabkan berkurangnya pasokan perikanan di tengah tingginya permintaan masyarakat,” jelas Arbonas.

Tidak jauh berbeda, Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau di Kotamobagu juga menjadi pendorong utama inflasi dengan andil 1,03% (mtm), dari inflasi umum Kotamobagu yang tercatat sebesar 1,43% (mtm). Komoditas daun bawang, perikanan (ikan cakalang dan malalugis) minyak goreng, dan tomat juga menjadi pendorong inflasi di Kotamobagu.

Komoditas daun bawang secara historis pada tahun 2020 juga menjadi pendorong inflasi pada periode HBKN Idul Fitri.

Tingginya preferensi masyarakat terhadap komoditas tersebut sebagai pelengkap masakan diperkirakan mendorong peningkatan harga dan memberikan andil inflasi sebesar 0,26% (mtm).

Sama halnya dengan fenomena di Manado, komoditas ikan cakalang dan ikan malalugis juga menjadi pendorong inflasi di Kotamobagu dengan andil masing-masing 0,22% (mtm) dan 0,11% (mtm).

Kendala cuaca perairan juga menjadi faktor pendorong meningkatnya andil inflasi kedua komoditas tersebut. Selanjutnya, minyak goreng dengan andil inflasi O0,20% (mtm) juga mendorong inflasi Kota Kotamobagu akibat relaksasi HET serta tomat dengan andil 0,09% (mtm) karena tidak maksimalnya panen di daerah pemasok.

Secara umum, kata Arbonas, rerdapat beberapa risiko pendorong dan penahan inflasi di Sulawesi Utara terutama Kota Manado dan Kota Kotamobagu sebagai kota pencatatan inflasi pada bulan Mei 2022.

“Risiko peningkatan harga minyak goreng masih berianjut seiring dengan relaksasi peraturan HET mengikuti harga keekonomiannya di tengah harga CPO global yang masih tinggi sebagai bahan bakunya,” ungkap Arbonas.

Sementara dari sisi komoditas inti, risiko peningkatan inflasi dari adanya peningkatan tarif PPN dan berakhirnya insentif PPnBM diperkirakan dapat meningkatkan harga berbagai komoditas seperti barang elektronik dan kendaraan bermotor.

Namun demikian di sisi lain, normalisasi aktivitas dan konsumsi masyarakat pasca Idul Fitri 2022 serta normalisasi harga angkutan udara diperkirakan dapat menahan laju tekanan inflasi Mei 2022.(srv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *