Srikandi Kota Cakalang Fien Sompotan Lakukan Pengosongan Lahannya di Padang Pasir Bitung

0
95

Suasana pengosongan Lahan Padang Pasir

Bitung, Sulutreview.com– Aksi pengosongan lahan di wilayah Padang Pasir di Lingkungan 1 Kelurahan Pateten 1 Kecamatan Aertembaga di Kota Bitung, pada Selasa (06/04/2021) atas pemilik tanah Fien Sompotan sempat menyita perhatian warga.

Betapa tidak, alat berat jenis Excavator yang sudah berada dilokasi dan memporak-porandakan sekira 20 bangunan jenis Cafe di wilayah tersebut membuat warga yang lewat dilokasi langsung berhenti dan menyaksikan aksi Excavator yang merobohkan dan membongkar sejumlah gedung di Padang Pasir tersebut.

Awal pengosongan lahan tersebut, sempat memanas, karena salah seorang pemilik gedung Cafe di lahan Fien Sompotan pihaknya mengaku sudah membayar biaya sewa gedung, namun tetap saja tempat usaha Cafe langsung dikosongkan.

Terpantau juga dalam aksi tersebut aparat Kepolisian yang turut hadir dimana terlihat, Kapolres Bitung AKBP Indrapramana SIK, menjaga ketat akan proses pengosongan lahan tersebut didampingi Kasat Intel AKP Karel Tagay dan Kasat Reskrim AKP Frelly Sumampouw dan puluhan personil aparat kepolisian.

Diketahui memang, Lahan itu milik Fien Sompotan seluas 38.860 m2, dieksekusi berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI Nomor 520 / PK / PDT /2012 Tanggal 19 Desember 2014, surat Somasi / Peringatan Pengosongan Lahan dari pemilik tanah Fien Sompotan terhadap pengguna / penyewa tanah, tanggal 18 Februari 2021 dan surat Permohonan bantuan pengamanan terhadap pengosongan tanah, SHM Nomor 529 / Kelurahan Pateten Satu (Tanah Padang Pasir) Kecamatan Aertembaga Kota Bitung.

Kepada wartawan, seorang Pengacara Senior, Raymond Legoh SH, yang merupakan kuasa hukum Srikandi Fien Sompotan ini mengatakan, “bahwa alasan pihaknya melakukan pengosongan lahan, dikarenakan banyak laporan warga bahwa lokasi gedung yang berada di Padang Pasir diduga sudah terjadi hal-hal yang tidak baik yang diduga melanggar norma Agama. Kemudian keluarga Sompotan melakukan tindakan untuk pengosongan lahan saat ini,” tandasnya

Sebelum-nya, dalam awal pengosongan lahan tersebut, sempat memanas, dimana terjadi adu mulut. dari perempuan bernama Sira Poiyo yang merupakan salah satu pengelola Cafe di Padang Pasir tersebut, protes karena jika cafe itu di bongkar tidak tau akan tinggal dimana.

“Mereka pemilik lahan, malam minta uang besoknya suruh bongkar. Kalau ini di bongkar kami mau tinggal dimana. Kasian kami disini,” kata Sira Poiyo sambil menitihkan air mata.
Sira Poiyo sempat ditenangkan oleh dua orang polwan dari Satlantas dan Satreskrim Polres Bitung.

Selain itu, pihak lembaga bantun hukum (LBH) yang ‘pro’ kepada warga. sempat menyuarakan bahwa mereka mengatakan, dalam eksekusi pengosongan lahan, setidaknya tidak perlu melibatkan aparat kepolisian, karena polisi bertugas untuk melindungi dan mengayomi masyarakat, serta harus dilakukan pemberitahun lebih dulu.

Sementara itu, Fien Sompotan pemilik lahan padang pasir, lingkungan I Kelurahan Pateten I Kecamatan Aertembaga Kota Bitung, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) melalui Pengacaranya langsung memperlihatkan bukti kepemilikan saat proses eksekusi pengosongan berlangsung, Selasa (6/4/2021).

Melalui pengacaranaya Reymond Legoh SH menunjukan bukti dasar hak berupa salinan keputusan Mahkamah Agung RI Reg. No. : 520 PK/PDT/2012 Tanggal 19 Desember 2014.

Menyatakan bahwa tanah seluas 38.860 M2 yang terletak di lingkungan IV Kelurahan Pateten 1 Kecamatan Aertembaga Kota Bitung ditempat yang kini dikenal dengan nama “ Tanah Padang Pasir” adalah pemilik sah atau pemilik tanah.

“Alasan utama kami pemilik lahan melakukan eksekusi pengosongan, karena kami sudah sering mendapat laporan aparat keamanan dan warga. Bahwa lahan itu dijadikan tempat hiburan malam alias cafe dan diduga melakukan hal-hal yang tidak baik di mata hukum,” kata Fien kepada sejumlah wartawan usai proses eksekusi.

Menurutnya jauh sebelum pelaksanaan eksekusi pengosongan terhadap bangunan cafe Madu Cafe, Cassandra Barkes, Idola musik Cafe dan Karaoke dan sekitar 23 bangunan semi permanen lainnya disekitar cafe.

Dirinya sudah memberikan solusi akan memberikan tempat tinggal di lokasi lainnya dan juga memberikan kompensasi uang Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, namun rencana itu tidak jadi karena satu dan lain hal.

Kuasa Hukum Pemilik Lahan Reymond Lego SH menjelaskan, tidak bisa dua kali meminta surat eksekusi pengosongan karena pengadilan negeri Bitung sudah sempat mengeluarkan surat eksekusi sebelumnya.

Pihak pemilik lahan Fien Sompotan, malah sudah memberikan kesempatan untuk mereka keluar sendiri, sejak bulan Januari 2021 hingga sudah April 2021 belum keluar.

Sebelum melakukan eksekusi Reymond Lego SH juga sudah sempat melakukan permintaan eksekusi ke PN Bitung namun PN Bitung sampaikan lahan ini sudah pernah di eksekusi sebelumnya.

“Sehingga pihak pemilik lahan melakukan upaya sendiri melakukan eksekusi pengosongan bangunan di lokasi itu,” jelas Reymond Lego SH.

Dirinya menceritakan bahwa, kesepakatan awal sewa di lahan itu, diberikan pemilik lahan, dengan perjanjian, ketika pemilik lahan hendak mau gunakan mereka diberikan waktu keluar.

Bahkan, sambung Legoh. Pihak penyewa lahan itu, memberikan kuasa kalau dalam waktu tujuh hari tidak keluar dari lahan itu pihak pemilik lahan yang akan mengkosongkan.

“Nah itulah, yang kami lakukan, jalankan kuasa dari penyewa untuk kami pemilik lahan mengkosongkan,” tandas Kuasa Hukum berparas warga Belanda ini.

Tak hanya itu saja, sudah banyak. “Terjadi kejadian pidana yang terjadi di lokasi ini, sehingga sudah waktunya di eksekusi pengosongan agar tidak terjadi dan menimbulkan ‘sampah’ masyarakat,” jelasnya.(zet)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here