Manado, Sulutreview.com – Terobosan ekspor yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dengan menyasar pasar Narita Jepang, di tengah pandemi Covid-19, telah membuka peluang ekonomi bagi masyarakat petani.
Bukan hanya tuna yang menjadi unggulan ekspor, tetapi produk pertanian seperti jahe merah, bunga krisan Tomohon, bawang merah, seledri dan sayuran organik sangat diminati pasar internasional.
Namun sayangnya, produk yang diekspor tersebut banyak di-reject atau ditolak dengan alasan tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Sebut saja, komoditas jahe merah, setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata mengandung pestisida. Demikian juga dengan produk pertanian lainnya.
Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Arbonas Hutabarat, standar mutu dan kualitas produk pertanian yang ditetapkan pasar internasional, belum dapat dipenuhi. Sehingga keadaan ini harus secepatnya diatasi, agar produk ekspor Sulut dapat menembus pasar.
“Negara Jepang menyukai produk yang non pestisida. Kalau bisa organik, jadi jangan pakai pupuk kimiawi. Karena kalau ditemukan produk kita akan di-reject,” ungkap Arbonas.
Sebagai pemangku kepentingan yang memiliki kepedulian dengan kelangsungan perekonomian di daerah, BI Sulut, sambung Arbonas akan memberikan edukasi dan pelatihan khusus kepada petani untuk menggunakan cara-cara dengan standar dunia maju.
“Kami akan adakan pelatihan kepada petani, agar mereka bertani dengan cara-cara yang diinginkan dunia maju. Sayang kan kalau ekspor yang sudah dilakukan dengan susah payah lantas di-reject,” kata Arbonas.
Arbonas berharap para pejuang ekpsor Sulut, lebih berkreasi lagi menjual produk terbaik daerah. Terutama produk para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar dapat goes internasional.
“Sejauh ini, pesawat Garuda yang menuju Narita masih setengah penuh. Alangkah baiknya jika penerbangan ini dimanfaatkan secara maksimal. Contohnya saja, Palu yang saat ini viral dengan ekspor durian. Sulut juga punya produk unggulan yang bisa diekspor,” tukasnya sembari menambahkan bahwa BI Sulut bersama BI dari wilayah Indonesia Timur telah melakukan Forum Group Discussion (FGD) untuk membahas masalah ini, dengan menjadikan Sulut sebagai hub port untuk tujuan ekspor.
“Kami sudah melakukan FGD dengan BI Sulteng, Gorontalo, Maluku Utara dan Barat, untuk memanfaatkan peluang ekspor, khususnya komoditas ikan tuna, agar dikirim ke Manado. Kami seluruh perwakilan BI akan menjadikan Manado sebagai hub,” kuncinya.
Belum diketahui berapa volume dan nilai ekspor yang ditolak pasar Narita, namun pengalaman ini diharapkan tidak kembali terulang. Sebab, keberlangsungan ekspor akan turut menyumbang perolehan devisa. Terlebih meningkatkan ekonomi masyarakat. (hilda)













