Amurang, Sulutreview. com – Memasuki musim tanam, para petani yang mengandalkan pupuk bersubsidi dibuat resah.
Pasalnya, bulan-bukan seperti ini, para petani sudah seharusnya melakukan cocok tanam. Sayangnya, niat untuk menanam padi sawah, jagung dan lainnya batal dilakukan.
Petani takut menanam lantaran sulit untuk mendapatkan pupuk. “Bagaimana mau tanam padi kalau tidak ada pupuk. menghilang entah kemana,” tutur sejumlah petani di Kecamatan Tenga Kabupaten Minsel, akhir pekan lalu.
Para petani mengaku, untuk menanam pagi sawah saja, yang pertama harus disiapkan adalah pupuk. Jika tak ada pupuk maka dipastikan akan gagal panen. “Dari pada akan rugi mending kami petani tak menanam,” keluh para petani lagi.
Mereka berharap pemerintah bisa melihat kondisi yang ada di lapangan. Pasalnya, untuk mendapatkan pupuk hanyalah petani yang namanya keluar di kelompok tani yang namanya sudah diterbitkan oleh pemerintah untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.
Yang jadi persoalan kata para petani. Bagaimana jika nama-nama petani yang masuk dalam kelompok tani kemudian penerimaan pupuk belum disetujui oleh pemerintah. “Sekarang kami petani harus bagaimana. Apakah akan rugi lebih banyak atau harus miskin dulu,” keluh lagi mereka yang ditemui di kebun sawah besar di Desa Tenga.
Itu pula pupuk yang ada saat ini pada penyalur hanya terbatas saja. Siapa nama petani yang masuk dalam daftar kelompok tani dan kelompok tersebut masuk dalam daftar penerima maka petani-petani tersebut yang bisa menerima. “Itu juga dibatasi, menurut mereka pembagian sesuai dengan apa yang dianjurkan. Kalau petani jagung 6 bantal atau 6 karung, kalah petani padi sawah hanya 2 karung lebih,” ungkap lagi para petani yang meminta namanya tidak ditulis.
Lebih jauh warga terus berharap, pemerintah harus secepatnya untuk mencari jalan keluar. Semisalnya jika tidak ada kelompok tani tapi menyalurkan pupuk kepada petani dengan harga terjangkau.
Mengenai persoalan ini Kepada Dinas Pertanian Franky Pasla membenarkan. Menurutnya, kelangkaan pupuk akibat data base kelompok tani penerima pupuk masih sementara dalam penyusunan untuk diusulkan. “Jadi memang itu yang jadi masalah, prosesnya masih sementara dilakukan pemerintah. Kami berusaha supaya semuanya akan tuntas secepatnya,” janji Pasla.(srv)













