Bukit Palembean, Janji Bupati yang Terabaikan

0
279
Ilustrasi

Amurang, Sulutreview.com – Kota Amurang menjadi ibukota Minahasa Selatan (Minsel) yang diberkati dengan pemandangan pantai dan perbukitan.

Keduanya berpadu di bukit Palambean yang kini menjadi lokasi wisata besutan anak-anak muda Amurang.

Tak pelak lokasi yang menawarkan spot foto ini ikut menarik Bupati Christiany Euginia Paruntu menjajalnya pekan lalu.

Namun kedatangan bupati ke Palambean menjadi menggelitik. Pasalnya sejak tahun 2015 sudah berjanji akan membangun monumen Tuhan Yesus.

Pada APBD 2018 bahkan dipaksakan untuk dianggarkan yang akhirnya disetujui dengan besaran Rp16 miliar.

Rencananya monumen tersebut dibangun setinggi 21 meter meliputi patung 12 meter dengan dasar 9 meter. Uniknya monumen akan dilengkapi dengan berbagai diorama juga kawasan agrowisata berisi kebun buah.

Sayangnya proyek spektakuler yang dirancang mampu menyedot wisatawan dalam dan luar negeri gagal. Padahal pembiayaanya sudah dianggarkan lewat APBD.

Anggarannya justru digeser ke proyek lain pada APBD Perubahan 2015. Sedangkan menurut salah satu sumber anggota DPRD Minsel 2014-2029, pihak eksekutif sangat ngotot agar proyek monumen diloloskan.

Alasannya pembangunan monumen yang sempat kotroversial ini telah menjadi nazar bupati.

“Pada pembahasan APBD 2015 pihak eksekutif sangat ngotot agar diloloskan. Alasannya sudah menjadi nazar dari bupati. Meski sebenarnya ada resiko karena mulai dari perencanaan sampai pembangunan dilaksanakan pada satu tahun anggaran. Setelah disetujui dengan berbagai wanti-wanti oleh kami, justru akhirnya tidak dilaksanakan. Anggarannya digeser ke proyek lain yang kalau tidak salah ke dinas pertanian,” ujar sumber yang merupakan anggota DPRD periode 2014-2019.

Digesernya anggaran monumen yang merupakan nazar dari bupati mendapat sindiran dari berbagai pihak. Apalagi sebelumnya sudah ada kontra, karena masih banyak fasilitas publik yang belum tersentuh. Setelah dianggarkan justru kemudian digeser, dengan mengabaikan nazar. Sehingga tampak dan bukannya tidak mungkin hanya menjadi akal-akalan menarik simpati. Bukan tidak mungkin juga hanya menjadi anggaran simpanan yang sudah dirancangkan untuk digeser dari awal.

Dicky Umpel salah satu tokoh masyarakat menyebutkan sedari awal menolak pembangunan monumen. Penolakan bukan pada materinya tapi masih banyaknya fasilitas publik yang lebih penting untuk dibangun. Nah ketika akhirnya digeser padahal telah dianggarkan menjadi tanda tanya besar di masyarakat.

“Kami memang sempat menolak rencana pembangunannya. Tapi seharusnya bila sudah dianggarkan maka wajib dilaksanakan. Kemudian tidak dilaksanakan dan anggarannya digeser jelas membuat kami memiliki tanda tanya besar? Apakah ini hanya main-main atau memang sedari awal menjadi cadangan anggaran saja? Lalu kemudian bupati berbangga dengan apa yang dibuat generasi muda di Palambean justru menjadi kontras,” paparnya.

Kawasan Bukit Sasayaban yang didalamnya termasuk bukit Palambean bila ditarik ke belakang memang menjadi program Pemkab Minsel membuang anggaran. Sebelum proyek monumen, di Dinas Kehutanan juga pernah menganggarkan penghijauan berupa penanaman pohon dan matoa. Kini pohon dan matoa yang dianggarkan miliaran hampir tidak dapat terlihat lagi.

Selanjutnya dinas pertanian juga masuk dengan proyek pengembangan agrowisata. Lagi-lagi anggaran miliaran dikucurkan untuk pengadaan bibit buah-buahan dan pembangunan landscapenya. Sudah bisa diduga, proyeknya dapat dikatakan gagal karena perkebunan buah atau agrowisata embang hampir tak bersisa.(noh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here