Amurang, Sulutreview – Anggaran beasiswa Cipta Emaan Pande (CEP) yang dihilangkan Pemkab Minsel mendatangkan kekecewaan bagi 1.099 mahasiswa asal Minsel.
Bahkan karena kecewa, beasiswa senilai Rp3 miliar disebut hanya zonk atau pepesan kosong belaka.
Padahal untuk mengurusnya mereka harus bolak-balik sehingga tidak sedikit biaya harus dikeluarkan. Belum lagi dari segi waktu yang harus disiapkan.
“Sebagai mahasiswa, tentunya sangat kecewa dengan kebijakan Pemkab Minsel yang menghilangkan beasiswa tersebut,” ujar ujar Hiskia Sumakul mahasiswa Unsrat yang mewakil rekan-rekannya.
Sebab, untuk mengurus beasiswa mahasiswa harus bolak-balik di kantor bupati dan rela antri hingga larut malam.
“Setelah selesai dan berharap tahun ini mendapat bantuan untuk menyelesaikan studi akhir, kami 1.099 mahasiswa hanya mendapatkan zonk. Anggarannya digeser yang katanya dipergunakan bagi penanganan Covid-19. Kami sangat sesalkan sikap pemkab dan panitia yang tidak transparan dan akuntabel,” tandas sejumlah mahasiswa.
Menurutnya, bantuan beasiswa sebenarnya sangat dibutuhkan, apalagi bagi mahasiwa yang sedang menempuh studi akhir. Apalagi banyak orangtua mahasiswa yang juga terdampak oleh pendemi. Pada sisi lain SPP atau uang kuliah harus dibayarkan. Sehingga digesernya anggaran sangat tidak pantas, sebab pada sisi lain untuk Covid-19 sudah dianggarkan.
“Kita rasa kesadaran dari bos-bos berdasi akan meningkatkan pendidikan di Minsel belum seutuhnya baik,” paparnya.
Menurutnya, menjadi pertanyaan kenapa anggaran beasiswa yang digeser bukan anggaran KONI atau anggaran-anggaranya lain yang masih kurang penting dalam masa pandemi.
“Meski di masa pendemi, tetapi urusan perkuliahan tetap berjalan. Berbeda dengan KONI yang menurut saya tidak ada kegiatan. Semoga memang tidak disalah gunakan yang katanya digeser sebagai anggaran Covid-19. Semoga tidak digeser sebagai anggaran kampanye ataupun sebagai anggaran yang numpang nama agar menjadi tenar,” pungkasnya sambil menegaskan rasa kecewa.(noh)






