Amurang, SULUTREVIEW – Kunjungan panitia khusus (Pansus) Laporan Keterangan PertanggungJawaban (LKPJ) Bupati di Kecamatan Modoinding mendapati kejanggalan program bawang putih.
Kegagalan program yang total menelan biaya Rp7 miliar terdiri dari Rp5 miliar bibit dan Rp2 miliar Saprodi dikarenakan tidak mendapatkan panen signifikan.
“Ada beberapa sisi yang kami hasilkan dari turlap (turun lapangan, red) di Modoinding untuk melihat program bawang putih. Dari segi hasil jelas gagal, karena tidak ada panen sebagaimana seharusnya. Sehingga anggaran yang mencapai Rp7 miliar bisa dikatakan sia-sia.
Kegagalan ini dari informasi di lapangan disebabkan oleh pertama keterlambatan masuknya bibit yang sesuai pengakuan di bulan November,” tutur Ketua Pansus Franky Lelengboto.
Bibit yang diberikan juga tidak cocok dengan kondisi tanah dan lingkungan Modoinding. Ini juga disebabkan tidak adanya uji coba sebelumnya. “Terkesan dipaksakan dan hasilnya kegagalan panen. Masalah ini kami lihat dilatari tidak ada perencanaan yang baik. Sehingga jelas ada kerugian anggaran. Ke depan perlu ada perbaikan, jangan asal rancang tanpa memperhitungkan hasil,” tegasnya.
Lanjut menurut Lelengboto yang berasal dari Fraksi Golkar, didapati adanya ketidakcocokan antara luasan areal tanam yang direncanakan dengan ketersediaan bibit. Menurutnya bibit yang sampai ke petani berserta Saprodi berupa bibit, untuk sementara didapati tidak sesua dengan anggaran. Dari pengakuan petani penerima, ada yang memiliki luas tanam dua hektar namun mendapatkan bibit tidak sampai untuk satu hektar.
“Ini yang kami dapati di lapangan soal jumlah bibit. Makanya perlu penyelidikan lebih lanjut, realisasi bibit dengan anggaran. Apalagi jumlah anggaran yang tidak sedikit. Polanya sama dengan beberapa program bibit lain contohnya pisang. Di Pontak misalnya, ada kelompok yang tertera mendapat jatah dua hektar hanya diberikan bibit sebanyak 250, padahal seharusnya 4 ribu,” beber Frato.
Kabid Pertanian Brian Rantung yang melakukan pendampingan tim Pansus menyebutkan, sebenarnya tidak ada kegagalan. Hanya saja hasil yang didapati tidak sesuai ekspektasi. Salah satu penyebab memang keterlambatan bibit sampai ke petani, begitu pula dengan jenisnya.
“Bibit sebenarnya sudah ada pada bulan Agustus. Namun setelah dicek yang kebetulan langsung dari Dirjen Kementan, bibit yang masuk belum usia tanam. Sehingga bibit yang sudah ada dikembalikan. Bibit kemudian baru masuk bulan November sehingga sudah melewati masa tanam bawang putih yang cocok di musim kemarau,” tukas Rantung.(noh)






