Percepat Uji Sampel Penyintas Covid-19, Pemprov Sulut Siapkan Laboratorium PCR

0
280

Manado, SULUTREVIEW

Permintaan Gubernur Sulut Olly Dondokambey untuk pengadaan laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) dipenuhi Presiden Joko Widodo.

Adanya fasilitas tersebut akan lebih mudah dan mempercepat pemeriksaan uji sampel para penyintas Covid-19.

Olly sebelumnya meminta langsung fasilitas laboratorium saat melaksanakan rapat kerja terbatas dengan gubernur se-Indonesia pada Selasa, 24 Maret silam via video conference.

“Akhir April ini laboratorium itu sudah bisa beroperasi. Karena saat ini sudah tahap finishing,” ungkapnya.

Kehadiran laboratorium PCR, sebutnya, akan mempermudah tenaga kesehatan mengetahui hasil uki sampel yang diperiksa dengan cepat. Mengingat selama ini sampel masih dikirim ke laboratorium Makassar sehingga membutuhkan beberapa hari untuk diketahui hasilnya. Laboratorium ini juga akan memungkinkan tenaga kesehatan untuk memeriksa lebih banyak sampel.

Jubir Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Provinsi Sulawesi Utara dr Steaven Dandel MPH menyambut positif kehadiran laboratorium PCR di Sulut.

Menurutnya, Gugus Tugas Covid-19 dan tenaga kesehatan akan mengalami kesulitan untuk berperang melawan virus dengan ukuran 1/900 diameter rambut manusia ini, jika tidak dipersenjatai dengan laboratorium.

“Oleh karena itu keberadaan laboratorium Covid-19 di Sulawesi Utara sangat diperlukan,” ujarnya.

Laboratorium Real Time PCR ini akan memungkinkan memeriksa bukan hanya berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan) melainkan juga ODP (Orang Dalam Pemantauan).

Selama ini fokus pemeriksaan swab atau tes Real Time PCR hanya pada penyintas yang berstatus PDP. Sementara yang berstatus ODP atau orang yang datang dari lokasi transmisi lokal yang memiliki gejala demam, flu dan batuk, dikenakan tindakan isolasi selama 14 hari.

“Dengan adanya laboratorium maka dapat dilakukan pemeriksaan secara massal,” tukasnya.

Pembangunan laboratorium PCR untuk Covid-19 tidaklah gampang. Karena harus memenuhi beberapa persyaratan ketat. Antara lain laboratorium ini harus dibangun di dalam fasilitas yang memiliki standard Bio Safety Level II. Proses pembangunan lab BSL2 ini biasanya memakan waktu berbulan bulan.

Sebenarnya Sulut telah memiliki sekitar 3 alat RT-PCR yang harganya sangat mahal. Alat Real Time PCR ini, mempunyai system pengoperasian tertutup (closed system ). Pada sistem ini, produsen mengeksklusifkan alatnya dan hanya bisa digunakan dengan menggunakan cairan kimia (reagen prime) yang diproduksi oleh mereka sendiri. Produsen ini kemudian mensyaratkan bagi setiap operator yang membeli alat ini untuk menunjukkan sertifikat laboratorium dengan BSL2+, baru mereka akan menjual reagen prime Sars Cov2 ini. Dan untuk mendapatkan sertifikat ini diperlukan proses berbulan-bulan.

Semua alat-alat tersebut harus diimpor dan menjadi bahan rebutan di pasar Internasional karena hampir semua negara membutuhkan alat-alat ini. Baik reagennya, semua tube dan pipetingnya, BSC dan bahkan RT PCRnya. Supply-nya sangat terbatas dan waktu indent makin lama makin panjang.

Pemerintah Indonesia di tengah desakan dari berbagai pihak untuk memperluas kemampuan pemeriksaan lab RT PCR untuk Covid 19, mengambil langkah strategis dengan memperluas jejaring laboratoriumnya menjadi 78. Salah satunya di Sulawesi Utara. Dalam jangka waktu 1 bulan sudah terlihat progress pembangunan Laboratorium RT PCR Covid19 yang sangat luar biasa. Mengingat untuk membangun laboratorium ini biasanya memerlukan waktu 6 bulan sampai dengan 1 tahun.

Sebagian besar peralatan sudah ada. Yang belum ada dan masih sementara di-import adalah Reagen ekstraksi RNA. Sedangkan tiga petugas lab yang akan mengoperasikan lab ini telah kembali dari magang di lab BBLK Jakarta.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey mengungkapkan kendala belum beroperasinya laboratorium tes swab di Sulut adalah kesulitan mendapatkan reagen. Padahal peralatan untuk tes swab sudah disiapkan semua. Kendala tersebut diungkapkan Gubernur saat melakukan video teleconference dengan Kepala BNPB Doni Monardo dari Manado, Rabu (22/04/2020).

“Kita sudah siapkan laboratorium dan peralatan di rumah sakit umum daerah. Kita sudah beli semua tetapi terkendala susahnya mendapatkan ekstraksi reagen dari sana untuk dapat kita beli sehingga belum bisa beroperasi,” ungkap Gubernur yang saat itu didampingi Pangdam XIII/Merdeka Mayjen TNI Santos Gunawan Matondang.

Reagen adalah suatu ekstraksi yang dibutuhkan mendeteksi adanya Virus Corona melalui Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR).

Selain itu dikatakan Gubernur Olly, pusat laboratorium Kementerian Kesehatan yang ada di Sulut diharapkan sudah bisa beroperasi dalam waktu dekat sehingga tidak ada kendala lagi dalam mendapatkan hasil-hasil tes.

Menanggapi hal itu, Kepala BNPB Doni Monardo berjanji akan meneruskan setiap kendala kepada kementerian terkait supaya dapat segera diatasi.(hil/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here