Lebih Menakutkan dari Korona, TBC Sehari Telan 300 Nyawa

0
244

Amurang, SULUTREVIEW

Sejak awal tahun 2020 dunia diguncang dengan berita serangan virus Korona yang episentrumnya berada di Cina, tepatnya Kota Wuhan.

Beritanya dengan cepat menyebar, seiring juga penyebaran virus yang dinamakan Covid 19. Bahkan dampaknya luar biasa sampai mengguncang ekonomi dunia.

Sesuai data yang diperoleh korban jiwa sudah mencapai 3.085.

Menjadi pertanyaan apakah begitu menakutkannya Korona sehingga menimbulkan kepanikan warga dunia. Sebagai pembandingkan kita dapat melihat data yang menjadi korban TBC.

Di Indonesia sesuai data yang diperoleh tiap harinya 300 orang harus kehilangan nyawa. Sedangkan di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) sesuai data dari Dinas Kesehatan pada tahun 2018 ada 386 kasus dan 22 diantaranya meninggal dunia. Di mana pada tahun 2019, terdapat 505 warga yang terkena, 23 kehilangan nyawa.

Indonesia sendiri tercatat peringkat ketiga negara paling banyak penderita TBC di bawah Cina dan India.

Bagaimana dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang rutin tiap tahun menyerang Indonesia tiap awal tahun. Pada awal tahun lalu dari Kemenkes menyebutkan di bulan Januari saja ada 13.683 terserang DBD dengan kematian 133. Khusus di Minsel penderita DBD di 2018 ada 138 kasus dan mengakibatkan 2 meninggal dunia. Di 2019 terjadi peningkatan tajam dengan 205 kasus, 28 jiwa meninggal dunia.

Sementara itu, untuk tahun ini sudah 2 meninggal dari 98 kasus.

Kasus Koronavirus di Indonesia, sesuai keterangan pemerintah baru dua dinyatakan suspect dengan tidak ada kasus meninggal dunia.

Sulut termasuk Minsel, belum ada yang terditeksi dan relatif dikatakan aman. Sehingga serangan Korona masih jauh bila dibanding TBC dan DBD di Indonesia.

Karenanya masyarakat dimintakan dapat lebih tenang dan tidak panik yang justru dampaknya negatif bagi perekonomian juga keamanan.

“Sebaiknya warga tidak perlu panik, tapi tetap waspada terhadap Korona. Namun saya mintakan masyarakat jangan mengabaikan DBD yang dalam sebulan sudah 2 orang meninggal di Minsel. Ini disebabkan lingkungan kita kotor sehingga menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aides. Mari kita melakan bersih-bersih. Begitu juga dengan TBC yang angka kematiannya cukup tinggi,” jelas Kadis Kesehatan Minsel dr Edwin Schouten yang didampingi Kabid Linda Panambunan.(noh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here