MANADO, SULUTREVIEW
Universitas Sam Ratulangi (Unsrat)
menyediakan kursi bagi mahasiswa korban bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Kebijakan tersebut ditempuh oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), agar mahasiswa Palu dapat melanjutkan studi. Mengingat bencana telah melumpuhkan berbagai sektor termasuk pendidikan.
Diperkirakan ada ribuan mahasiswa Sulteng yang tidak bisa lagi melanjutkan proses perkuliahannya. Karena kampus mereka ambruk dan rusak berat. Salah satu kampus yang berhenti beroperasi adalah Universitas Tadulako (Untad) Palu.
Melalui program sit in tersebut, mahasiswa Untad tetap dapat melanjutkan kuliah di sejumlah universitas di Indonesia yang telah ditetapkan Kemenristekdikti, termasuk Unsrat sebagai kampus terdekat.
Rektor Unsrat, Prof Dr Ir Ellen Joan Kumaat MSc DEA menjelaskan, kebijakan ini disampaikan sebagaimana pengumuman resmi Majelis Rektor PTN se-Indonesia (MRPTNI) dan Forum Rektor Indonesia (FRI), di mana terdapat 37 perguruan tinggi di Indonesia termasuk Unsrat yang menyatakan kesediaan untuk membantu pelayanan pendidikan di Sulteng sebagai daerah yang terdampak bencana.
“Pelayanan pendidikan di Untad sudah tidak bisa lagi dilangsungkan hingga batas waktu yang belum dapat ditentukan. Makanya, Unsrat menyiapkan diri untuk menerima mahasiswa Untad,” kata Kumaat.
Lanjut kata Kumaat, mahasiswa Untad yang ditampung perkuliahannya, akan menjadi mahasiswa titipan di Unsrat. Dengan demikian, jika Untad sudah siap menerima kembali, mereka akan dipulangkan untuk melanjutkan kuliahnya di sana.
“Mahasiswa Untad dipersilakan untuk dapat mengikuti program sit in pada 11 fakultas yang ada di Unsrat,” kata Kumaat sembari menambahkan
ada prosedur program sit in bagi mahasiswa Untad.
“Mahasiswa dipersilakan segera menghubungi rektorat Unsrat atau dekan fakultas yang sesuai dengan jurusannya dengan membawa kartu mahasiswa. Selanjutnya data mahasiswa peserta program sit in tersebut akan dicatat dan dilaporkan ke Untad untuk mendapat konfirmasi dan persetujuan,” terangnya.
Ditambahkan pula, Unsrat juga bersedia menfasilitasi mahasiswa Untad yang akan menjalani program KKN. Di mana untuk semua kebijakan ini, Unsrat tidak memungut biaya sepeser pun pada mahasiswa Untad yang terdampak bencana.
“Silahkan datang dan mendaftarkan diri, kami akan melayani sebaik dan senyaman mungkin, sehingga mereka bisa kuliah kembali. Untuk nilai mata kuliah tetap akan menjadi tanggung jawab Untad,” jelas Kumaat.
Diketahui, kuliah sit in merupakan istilah untuk ikut duduk, melihat, mendengar, dan mengamati saat dosen mengajar.
Lebih jauh, Rektor dan segenap jajaran Unsrat ikut menyampaikan rasa dukacita dan belasungkawa atas bencana alam di Sulteng yang telah merenggut nyawa ribuan orang.
“Duka yang dirasakan masyarakat Sulteng juga menjadi duka kita semua khususnya civitas akademika Unsrat karenanya kami membuka pintu selebar-lebarnya bagi mahasiswa Untad yang terdampak bencana, agar bisa terus menempuh pendidikan dengan kuliah sementara di Unsrat, silahkan datang dan bergabung bersama kami,” ungkap rektor Kumaat. (eda/*)













