MANADO, SULUTREVIEW
Organisasi Pelayanan Siswa Kristen (Pelsis) Sulawesi Utara (Sulut), terus didorong untuk menjadi motor penggerak terciptanya generasi berkualitas yang memegang kendali tongkat estafet di masa mendatang.
Karenanya, para siswa yang ada diharapkan dapat menjawabnya melalui prestasi yang dicapai. Hal itu memang tidak mudah dan sangat ditentukan oleh peran tenaga pendidik yang ada.
“Saat ini banyak kepala sekolah dan guru cuma tahu terima gaji. Sementara tugas dan perannya untuk melakukan pembinaan bahkan ibadah kerap tidak dilaksanakan. Padahal siswa-siswa ini dituntut berprestasi,” kata Ketua Pelsis Sulut, Steven Liow pada kegiatan Temu Teknis Pemilihan Siswa Kristen Berprestasi Sulut dan Latihan Kepemimpinan Siswa Kristen di ruang Tumbelaka Kantor Gubernur Sulut, Senin (10/9/2018).

Tak tanggung-tanggung untuk siswa berprestasi, Liow mengatakan bahwa Pemprov Sulut telah mengalokasikan dana beasiswa.
“Pemprov Sulut telah menyiapkan beasiswa bagi siswa berprestasi, namun kurang mampu secara ekonomi,” ujarnya sembari mengajak siswa yang hadir agar tak segan-segan meningkatkan pengetahuan terutama Bahasa Inggris.
Menariknya, Liow juga mengatakan bahwa metode pembelajaran sebaya, menjadi sarana bagi pengembangan kualitas siswa. Karena antara siswa yang satu dengan lainnya akan saling mengedukasi.

“Kami juga menyampaikan terima kasih atas kepedulian para Kepsek, sehingga berhasil menciptakan sisws berkualitas.
Di sisi lain, Liow menyampaikan apresiasi atas sejumlah ajang pemilihan siswa berprestasi. Hanya saja, sangat disayangkan jika tahapannya tidak dilaksanakan secara fair.
“Kemarin saya ikuti remaja teladan GMIM, tetapi ini menurut saya paling buruk dalam sejarah. Karena hasilnya langsung 3 besar. Ini tidak sesuai mekanisme. Mustinya ada 12 besar, 6 besar, dan seterusnya,” tandasnya.(eda)













