MANADO, SULUTREVIEW
Pemerintah dalam waktu dekat ini bakal menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN). Adapun jenis SBN adalah Savings Bond Retail (SBR) seri 004 atau SBR004.
Menariknya, surat utang bagi investor ritel ini dijual secara online. Hal ini mengacu pada kesuksesan dari seri sebelumnya, yakni SBR003 pada Mei lalu.
SBR004 menawarkan keuntungan bagi investor, melalui pembayaran bunga atau kupon. Di mana modal awal bagi masyarakat investor yang ingin membantu negara pun sangat terjangkau, dengan nominal Rp 1 juta. Produknya dapat dibeli dengan kelipatan Rp1 juta, dengan maksimal Rp3 miliar per investor.
Karenanya, ini menjadi kesempatan bagi generasi milenial yang ada di Bumi Nyiur Melambai untuk berinvestasi.
Dijelaskan Direktur Surat Utang Negara (SUN) Loto Srinaita Ginting, pada dasarnya pemerintah bermaksud untuk melakukan perluasan berbasis investor. Dengan demikian fokusnya bukan pada volume omzet penerbitan.

“Peningkatan basis investor muda adalah target yang paling penting. Sebab kami melihat pada SBR 003 sebelumnya mungkin belum dapat terjangkau karena dulu kan investasinya itu minimal Rp 5 juta,” kata Ginting pada Forum Kajian Ekonomi & Keuangan Daerah Sulut serta Sosialisasi Penerbitan Saving Bond Seri SBR004, di aula Bank Indonesia Jumat (10/8/2018).
Lanjut kata Ginting, bahwa peningkatan investasi investor muda ini bergerak signifikan. “Jadi dari sisi volume kami tidak terlalu menargetkan besarannya tetapi justru yang kita lihat adalah tambahan jumlah investor baru khususnya investor-investor muda, supaya mereka juga suka mempunyai habbit untuk menabung atau berinvestasi,” jelasnya.
Semua generasi milenial yang memiliki pendapatan, diharapkan mau menyisihkan pendapatannya tidak hanya untuk konsumsi tapi sudah mulai ke tabungan atau ke investasi. Termasuk yang pemerintah sediakan saat ini, adalah alternatif investasi yang menarik dan aman. Karena kan dia bisa turun tingkat bunganya. Dalam artian tidak bisa turun tapi bisa naik karena ada tingkat bunga minimal kan seperti kami sampaikan karena dia tingkat bunganya mengambang,” ujarnya sembari menambahkan bahwa acuan SBR004 adalah BI seven days reverse repo rate.
“Nah selama BI seven days repo rate bergerak maka dia akan meningkat tapi riset kuponnya itu tiap 3 bulan . Jadi saving bond ritel yang kita terbitkan di Bulan Mei itu kuponnya 6,8% nanti akan direset menjadi 7,8% untuk 3 bulan ke depan,” sebutnya.
Jumlah investor yang tercatat di investasi ini mencapai 7 ribu lebih dari total yang terdaftar sekitar Rp10 ribu-an. “Kita harapkan investornya itu dari waktu ke waktu secara online semakin meningkat. Dan jika kita lihat sebesar 200% itu adalah investor yang dibawah 25 tahun. Jadi investor yang sangat milenial,” tandas Ginting.

Sebelumnya, Deputi Direktur Bidang Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, MHA Ridwan PhD mengatakan bahwa perilaku konsumsi di Sulawesi Utara (Sulut) ada dalam kategori cukup serius. Dengan capaian total kredit sebesar Rp35 triliu. Di luar Rp 43 triliun, dan sebesar 54 persen adalah kredit konsumsi. Di mana kredit modal kerja dan investasi sangat kecil. Berikut dana ke tiga yaitu deposito masyarakat.
“Dari kredit konsumsi 77 persen adalah kredit multiguna, yakni untum pembelian elektronik dan kebutuhan rumah tangga. Di mana dari 6 bank terbesar di Sulut ada 3 bank yang kredit konsumsinya besar,” sebut Ridhwan.
Perilaku konsumtif yang tinggi tersebut, lanjut Ridhwan diharapkan menjadi pilihan investasi SBR004, yang zerro risk atau risiko 0.
“Makanya BI dan Kementerian Keuangan berkolaborasi, mendorong investor untuk memanfaatkan peluang investasi ini,” ujarnya.
Ditambahkan Ridhwan, perilaku konsumtif yang tinggi, erat kaitannya dengan masalah budaya dan minimnya pengetahuan.
“Ke depan harus ada alokasi anggaran. SBR ini adalah bentuk saving atau investasi yang aman. Tetapi kami miris karena beberapa pengusaha eksportir lebih suka koleksi dollar. Kita harapkan melalui forum ini jika ingin Rupiah berdaulat, mari gunakan Rupiah. Jangan lebih suka uang asing,” tutupnya.
Turut hadir, Asisten Direktur Kantor Perwakilan BI Sulut, Gunawan, perbankan hingga pejabat di jajaran Pemprov Sulut.(hilda)






