BI dan Pondok Pesantren Wujudkan Keuangan Syariah

0
413

Manado, SULUTREVIEW – Menjawab kebutuhan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Pondok Pesantren, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mewujudkannya dengan Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Program Pengembangan Kemandirian Pondok Pesantren.

Dilatari oleh jumlah penduduk muslim di Indonesia yang mencapai 207 juta atau 82% dari total keseluruhan penduduk Indonesia.

Atas besarnya populas tersebut berpengaruh terhadap sisi kehidupan masyarakat. Baik di bidang sosial, budaya, politik, ekonomi hingga pendidikan. “Perkembangan ekonomi yang berlandaskan syariah Islam, saat ini tumbuh pesat sejak beberapa dekade terakhir. Sebut saja di bidang pendidikan, yang lebih dikenal dengan pondok pesantren,’ ungkap Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut, Soekowardojo pada penandatanganan perjanjian kerjasama, Selasa (21/11/2017).

Menurut data Kementerian Agama tahun 2005, jumlah pesantren mencapai 14.798 dengan jumlah santri 3.464.334. Menariknya, pada tahun 2012 jumlah pesantren meningkat tajam mencapai 27.230 dengan jumlah santri 3.759.198. Dan data terakhir pada tahun 2013 jumlah pesantren mencapai 29.535 dengan jumlah santri sebanyak 3.876.696.

“Hal ini menunjukkan pondok pesantren memiliki potensi besar untuk terus berkembang, terutama pada aspek ekonomi,” kata Soekowardojo.

Lanjut kata Soekowardojo, bisnis syariah terus mengalami pergerakan, seperti sektor pertanian, perikanan, sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pesantren.

“Pesantren memiliki potensi untuk pemberdayaan ekonomi. Sebab sebagian besar pesantren merupakan pusat ekonomi desa. Di mana alumni pesantren berpotensi untuk menjadi wirausaha,’ bebernya.

Alumni pondok pesantren yang mencapai ribuan hingga puluhan ribu, jadi pendorong tumbuhnya wirausaha. “Ribuan wirausaha dari alumni ponpes akan menjadi wirausaha yang berbudi dan amanah,” sebutnya sembari menambahkan wirausaha ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan sektor riil, serta ketahanan pangan dan pengendalian infasi daerah.

“Dengan bertambahnya jumlah wirausaha, pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Lapangan kerja terbuka sehingga pengangguran akan berkurang, yang kesemuanya untuk kesejahteraan rakyat,” tandasnya.

Tiurut hadir Kepala Kantor Wilayah Kementn’an Agama, yang diwakili Basri SAg MPd, Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Utara, Ustad Abdul Wahab Abdul Gofur, pimpinan pondok pesantren Assalam Manado, Ustad Junaedy, pimpinan pondok pesantren Darul Istiqomah, Ustad Muyasir Arif.(hilda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here