Hengky Honandar & Ketua Sinode Gmim Pdt Dr Adolf Wenas M.Th Teken MoU Jadikan Replika Bait Suci Jadi Wisata Religi

Bitung, Sulutreview.com– Replika Bait Suci yang berada di kelurahaan Doorbolaang Pulau Lembeh akan menjadi lokasi Pariwisata Religius.

Hal ini ditandai dengan adanya penandatangan kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU) bersama antara Pemerintah Kota Bitung dengan Sinode GMIM terkait pengembangan destinasi wisata religi Bait Suci Dorbolaang di Pulau Lembeh.

Penandatanganan tersebut dilakukan langsung oleh Wali Kota Bitung, Hengky Honandar SE., bersama Ketua Sinode GMIM, Pdt Dr Adolf Wenas M.Th., bertempat di GMIM Tasik Tiberias Madidir, Minggu (22/2/2026).

Momentum ini dirangkaikan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 48 jemaat GMIM Tasik Tiberias yang berlangsung dalam suasana sukacita, sekaligus menandai langkah strategis kolaborasi antara Pemerintah daerah dan Sinode GMIM dalam mendorong pengembangan wisata religi di Doorbolang, Kecamatan Lembeh Selatan, Kota Bitung.

Dikesempatan yang sama, Ketua BPMS GMIM, Pdt Dr Adolf Wenas M.Th, secara resmi melantik Panitia Peresmian Replika Bait Suci. Pelantikan ini menjadi bagian penting dalam tahapan persiapan peresmian bangunan yang akan menjadi salah satu ikon wisata religi di daerah kepulauan Kota Bitung.

Usia penandatanganan, Wali Kota Hengky Honandar mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Sinode GMIM dan semua pihak atas kolaborasi yang telah terjalin dalam membangun serta mempersiapkan Bait Suci ini.

Wali Kota juga menegaskan bahwa kesepakatan ini merupakan komitmen nyata pemerintah kota Bitung dalam mendukung pengembangan wisata religi berdasarkan nilai spiritual dan kearifan lokal.

“Wisata religi Bait Suci Dorbolaang memiliki nilai iman, sejarah, dan budaya yang sangat besar. Kami berkomitmen mendukung pengembangan tempat tersebut menjadi ikon wisata religi yang membanggakan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Hengky Honandar.

Selain itu, pengembangan wisata religi ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya di wilayah Pulau Lembeh.

Kehadiran bangunan ini diharapkan tidak hanya menjadi simbol spiritual, akan tetapi mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui pengembangan destinasi wisata religi,” tambah Hengky Honandar.

Sementara itu, pihak Sinode GMIM menyambut baik kerja sama tersebut, sebagai wujud nyata sinergi gereja dan pemerintah daerah dalam pelayanan kepada masyarakat, tidak hanya dalam aspek rohani, melainkan juga dalam pembangunan sosial dan budaya.(zet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *