Manado, Sulutreview.com – Budaya menabung di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) hingga Juni 2025, tumbuh signifikan. Total jumlah rekening tabungan telah mencapai 4,84 juta rekening dengan besaran nominal yang mencapai Rp19,10 triliun atau meningkat sebesar 7,94% year on year dibandingkan Juni 2024.
“Jika kita bandingkan dengan data masyarakat Sulut pada tahun 2024 yang hanya sekitar 2,7 juta penduduk, maka jumlah rekening tabungan ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang telah memiliki lebih dari satu rekening tabungan,” ungkap Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulutgomalut Robert Sianipar saat hadir di puncak Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan Provinsi Sulawesi Utara 2025, di aula Mapalus Kantor Gubernur, Rabu (20/08/2025).
Capaian tersebut, menurut Sianipar mencerminkan semakin kuatnya kesadaran menabung dan semakin meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan jasa keuangan. “Budaya menabung ini juga terus tumbuh positif tercermin dari peningkatan jumlah rekening dan nominal tabungan secara konsisten dalam tiga tahun terakhir,” ujarnya.
Tren menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk menabung, ungkap Sianipar, tidak hanya bersifat sesaat tetapi sudah mulai mengakar sebagi bagian dari perilaku keuangan yang sehat.
Di mana pemerintah bersama OJK juga telah menginisiasi program satu rekening satu pelajar (Kejar) yang mendorong kepemilikan rekening bank oleh pelajar di Indonesia.
“Selama periode HIM di Provinsi Sulut, program Kejar telah berhasil mencapai
1.098 peserta dengan total simpanan mencapai angka Rp4,75 miliar,” rincinya.
Program Kejar, lanjutnya, tidak semata diarahkan untuk memperluas jumlah rekening yang dibuka oleh para pelajar, melainkan untuk memastikan bahwa rekening tersebut benar-benar aktif dipergunakan, memberikan manfaat nyata disertai dengan edukasi keuangan yang memadai.
“Sehingga generasi muda dibekali bukan hanya akses formal layanan perbankan , tetapi juga pemahaman praktis mengenai bagaimana mengelola tabungan, memahami transaksi digital dan merencanakan keuangan pribadi secara bijak dan berkelanjutan,” tukasnya.
Indeks literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia, sebut Sianipar, masih menunjukkan adanya gab, di mana indeks literasi menunjukkan angka 66,46% dan indeks inklusi di angka 80,51%.
Hal tersebut menunjukkan bahwa belum seluruh masyarakat Indonesia memiliki pemahaman terkait produk keuangan dan belum seluruhnya masyarakat Indonesia memiliki akses dan produk keuangan. “Hari Menabung Indonesia ini, untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia secara masif dan merata,” tandasnya.
Kepala Biro Perekonomian Setdaprov Sulut, Reza Dotulung mengatakan program Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar) yang digalakkan oleh OJK merupakan inisiatif luar biasa.
“Program ini membuka akses keuangan seluas-luasnya bagi generasi muda, sekaligus mendukung terciptanya inklusi keuangan yang lebih merata. Dengan memiliki rekening, para pelajar belajar bertanggung jawab terhadap pengelolaan uang, memahami arti investasi masa depan, dan terhindar dari perilaku konsumtif yang berlebihan,” katanya.
Reza menambahkan, hidup di era digital yang ditandai dengan perkembangan teknologi keuangan yang begitu cepat, memberikan peluang besar, namun di sisi lain membawa tantangan, terutama terkait literasi keuangan masyarakat. Kemudahan akses terhadap layanan keuangan digital memang membawa banyak manfaat, tetapi sekaligus membuka celah bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan penipuan dan eksploitasi terhadap masyarakat.
“Fakta menunjukkan bahwa tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat Indonesia masih perlu ditingkatkan agar seimbang dengan perkembangan teknologi digital,” ujarnya.(hilda)













