Arbonas Ungkap Strategi Kendalikan Inflasi

Arbonas Hutabarat bersama Wagub Steven Kandouw. Foto : istimewa

Manado, Sulutreview.com – Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) 2022 pada awal Mei 2022 ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara Arbonas Hutabarat menggelar High Level Meeting TPID dan TP2DD Sulawesi Utara tahun 2022 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Rabu (20/4/2022).

Pengendalian inflasi memiliki peran penting, di mana bulan Maret 2022, inflasi Kota Manado tercatat sebesar 0,40% mtm, sementara Kotamobagu tercatat sebesar 0,87% mtm.

“Angka inflasi ini cenderung meningkat dari bulan sebelumnya, terutama didorong oleh peningkatan ongkos angkutan udara, harga cabai rawit, bawang merah, dan minyak goreng di kota Manado, serta kenaikan harga cakalang diawetkan di Kotamobagu,” kata Arbonas.

Namun untuk komoditas perikanan di kedua kota IHK tersebut selama Maret 2022 mengalami deflasi.

Menjelang Idul Fitri ini, perlu lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap tekanan inflasi. Hal ini karena memang secara historis tekanan inflasi menjelang periode HBKN akan cenderung meningkat dengan rata-rata tekanan inflasi pada empat tahun terakhir sebesar 0,39% (mtm) pada periode HBKN. “Untuk bulan April 2022 ini, beberapa komoditas yang ditengarai akan menjadi pendorong inflasi adalah komoditas yang harganya diatur pemerintah seperti bahan bakar dan angkutan udara,” tukasnya.

Sementara komoditas yang harganya bergejolak seperti minyak goreng diperkirakan juga masih mengalami kenaikan, di samping komoditas inflasi inti seperti barang elektronik dan kebutuhan pribadi lainnya yang berpotensi meningkat di tengah pemberlakuan PPN 11%.

Terkait hal itu, berdasarkan Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan oleh Bank Indonesia Sulawesi Utara sampai dengan minggu pertama bulan April 2022, kami telah memantau pergerakan kenaikan harga beberapa komoditas seperti cabai rawit, tomat, cabai besar, minyak goreng, daging sapi, dan telur ayam ras.

“Kami berharap bahwa seluruh kabupaten/kota dapat memperhatikan perkembangan harga komoditas strategis di masing-masing daerah, serta melanjutkan upaya pemantauan harga serta pasokan terutama pada masa Ramadhan dan Idul Fitri 2022,” ujarnya.

Dalam upaya penanganan inflasi ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID Provinsi Sulawesi Utara telah melakukan langkah awal yang baik dengan penyusunan Peta Jalan Pengendalian Inflasi 2022-2024.

Peta Jalan ini juga telah menjadi pedoman di Kabupaten/Kota dalam penyusunan roadmap serupa di wilayah kerja masing-masing. Menjelang periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri ini, kami meng highlight beberapa sub-program yang kiranya penting kita lakukan bersama yakni:

  1. Peningkatan stabilisasi harga dan stok bahan pokok melalui koordinasi pemerintah pusat, daerah, dan satgas pangan;
  2. Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah;
  3. Fasilitasi distribusi pangan oleh Toko Tani Indonesia Center (TTIC);
  4. Peningkatan kualitas dan keakuratan data harga dan pasokan;
  5. Menjaga ekspektasi masyarakat melalui komunikasi rutin dan media terpercaya

“Dalam upaya menjaga kestabilan harga ini, terdapat fenomena unik yang kami amati. Apabila kita melihat data yang kita peroleh dari BPS, Beberapa kabupaten di Sulawesi Utara pada dasarnya mencatatkan surplus komoditas beras dan cabai rawit,” jelasnya.

Namun anehnya, kata Arbonas, kabupaten yang berdekatan atau bahkan kabupaten produsen komoditas itu sendiri, masih membeli pasokan dari luar daerah Sulut untuk komoditas yang sama.

“Dugaan sementara kami adalah, bahwa kemungkinan adanya asymmetric information antar pedagang yang membuat pedagang yang saling berdekatan, merasa lebih nyaman berdagang dengan pedagang lain di daerah yang berjauhan,” ungkapnya.

Kemungkinan pula ada perbedaan preferensi perhadap varietas atau jenis komoditas yang diinginkan, atau perbedaan waktu panen.

Untuk itu, Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara berinisiatif untuk melakukan pemetaan jaringan pedagang di seluruh Kabupaten/Kota di Sulawesi Utara sehingga kita dapat memiliki neural network dari commodity trading yang ada di seluruh kabupaten/kota.

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Sulawesi Utara Drs. Steven O.E. Kandouw mengatakan kegiatan ini sangat relevan.

“Ini sangat relevan di tengah upaya kita membangkitkan perekonomian pasca diterjang pandemi, memulihkan ekonomi di daerah dengan percepatan dan perluasan digitalisasi, dan tentunya memastikan inflasi di daerah tetap terkendali, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri yang kesemuanya adalah untuk mendukung dan menciptakan kemajuan di daerah Bumi Nyiur Melambai,” jelasnya.

Karena kecenderungan-kecenderungan peningkatan inflasi kerap terjadi menjelang perayaan Idul Fitri. Kata Kandouw, hal itu disebabkan harga komoditas yang bergejolak bahkan mengalami kenaikan.

“Untuk mengantisipasi lonjakan harga, maka saya mengharapkan seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Utara, dapat memperhatikan perkembangan harga dan pasokan komoditas strategis di daerah masing-masing, serta menerapkan Peta Jalan Pengendalian Inflasi sebagimana telah disusun oleh masing-masing TPID,” jelasnya.

Turut hadir, Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Asiano Gammy Kawatu, SE., M.Si, Bupati dan Walikota se-Sulut ,
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) SulutGoMalut, Darwisman, Kepala BPS Sulawesi Utara, Bapak Asim Saputra, Direktur Utama Bank Sulut Go, Revino Pepah.(eda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *