Kendalikan Inflasi, Arbonas : Jaga Stabilitas dan Ketersediaan Pasokan

0
41
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Arbonas Hutabarat

Manado, Sukutreview.com – Kenaikan harga cabai rawit (rica) seiring dengan berlangsungnya aktivitas masyarakat telah memberikan kontribusi inflasi Kota Manado, pada Maret 2021.

Indeks Harga Konsumen (IHK) kota Manado tercatat inflasi 0,17% (mtm) sementara IHK kota Kotamobagu terdeflasi sebesar 0,33% (mtm).

Angka inflasi Manado tercatat lebih tinggi jika
dibandingkan Februari 2021 yang tercatat inflasi 0,04% (mtm). Sementara itu, angka inflasi Kotamobagu tercatat lebih rendah yakni deflasi sebesar 0,21% pada periode yang sama.

Inflasi tahunan Manado dan Kotamobagu pada Maret 2021 masing-masing tercatat sebesar 1,65% (yoy) dan 1,94% (yoy) yakni masih berada di bawah rentang target inflasi nasional 3±1% (yoy).

Adapun secara nasional, IHK bulan Maret 2021 tercatat inflasi sebesar 0,08% (mtm) dengan laju inflasi tahunan sebesar 1,37% (yoy), juga berada dibawah rentang target tersebut.

Menanggapi pergerakan IHK Manado dan Kotamobagu, Bank Indonesia dan TPID Sulawesi Utara memandang bahwa kenaikan tekanan inflasi tidak terlepas dari peningkatan aktivitas masyarakat
Sulut.

Aktivitas ekonomi pada Maret pada sektor grosir dan farmasi hingga minggu keempat 28 Maret 2021 tercatat sebesar 2,64% di atas tingkat aktivitas pra COVID-19 (baseline).

Angka tersebut naik dibandingkan bulan sebelumnya yang masih 3,82% di bawah baseline. Hal ini sejalan dengan penurunan kasus aktif COVID-19 Sulut sepanjang Januari-Februari sehingga mendorong pemerintah mencabut kebijakan pembatasan jam operasional.

“Ke depan, aktivitas masyarakat diperkirakan semakin meningkat sejalan dengan penurunan kasus aktif COVID-19 di Sulut, percepatan vaksinasi penangangan pandemi yang semakin baik serta masuknya periode permintaan tinggi pada bulan Ramadhan dan hari raya Paskah,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara, Arbonas Hutabarat, pada Kamis (01/4/2021).

Meski demikian, kondisi tersebut diperkirakan memberikan tekanan inflasi baik di Manado maupun Kotamobagu pada bulan April dan Mei 2021.

Ke depan, pengendalian inflasi masih akan dipengaruhi oleh dinamika aktivitas ekonomi masyarakat.

Berbagai upaya untuk menurunkan kurva kasus aktif COVID-19 di Sulawesi Utara menjadi prasyarat untuk mendorong kembali kenaikan aktivitas ekonomi. Meski berisiko memberikan tekanan inflasi, peningkatan aktivitas diperlukan untuk menjaga permintaan dan mendorong pemulihan ekonomi daerah.

“Oleh karena itu, diperlukan stabilitas harga dan pasokan terutama menjelang perayaan paskah dan Idul Fitri,” ujarnya.

Adapun untuk tetap mengendalikan tekanan
inlasi pada targetnya, Bank Indonesia memandang pentingnya sinergi seluruh Dinas dan Kementerian/Lembaga terkait untuk menjaga ketersediaan pasokan komoditas strategis.

Ketersediaan pasokan dan manajemen stok pangan akan lebih efektif dan efisien bila dilakukan antar daerah dengan memanfaatkan sumber daya daerah yang berlebih.

Koordinasi lintas TPID kabupaten/kota terutama dengan TPID di wilayah produsen pangan termasuk implementasi kesepakatan Kerjasama Antar Daerah (KAD), penting diperkuat untuk mengantisipasi potensi permasalahan pasokan, distribusi maupun keterjangkauan harga secara dini. Selain itu, sejalan dengan peningkatan aktivitas sosial ekonomi dan masyarakat, pengendalian pandemi COVID-19 yang tetap menjaga realisasi konsumsi masih perlu menjadi perhatian.

Pemanfaatan platform penjualan online oleh petani dan/atau pedagang pasar, termasuk penggunaan QRIS dalam transaksi dapat menjadi solusi menjaga pergerakan perekonomian dan mempercepat digitalisasi ekonomi dan keuangan di Sulut.(srv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here