Manado, Sulutreview.com – Stabilitas harga di Bumi Nyiur Melambai tetap terjaga di tengah dinamika dan tantangan ekonomi global dan nasional.
Sepanjang tahun 2025, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mencatatkan tingkat inflasi terendah secara nasional, yakni sebesar 1,23 persen year on year (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara (KPw BI Sulut), Joko Supratikto, menjelaskan bahwa rendahnya inflasi tidak lepas dari peran sektor pangan yang solid sepanjang tahun.
Panen raya yang berlangsung di berbagai daerah, ditambah pasokan melimpah dari wilayah pemasok, mampu menjaga harga komoditas pangan utama tetap stabil di pasaran.
“Pasokan yang terjaga membuat harga tetap terkendali. Ini tentu memberikan dampak positif bagi daya beli masyarakat,” ujarnya.
Secara tahunan, inflasi 2025 justru lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga emas perhiasan. Lonjakan harga emas global akibat gejolak geopolitik turut mendorong peningkatan inflasi dari kelompok inti.
“Meski demikian, tekanan inflasi tersebut masih dalam batas yang terkendali,” ujarnya.
Di sisi lain, komoditas daging babi berperan menahan laju inflasi. Setelah sempat mengalami kelangkaan akibat wabah African Swine Fever (ASF), ketersediaan stok kini berangsur pulih.
“Pemulihan ini membantu menjaga keseimbangan harga di pasar dan meringankan beban konsumen,” tukasnya.
Memasuki Januari 2026, inflasi tahunan di Sulut mengalami kenaikan yang terutama dipengaruhi oleh kelompok administered prices. Penyesuaian tarif listrik yang dilakukan pada tahun sebelumnya memberikan dampak lanjutan pada inflasi awal tahun. Selain itu, kenaikan harga emas perhiasan kembali menjadi pendorong inflasi inti.
Sementara itu, secara bulanan, tekanan inflasi lebih banyak berasal dari kelompok volatile food. Curah hujan yang tinggi menyebabkan penurunan produksi pertanian, khususnya komoditas tomat.
“Kondisi cuaca juga membatasi aktivitas nelayan, sehingga pasokan hasil perikanan tangkap berkurang dan memicu kenaikan harga,” jelasnya.
Meski menghadapi tantangan cuaca dan dinamika global, inflasi Sulut tetap berada dalam rentang yang terkendali. Sinergi antara pemerintah daerah, BI dan para pelaku usaha dinilai menjadi kunci dalam menjaga kestabilan harga dan melindungi daya beli masyarakat.
“Dengan fondasi yang kuat dari sektor pangan dan koordinasi yang solid antar pemangku kepentingan, Sulawesi Utara optimistis mampu mempertahankan stabilitas inflasi sepanjang 2026,” pungkasnya.(hilda)













