Yaki Youth Camp Jadi Ajang Edukasi Konservasi 48 Pelajar Minsel

Minsel, Sulutreview.com – Sebanyak 48 siswa-siswi SMA/SMK dan MA se-Kabupaten Minahasa Selatan mengikuti Program Edukasi Konservasi Yaki melalui kegiatan Yaki Youth Camp.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Kampanye Kebanggaan Yaki Kabupaten Minahasa Selatan, hasil kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, BKSDA Sulawesi Utara, dan Program Selamatkan Yaki dalam upaya membangun rasa bangga dan kepedulian terhadap yaki sebagai satwa endemik Sulawesi Utara yang sangat terancam punah dan dilindungi, beserta habitatnya.

Yaki Youth Camp dilaksanakan selama empat hari, 13–16 Februari 2026, di beberapa lokasi. Kegiatan diawali di Taman Wisata Alam Batu Putih dengan pengamatan langsung terhadap yaki dan satwa liar lainnya di habitat alaminya.

Para peserta kemudian mengunjungi Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Tasikoki di Bitung untuk melihat satwa-satwa hasil penyelamatan dari perburuan, perdagangan, dan tindakan ilegal lainnya. Rangkaian kegiatan ditutup di Pusat Budaya Sulawesi Pa’ Dior, Tompaso, Minahasa, melalui sesi refleksi, diskusi, dan penguatan materi.

Kegiatan ini dikoordinasikan bersama Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Minahasa Selatan guna memastikan keterlibatan aktif pelajar tingkat SMA/SMK dan MA sebagai generasi penerus daerah.

Program Manager Selamatkan Yaki, Reyni Palohoen, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan peserta tentang yaki dan habitatnya, membangun empati terhadap alam, serta memberdayakan mereka sebagai utusan sekolah yang akan berperan sebagai Duta Yaki.

“Sebagai duta, mereka harus siap dari segi pengetahuan, empati, dan karakter. Karena itu, kegiatan selama empat hari tiga malam ini dirancang secara dua arah, dengan komposisi 30 persen materi dan 70 persen diskusi agar peserta lebih aktif dan terlibat,” jelas Reyni.

Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Sulawesi Utara, Hendrik Rundengan, S.Hut, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, program tersebut sangat positif dalam meningkatkan kapasitas pelajar sebagai generasi muda yang peduli konservasi.

“Kalian melihat langsung yaki, mengenal manfaat dan keunikannya. BKSDA Sulawesi Utara bangga dengan adik-adik yang terlibat dalam kegiatan konservasi. Jika menemukan perburuan, pemeliharaan yaki, atau tindakan ilegal lainnya, silakan melaporkannya melalui media sosial resmi BKSDA,” ujarnya.

Apresiasi serupa disampaikan Arie Toloh, S.E., Kepala Cabang Dinas Pendidikan Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara. Dari target 50 peserta, sebanyak 48 siswa mengikuti kegiatan hingga tuntas.

“Ini kesempatan berharga yang tidak semua siswa dapatkan. Saya bangga melihat semangat kalian. Meski sempat ada peserta yang kurang sehat, panitia bergerak cepat melakukan penanganan sehingga kegiatan tetap berjalan dengan baik,” ungkapnya saat penutupan acara di Pa’ Dior Minahasa, Senin (16/2/2026).

Ia berharap para peserta siap menjadi duta yang menyebarkan pesan pelestarian yaki dan habitatnya di Kabupaten Minahasa Selatan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Wilia Lintang dari SMA Negeri 1 Amurang mengaku sangat terkesan karena dapat menjelajahi hutan dan melihat yaki secara langsung di habitat alaminya, serta memahami dampak perburuan dan perdagangan ilegal melalui kunjungan ke PPS Tasikoki.

“Banyak materi dan kegiatan seru. Saya mendapat teman baru, belajar pentingnya melindungi yaki, dan termotivasi menjadi pribadi yang lebih bermanfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Jeferson Hart Koyong dari SMK Rembang Amurang Barat mengaku awalnya kurang percaya diri, namun suasana kebersamaan membuatnya lebih nyaman dan berani.

“Awalnya saya malu, tapi lama-lama jadi lebih percaya diri karena teman-temannya asyik. Senang sekali bisa ikut kegiatan ini. Semoga kita bisa berkumpul lagi,” katanya.

Ke depan, para Duta Yaki Minahasa Selatan 2026 akan mengikuti rangkaian kegiatan lanjutan untuk memperkuat kapasitas dan peran mereka dalam menyuarakan pelestarian yaki dan alam di daerahnya.

Yaki Youth Camp 2026 didukung pendanaannya oleh GIVSKUD ZOOTOPIA dan Mandai Nature sebagai bentuk komitmen internasional dalam mendukung konservasi spesies terancam punah serta penguatan peran generasi muda dalam perlindungan satwa liar.(srv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *