Fasilitas SRG di Sulut Mangkrak, Wamendag Cari Solusi

Wamendag Jerry Sambuaga hadir pada Rapat Koordinasi Pengembangan Sistem Resi Gudang Wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara dan Maluku yang digelar di hotel Swisbell, Kamis (15/4/2021).
IMG-20210818-WA0009

Manado, Sulutreview.com – Fasilitas Sistem Resi Gudang (SRG) sejatinya dapat membantu para petani menstabilkan harga saat panen raya tiba. Bahkan melalui SRG, petani dan nelayan dapat menjual komoditi dengan harga terbaik.

Untuk itulah pemerintah berupaya dengan menyediakan fasilitas SRG berupa gudang sebagai tempat penyimpan hasil pertanian, perkebunan hingga perikanan.

Bacaan Lainnya

Kepala Badan Pengawasan Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Sidharta Utama mengungkap data bahwa, untuk Sulawesi Utara (Sulut) telah disediakan dua unit SRG yang dibangun di dua wilayah, sejak tahun 2009, yakni di Mongoyunggung Bolaang Mongondow (Bolmong) dan Desa Kapitu Minahasa Selatan (Minsel).

“Ada lima SRG yang kita siapkan di lima daerah, yaitu di Gorontalo, Pohuwato, Bolmong dan Minsel. Namun fasilitas yang sangat bermanfaat bagi petani, karena dapat menjual kepada konsumen akhir dengan harga lebih tinggi belum dimanfaatkan,” ujarnya pada Rapat Koordinasi Pengembangan Sistem Resi Gudang Wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Maluku Utara dan Maluku yang digelar di hotel Swisbell, Kamis (15/4/2021).

Manfaat SRG lainnya, sambung Sidharta, komoditi yang ditempatkan di gudang dapat diproses lebih lanjut. Misalnya saja, dari gabah menjadi beras yang ada nilai tambahnya ketika dijual ke retail.

“Manfaatnya sangat tinggi, makanya pemerintah telah membangun RSG dengan harapan gudang dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan nelayan,” tukasnya sambil menambahkan pemerintah telah menyediakan 123 RSG.

Menyikapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sulut, Edwin Kindangen berharap kendala pemanfaatan RSG dapat secepatnya diatasi.

“Terkait SRG di Sulut, yang ada di Kapitu Minsel dan Mongoyunggung Bolmong belum beroperasi maksimal. Lewat pertemuan ini, kiranya dapat menjadi awal untuk operasional SRG yang sangat bermanfaat bagi petani,” sebut Kindangen.

Menurut Kindangen, salah satu kendala SRG adalah, banyaknya petani yang terjebak dengan praktik ijon, di mana hasil pertanian telah dijual dengan sangat murah.

“Petani yang kesulitan meminjam dana ke perbankan, lebih memilih menggadaikan dan menjual hasil pertanian dengan harga yang rendah. Hal ini juga merupakan kendala untuk SRG,” ujarnya.

Kindangen berharap saat mewujudkan RSG, barang yang disimpan di gudang tetap memperhatikan daya simpan dan standar mutu.

Menyikapi berbagai persoalan yang ada, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Jerry Sambuaga turun langsung untuk mendengar diskusi teknis dengan sejumlah kepala daerah yang wilayahnya terdapat SRG.

“Melalui diskusi teknis ini, berbagai kendala operasional SRG di Sulut dapat diselesaikan. Karena fasilitas SRG yang diberikan Kemendag untuk daerah adalah untuk kesejahteraan petani,” ucapnya.

“Kita datang, kita hadir dan kita melihat kendalanya apa. Selanjutnya itu bukan domain Kemendag. Hanya atensi dengan meminta Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan perbankan untuk dapat membantu petani,” tegasnya.

Fasilitas SRG yang telah diserahkan ke daerah, sebut Sambuaga, agar dapat diselesaikan supaya petani bisa menyimpan komoditi di gudang. Selanjutnya dapat diagunkan ke bank. “Ini merupakan instrumen yang penting, untuk tunda jual di saat harga membaik,” kuncinya.

Sebelumnya, Bupati Minsel Franky D Wongkar menjelaskan kondisi bangunan SRG sudah rusak parah.

“Bangunannya banyak yang rusak, mesinnya sudah hilang,” kata Wongkar yang hadir dalam diskusi teknis.(eda)

banner 300x250