PETI Kembali Marak, Sungai Ranoyapo Terancam Jadi ‘Minimata’

0
179

Amurang, Sulutreview.com

Aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Desa Tokin, Minahasa Selatan kembali marak.

Info yang diperoleh maraknya tambang tersebut, disebabkan provokasi sejumlah oknum, bahayanya ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan hidup. Ancaman tidak lepas dari penggunaan bahan kimia berbahaya berupa air perak dan sianida yang tidak dibuang langsung ke alam.

Karenanya Polres Minsel dimintakan bertindak tegas melakukan penertiban.

“Akan sangat mahal biaya yang harus kita tanggung bila tambang liar dibiarkan. Sebab mereka ini tidak memiliki instalasi pengolah limbah berbahaya sebelum membuang bahan kimia berabahaya hasil mengolah emas. Kita tentu tidak menginginkan kejadian Minimata di Jepang terjadi disini. Kan kita tidak menginginkan membiarkan anak cucu kita menanggung dosa kita,” ungkap tokoh Minsel Wem Mononimar, Kamis (05/03/20).

Menurutnya ketegasan sangat diperlukan demi melindungi alam kita. Pelaku dan provokator harus diamankan serta mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Sebab apapun alasan yang diberikan tidak dapat dibenarkan. Jangan sampai kendor atau malah aparat hukum ‘tutup’ mata. Sedangkan Kapolda diberitakan akan ‘menyikat’ tambang ilegal.

Aktivitas PETI

“Harusnya seluruh usaha dilakukan secara legal. Apalagi berupa pertambangan yang selain merubah bentang alam juga menggunakan bahan kimia berbahaya. Tanpa izin maka otomatis tidak ada pengelolaan limbah. Kami sendiri mendorong kalau mau, buat Wilayah Tambang Rakyat sehingga menjadi legal dan didalamnya ada pengolaan limbah,” paparnya.

Dari informasi tambang ilegal yang sedang berjalan yang saat ini ada di Desa Tokin.

Kembalinya aktivitas tambang ilegal dikarenakan hasutan dari tokoh masyarakat setempat. Dikhawatirkan bila dibiarkan memberi dampak buruk bagi masyarakat. Negara sendiri dirugikan lantaran tidak mendapat royalti.(noh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here