Kendalikan Inflasi, BI dan TPID Sulut Panen Cabai Rawit

IMG-20210818-WA0009

Manado, SULUTREVIEW -Komoditas cabai rawit yang kerap mengalami lonjakan harga cukup siginifikan, menjadi perhatian serius Bank Indonesia (BI) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara (Sulut).

Karenanya, BI dan TPID Sulut sangat berharap dengan adanya panen raya cabai rawit yang dipusatkan di daerah Paniki III Kecamatan Mapanget Manado pada Jumat ( 26/5/2017) tersebut, dapat mengendalikan inflasi.

Bacaan Lainnya

“Harga cabai rawit saat ini sangat fluktuatif. Kendati selama empat bulan terakhir tidak menjadi penyebab utama inflasi. Namun fluktuasinya tinggi,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Soekowardojo saat panen raya cabai rawit, Jumat (26/5/2017).

Panen yang dilakukan sebagai upaya pengendalian inflasi, khususnya menghadapi bulan Ramadan 2017, menurut Soekowardojo, sangat penting agar tidak terjadi lonjakan harga. Mengingat inflasi di Sulut saat ini selama 4 bulan sebesar 2,49 persen. “Padahal sepanjang tahun 2016 sebesar 0,35 persen. Untuk itu harus menjadi perhatian bersama,” ucapnya.

Dari 400 lebih komponen yang dikonsumsi masyarakat Manado, ada dua yang perlu mendapat perhatian, yaitu tomat sayur dan tarif dasar listrik. Dua komponen tersebut telah menyumbangkan 1,5 persen lebih untuk inflasi. “Oleh karena itu tomat sayur harganya harus terjaga dengan baik, kalaupun terjadi kenaikan, namun dalam batas yang normal. Terlebih saat ini menjelang Ramadan dan Idul Fitri serta pengucapan. Dalam momen tersebut kebutuhan masyarakat meningkat,” ungkapnya

Kepala BI Sulut Soekowardojo di sela-sela panen cabai rawit.

Soekowardojo kembali menjelaskan inflasi harus dijaga agar rendah dan stabil. Sebab jika tinggi bisa mengikis nilai mata uang. Contohnya jika saat ini dengan uang Rp100.000 bisa membeli beras sebanyak  10 kilogran. Jika terjadi inflasi 10 persen, pada tahun depan dengan nilai uang yang sama hanya dapat membeli 9 kilogram beras. “Satu kilogramnya tergerus oleh inflasi,” tandasnya sembari menambahkan jika inflasi tinggi juga akan berpengaruh kepada jumlah warga miskin yang akan bertambah. Oleh karena itu inflasi harus menjadi perhatian bersama.

 

Cabai rawit yang ditanam Kelompok Tani Mapalus berjumlah 20.000 pohon. Jika setiap pohon menghasilkan 1 kilogram berarti akan menghasilkan 2 ton cabai rawit. “Dengan demikian diharapkan dapat menjaga pasokan cabai rawit, apalagi saat ini menjelang Ramadan dan Idul Fitri serta pengucapan,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertanak) Sulut, Arie Bororing mengungkapkan Gerakan Batanang Rica dan Tomat (Barito) merupakan tindakan nyata yang dilakukan  BI untuk menanggulangi inflasi bersama TPID. “Saat ini Dispertanak selain menanam pangan juga holtikultura, khusus tomat dan cabai rawit,” sebutnya.

Tak itu saja, pihaknya juga telah berupaya untuk menjaga pasokan di antaranya  dengan program ASN menanam, PKK menanam. Karena program tersebut berjalan dengan baik, harga cabai rawit yang sebelumnya Rp100 ribu perkilogram saat ini menjadi Rp40-50 ribu per kilogram.

Untuk itu dia mengimbau kepada petani agar terus menanam komoditas strategis tersebut, karena akan selalu terserap pasar.

Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh Deputi Direktur Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan BI Sulut, Buwono Budisantoso, Asisten Direktur BI Sulut, Gunawan, Kepala Biro Perekonomian dan ESDM Pemprov Sulut, Franky Manumpil, Kepala Dispertanak Manado, Kepala Dispertanak Manado Philips B Sondakh, perwakilan Bulog dan Kelompok Tani Mapalus.(hilda)

banner 300x250